Pengumuman Penerimaan CPSN 2019
sucofindo
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
peresmian gedung radiosiotop
korupsi
kedelai
Radiofarmaka

Lahir di Ullath, Saparua, Maluku Tengah pada 19 Agustus 1914, Siwabessy berhasil menyelesaikan pendidikannya di MULO di kota Ambon pada 1931. Kemudian Siwabessy menerima beasiswa untuk meneruskan pendidikan kedokteran ke NIAS, Surabaya.

Menjelang kedatangan Jepang, Siwabessy bekerja sebagai dokter di pusat pengeboran perusahaan minyak Belanda BPM di Cepu, Jawa Tengah. Kemudian di zaman Jepang memimpin bagian Radiologi dan Bagian Paru-paru Rumah Sakit Simpang, Surabaya.

Setelah kemerdekaan RI, Siwabessy makin giat lagi dalam kegiatan organisasi kebangsaan dan di tahun-tahun inilah ia dipertemukan dengan banyak tokoh penting nasional.

Di tahun 1949, Siwabessy melanjutkan pendidikan di bidang radiologi setelah sebelumnya mendapat brevet sebagai ahli radiologi. Siwabessy berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi lanjutan di London. Hal-hal pokok yang dipelajari mencakup radiologi, radioterapi, dan pengetahuan dasar bidang atom.

Saat memperdalam bidang radiologi itu, Siwabessy banyak berkenalan dengan para ahli atom dari bidang terkait, seperti fisika nuklir, kimia, biologi, fisika-radiasi, kimia-radiasi, biologi radiasi, dan radioterapi. Selain itu Siwabessy juga melihat bahwa pengobatan kanker di London sudah banyak menggunakan hasil penemuan dan penyinaran atom. Hal-hal inilah banyak memberi wawasan baru yang kelak kemudian hari diterapkan di Indonesia.

Di era 1950an Amerika Serikat meledakkan bom hidrogen di kawasan Pasifik. Khawatir terhadap dampak percobaan bom nuklir tersebut bagi Indonesia, Presiden Soekarno menunjuk Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan yang dipimpin oleh Siwabessy untuk mengatasi masalah ini. Pada 1954, dibentuklah Panitia Penyelidikan Radioaktivitas dan Tenaga Atom yang diketuai Siwabessy.

Pada 1958 itu juga Siwabessy membentuk Lembaga Tenaga Atom yang berada di bawah Sekretariat  Negara dan Siwabessy sebagai direkturnya. Selain itu negara juga memandang perlu agar didirikan fakultas yang mempelajari ilmu dasar di bidang fisika, kimia dan matematika untuk menghasilkan tenaga ahli. Lagi-lagi Siwabessy ditunjuk pemerintah untuk mewujudkannya. Sebagai pendiri Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia, Siwabessy ditunjuk sebagai Dekan FIPIA UI pertama (1963-1965).

Tahun 1964 Presiden Soekarno meresmikan berdirinya Badan Tenaga Atom Nasional dengan Siwabessy sebagai Direktur jenderal BATAN pertama. Pada 1965 ia diangkat sebagai Menteri Badan Tenaga Atom Nasional.

Atas  jasa-jasanya yang sangat besar dalam memajukan tenaga atom di Indonesia, seperti membangun reaktor nuklir dan banyak penelitian penting lainnya, Siwabessy yang adalah juga Bapak Atom Indonesia, menerima Bintang Mahaputera III  pada 1976. Siwabessy meninggal pada 11 November 1982 di Jakarta.