WBK

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Portal SIMLIN

Sistem Informasi Manajemen Litbangyasa Iptek Nuklir, Layanan aplikasi Online untuk pegawai BATAN...

Selengkapnya...

Jurnal Atom Indonesia

WINNERS OF "ATOM INDONESIA BEST PAPER AWARD 2014"

ATOM INDONESIA is one of the most highly reputed scientific journals in Indonesia. It is an open access international peer - reviewed journal...

Selengkapnya...
gedung 90

Gedung Manajemen

Selengkapnya...

(Jakarta, 25/09/2019) Gelaran sidang umum ke-63 Badan Tenaga Atom Internasional / International Atomic Energy Agency (IAEA) pada 16-20 September 2019 telah usai. Pada salah satu side event sidang umum tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyampaikan status pelaksanaan budaya keamanan yang menjadi syarat mutlak setiap institusi yang mengoperasikan fasilitas nuklir.

Secara periodik, BATAN telah melakukan pengukuran terhadap pelaksanaan budaya keamanan sekali dalam dua tahun. Hal ini disampaikan oleh Pakar Kemanan Nuklir, Khairul pada side event sidang umum IAEA ke-63 di Vienna-Austria, Kamis (19/09).

“Status pelaksanaan budaya keamanan BATAN berdasarkan hasil penilaian mandiri berada pada score 5.25 (score 1-7), ini artinya masuk kategori baik,” ujar Khairul.

Penerapan budaya keamanan menurut Khairul merupakan sebuah proses pembelajaran bagi setiap orang khususnya mereka yang terlibat langsung dengan fasiitas nuklir. Untuk itulah pemahaman tentang budaya keamanan harus terus disampaikan kepada seluruh pegawai BATAN agar budaya keamanan nuklir ini terinternalisasi dan meningkatkan score/nilai budaya keamanan nuklir.

Khairul menegaskan, bahwa Indonesia dalam hal ini diwakili BATAN sebagai negara pertama yang melakukan penilaian mandiri budaya keamanan nuklirnya. Tiga poin penting yang menjadi tujuan penilaian mandiri budaya keamanan nuklir yakni untuk meningkatkan kesadaran tentang keamanan nuklir, menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya menerapan pendekatan praktik untuk budaya keamanan nuklir di seluruh dunia, dan memberikan contoh nyata tentang dasar pengembangan dan penggunaan nuklir secara damai.

“Untuk mencapai tujuan itu, upaya yang harus dilakukan adalah menyusun pedoman budaya keamanan dan juga melakukan pelatihan serta internalisasi budaya keamanan di seluruh unit kerja di BATAN,” tambahnya.

Ia berharap, dengan diberikannya kesempatan menyampaikan status penerapan budaya keamanan BATAN di ajang side event sidang umum IAEA ke-63 ini, negara-negara anggota IAEA lainnya mengetahui bahwa Indonesia sudah menerapkan budaya keamanan dan mendapatkan nilai baik. “Pengalaman BATAN dalam menerapkan budaya keamanan ini semoga dapat diterapkan untuk negara-negara anggota IAEA lainnya di tingkat regional maupun internasional,” harapnya. (Pur)