Slide item 1

PKSEN melaksanakan pengkajian, pengembangan teknologi sistem PLTN dan pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkitan listrik, serta studi pemanfaatan thorium sebagai bahan bakar PLTN

Slide item 2

PKSEN melaksanakan tugas manajemen pembangunan PLTN (MPP) anatara lain pengkajian potensi kemampuan industri nasional, alih teknologi PLTN dan manajemen pembangunan PLTN dan kesiapan SDM.

Slide item 3

PKSEN juga bertugas untuk melaksanakan pengembangan perencanaan sistem energi nasional dan kelistrikan khususnya skenario dengan adanya pembangkit PLTN

Slide item 4

PKSEN mempunyai tugas dan fungsi menyiapkan data teknis aspek tapak dan lingkungan calon tapak PLTN yang memadai sebagai bagian dari insentif pemerintah untuk mendukung proses perijinan PLTN

(Serpong, 03/07/2020), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama stakeholder lainnya memulai pekerjaan studi kelayakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Hal ini disampaikan Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan pada Kick Off Meeting Pelaksnaan Prioritas Riset Nasional (PRN) Studi Kelayakan PLTN Skala Komersial di Hotel Grand Zury, BSD Serpong, Kamis (02/07).

Anhar mengatakan, Kick Off Meeting ini dijadikan sebagai koordinasi awal untuk memulai kegiatan studi kelayakan PLTN skala komersial.  Studi kelayakan ini merupakan salah satu tugas yang diberikan pemerintah kepada BATAN sebagai koordinator program prioritas riset nasional di bidang energi. 

“Koordinasi awal dilakukan agar mendapatkan pemahaman yang sama dalam melakukan studi kedepannya. Kajian yang dilakukan oleh BATAN dibantu oleh beberapa instansi ini adalah hanya fase Pra project atau satu fase dari tiga fase pembangunan PLTN," kata Anhar.

Hasil dari kegiatan pada fase ini menurut Anhar, diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan ketika pemerintah akan memutuskan  go nuclear or no go nuclear.

Anhar mempertegas bahwa keputusan membangun PLTN bukan berada di BATAN. BATAN bertanggung jawab dalam melakukan studi dan menyiapkan dokumen yang membantu pemerintah khususnya Presiden ketika nantinya akan memutuskan untuk  membangun PLTN. Jika nantinya PLTN memang akan dibangun bisa dipastikan bahwa dananya tidak berasal dari APBN.

Untuk melaksanakan kegiatan program Prioritas Riset Nasional bidang energi ini BATAN bekerja sama dengan beberapa instansi antara lain Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketengalistrikan dan Energi Baru Terbarukan (P3TEK) Kementerian ESDM, BPPT, dan Universitas Gadja Mada.

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material, BPPT, Eniya Listiani Dewi, melalui video conference mengatakan, BPPT siap membantu BATAN untuk melaksanakan studi kelayakan PLTN Skala Komersial. BPPT memiliki sumber daya manusia yang sudah pernah berkontribusi dalam membangun turbin pembangkit listrik, dengan pengalaman   ini besar harapan BPPT untuk dapat bersinergi dengan BATAN dalam menjalankan prioritas riset nasional.

Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Suparman, menjelaskan bahwa Studi Kelayakan PLTN Skala Ekonomi yang dilaksanakan oleh BATAN dan beberapa co-worker ini nantinya akan menghasilkan dokumen teknis yang nantinya akan menjadi pertimbangan dengan beberapa aspeknya. Studi kelayakan ini akan melingkupi studi tapak maupun non tapak dan ditargetkan akan rampung pada tahun 2021. (SET)