Slide item 1

Logam Tanah Jarang Harta Terpendam di Bangka Belitung

Hasil evaluasi terhadap aspek calon tapak PLTN merekomendasikan bisa dibangun 6 unit di Bangka Barat dan 4 unit di Bangka Selatan .....

Selengkapnya...
Slide item 2

Diskusi Ilmiah Tentang Keterdapatan U dan Th di Daerah Mamuju Sulawesi Barat

PPGN melihat Mamuju sebagai suatu kabar yang sangat menggembirakan karena menambah daerah prospek uranium dan thorium yang layak untuk dikembangkan .....

Selengkapnya...
Slide item 3

Diskusi Tektonik dan Mineralisasi U di Kalan

Diskusi ini selain bertujuan untuk membahas beberapa isu penting terkait geologi Kalan juga dimaksudkan sebagai bagian dari proses knowledge management yang penting bagi organisasi dan bermanfaat untuk para geolog muda .....

Selengkapnya...
Slide item 4

Pengembangan dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) untuk Kemandirian Bangsa

Focus Group Discussion “Pengembangan dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) untuk Kemandirian Bangsa” Kedeputian Relevansi dan Produktivitas Iptek .....

Selengkapnya...

  • (Jakarta, 22/12/2017), Pilot Plant Pemisahan Uranium, Torium, dan Logam Tanah Jarang dari Monasit  dilaunching oleh BATAN di Kawasan Nuklir, Pasar Jumat - Jakarta Selatan, Rabu (20/12). PLUTHO adalah sebuah pilot plant yang didirikan dan didesain oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN), penguasaan teknologi pemisahan uranium, torium dan logam tanah jarang (LTJ) dari monasit yang merupakan hasil samping dari penambangan timah. Penguasaan ini bukan hanya pada teknologi proses pemisahannya, tetapi juga dalam mendesain dan membangun pilot plant. Pilot Plant tersebut diberi nama Pilot Plant Pemisahan Uranium, Torium, dan Logam Tanah Jarang dari Monasit (PLUTHO).

(Jakarta, 03/08/2017) Direktur Nuclear Fuel Cycle and Waste Technology (NEFW) IAEA , Mr. Christophe Xerri, melakukan kunjungan kerja ke Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir PTBGN-BATAN. PTBGN adalah merupakan salah satu unit di lingkungan Badan Tenaga Nukir Nasional di bawah Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir (TEN) dengan tugas pokok melaksanakan perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pelaksanaan, dan pembinaan dan bimbingan di bidang pengembangan teknologi eksplorasi, penambangan dan pengolahan bahan galian nuklir. 

Kunjungan ke PTBGN ini merupakan salah satu rangkaian kunjungan Mr. Christope Xerri ke Indonesia dari tanggal 31 Juli – 4 Agustus 2017. Dalam kunjungan ke Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir ini Direktur Nuclear Fuel Cycle and Waste Technology (NEFW) IAEA disambut oleh Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir, Ir. Agus Sumaryanto. Dalam sambutannya Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir menjelaskan tentang kegiatan eksplorasi dan pengolahan mineral radioaktif di Indonesia dan aktivitas terkini Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir dalam bidang ekplorasi dan pengusaan teknologi pengolahan mineral radioaktif mulai dari pengolahan bijih uranium di Kalan, Kalimantan Barat hingga pengolahan uranium, thorium dan logam tanah jarang dari monasit yang saat ini menjadi program prioritas nasional. Dalam kunjungannya Mr. Christophe Xerri sangat antusias dan menyempatkan diri untuk melihat fasilitas yang dimiliki oleh PTBGN BATAN diataranya Pilot Plant Ekstraksi Uranium dan Thorium. Pilot plant uranium dan thorium (PLUTHO) merupakan fasilitas terbaru yang dimiliki PTBGN. Pilot plant yang telah di komisioning ini melengkapi fasilitas PTBGN, dan menunjukkan kesiapan PTBGN menjadi pusat acuan pengelolaan mineral radioaktif di Asia Tenggara. Dengan kunjungan kerja ini diharapkan dapat memperkuat komunikasi BATAN dan IAEA serta menumbuhkan kepercayaan IAEA terhadap PTBGN pada khususnya dan BATAN pada umumnya dalam hal pengelolaan bahan galian nuklir dan kesiapan teknologi dalam bidang siklus daur bahan bakar nuklir (IGD/GM).

Jakarta (01/02/2017). Eksplorasi dan pengolahan mineral radioaktif di Indonesia telah dilaksanakan oleh BATAN sejak tahun 1960-an. Beberapa lokasi potensial keterdapatan mineral radioaktif di seluruh Indonesia dan teknologi pengolahan mineral tersebut telah dikuasai. Hal ini merupakan keunggulan BATAN dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, sehingga IAEA menjadikan BATAN sebagai tuan rumah fellowship di bidang mineral radioaktif.  Pada tanggal 1 Februari 2017 sampai dengan 28 Februari 2017 bertempat di Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN dilaksanakan program fellowship training yang merupakan program IAEA bekerjasama dengan BATAN.

(Serpong, 19/01/2017) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Komunitas Ilmu Pertahanan Indonesia (KIPI) sepakat melakukan kerja sama menyosialisasikan teknologi nuklir kepada masyarakat. Kesepakatan ini ditandai dengan ditandatanganinya naskah kerja sama oleh kedua belah pihak di Gedung 90, Kawasan Nuklir Serpong, Puspiptek, Tangerang Selatan, Kamis (19/01).

Kerja sama ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kegiatan sosialisasi iptek nuklir kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat luas dengan harapan iptek nuklir tidak hanya dipahami sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) namun juga sangat bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, BATAN adalah lembaga pemerintah yang salah satu tugasnya adalah memberikan rekomendasi kepada pemerintah terkait dengan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia. “Berbicara soal nuklir jangan dilihat dari sisi PLTN saja, melainkan juga menyentuh pertanian, kesehatan, industri, lingkungan dan lain-lain untuk menuju kemandirian bangsa,” ujar Djarot.

(Muntok, 07/09/2016) Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto dan Staf Ahli Kemenristek Dikti, Agus Pudji Dirut Prasetyono, berkunjung ke pilot plant pengolahan logam tanah jarang (LTJ) di Kawasan Industri PT. Timah Tanjung Ular, Muntok, Bangka Barat (07/09). LTJ adalah 17 unsur kimia yang sangat bermanfaat di dunia industri dan mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Meskipun disebut logam tanah jarang, namun LTJ tergolong melimpah di muka bumi ini. Keberadaan LTJ sering menyatu dengan mineral monasit yang merupakan sisa-sisa penambangan timah dan banyak ditemui di Bangka Belitung.