Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 16/11/21). Muh. Suhalmin Sriwa, mahasiswa Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) asal Sulawesi Selatan angkatan 2019 berhasil menjadi bagian dari 30 finalis lomba esai Nuclear Safety Essay Competition for Students and Early Career Professionals yang diundang untuk menghadiri konferensi International Atomic Energy Agency (IAEA) di Vienna, Austria. Terpilih dari 250 pendaftar yang berasal dari 60 negara, tentu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Suhalmin. Konferensi dilaksanakan dari tanggal 8 – 12 November 2021 dengan tema "The International Conference on a Decade of Progress after Fukushima-Daiichi: Building on the Lessons Learned to Further Strengthen Nuclear Safety".

Menjadi mahasiswa penerima beasiswa unggulan Kemdikbud, bagi Suhalmin, merupakan sebuah lecutan untuk terus berusaha menunjukkan prestasinya. Suhalmin mengungkapkan betapa bersyukurnya dirinya mendapat kesempatan bisa bertemu dengan banyak expert scientics dibidang nuklir dari berbagai belahan dunia, yang hal tersebut menjadi pengalaman berharga dalam menambah pengetahuan dan wawasan baru terkait dengan perkembangan teknologi nuklir yang pesat, khususnya Jepang.

Suhalmin menceritakan awal mula bagaimana dirinya tertarik untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. “Awalnya saya mengetahui informasi kompetisi esai tersebut dari story pak Edy Giri (Edy Giri Rachman Putra, Ph. D), Plt. Deputi SDM Iptek BRIN. Saya sangat tertarik karena yang menjadi pemenang akan diundang dan diberi dana untuk menghadiri konferensi IAEA di Vienna Austria,” ungkapnya. Setelah mencari berbagai informasi tentang kegiatan tersebut, Suhalmin tertarik membahas tema "What are the greatest impediments to increasing awareness and interest among the youth about opportunities in the nuclear industry, and what can be done to support the development of the next generation of nuclear experts?", yaitu tentang hambatan terbesar untuk meningkatkan kesadaran dan minat di kalangan pemuda serta apa yang dapat dilakukan untuk mendukung pengembangan generasi ahli nuklir berikutnya.

Setelah melakukan konsultasi dengan dosen wali dan juga pertimbangan dosen lainnya, Suhalmin memilih judul esai "Social Concepts of Directly Applying the Benefits of Nuclear Technology to the Public to Eliminate Nuclear Stamps as Weapons of Destruction (Bombs or Radiation Hazards) Among Youth" yaitu sejarah awal kehadiran teknologi nuklir yang dikenal paling tragedi kemanusiaan yang mengerikan. Sejarah awal kehadiran teknologi nuklir, terbayangkan dua bom nuklir dijatuhkan oleh Amerika Serikat yang meledak masing-masing di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 yang menewaskan ratusan ribu nyawa manusia tak berdosa. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki adalah catatan sejarah kelam umat manusia terkait kehadiran teknologi nuklir. Bisa dikatakan bahwa perkembangan teknologi nuklir memiliki cacat bawaan karena pernah digunakan untuk perang, dan menjadi tragedi kemanusiaan yang paling mengerikan terkait dengan kehadiran teknologi nuklir.

“Oleh karena itu, belajar dari sejarah yang ada, untuk membumikan nuklir di dunia, khususnya Indonesia, kita harus mengubah paradigma secara umum pada masyarakat agar tidak anti teknologi nuklir dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang pemanfaatan teknologi nuklir, pengelolaan keamanan teknologi nuklir dan keamanan dengan standar yang semakin tinggi,” ungkap Suhalmin lebih lanjut. Di Indonesia, kendala dalam membumikan nuklir teknologi adalah masyarakat sendiri yang menolak atau anti nuklir karena menganggap nuklir sesuatu yang sangat berbahaya tanpa memiliki keuntungan apapun yang bisa didapatkan dalam kehidupan sehari-hari, padahal banyak keuntungan dari teknologi nuklir sebagai sesuatu yang berguna untuk memajukan kesejahteraan umat manusia di masa depan.

“Terima kasih atas pengalaman yang berharga ini. Dinginnya musim gugur di Wina dibuat hangat oleh sambutan Pak Dimas (Dimas Irawan, M.Si) selaku Atase Ilmu Pengetahuan KBRI/PTRI Wina serta para Ilmuwan Nuklir dari Indonesia dengan keramahan dan kebaikan yang telah diberikan,” tutupnya.  Di akhir cerita, Suhalmin menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun karena sangat berguna untuk bekal ilmu bagi mahasiswa nuklir dengan materi-materi yang lebih baik. (tek/shm)