Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(Yogyakarta, 1/11/21). Terhitung sejak tanggal 1 November 2021, Dr. Muhtadan, M. Eng diangkat sebagai pelaksana tugas (Plt) Direktur Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir). Berada di Jl. Babarsari Yogyakarta, Poltek Nuklir di bawah kelembagaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merupakan perubahan dari Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN). Perubahan bentuk dari STTN menjadi Poltek Nuklir diresmikan oleh Kepala BRIN, Dr. Laksana Tri Handoko, M. Sc pada hari Sabtu, 30 Oktober 2021.

Muhtadan menyampaikan bahwa perubahan bentuk STTN menjadi Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia merupakan momentum baru sebagai perguruan tinggi vokasi dalam bidang teknologi nuklir. “Kedepan Poltek Nuklir akan semakin fokus dalam mencetak SDM iptek nuklir yang memiliki kompetensi spesifik serta kompetitif dengan beberapa langkah strategis untuk mencapai target tersebut,” ungkapnya.

Beberapa langkah strategis tersebut adalah meningkatkan implementasi sistem penjaminan mutu yang melampaui Standar Nasional Dikti, pengelolaan berbasis IT, peningkatan kualitas Dosen, serta output penelitian Dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan nilai akreditasi. Selain itu, promosi dan sosialisasi ke sekolah terus ditingkatkan untuk mendongkrak animo pendaftar dengan menawarkan fasilitas bebas uang kuliah serta kesempatan beasiswa studi lanjut hingga S3 bagi lulusan Poltek Nuklir. Langkah strategis ini juga telah didukung oleh BRIN, sehingga diharapkan implementasi langkah-langkah strategis ini nantinya mampu memberikan pencapaian target secara optimal.

Sementara itu LT Handoko menyampaikan, perubahan bentuk kelembagaan merupakan milestone ke-3 bagi pendidikan vokasi yang berdiri sejak 1985 dan berubah menjadi STTN pada 2001. Dengan transformasi ini, diharapkan Poltek Nuklir menjadi pusat pendidikan vokasi terkait teknologi nuklir tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di regional. Oleh karena itu, BRIN bersama segenap pimpinan di Poltek Nuklir  mencanangkan 4 target, yaitu (1) peningkatan status akreditasi menjadi A dari akreditasi B saat ini, (2) penambahan kapasitas menjadi 1.000 mahasiswa dari 400 mahasiswa, (3) penambahan jumlah prodi yang mengikuti perubahan/kebutuhan zaman serta menyelenggarakan S2 dan S3 Terapan, serta (4) peningkatan kualitas melalui penguatan global engagement dengan pendidikan tinggi dan institusi riset sejenis di Luar Negeri.

Lebih lanjut Handoko menjelaskan, bahwa untuk mencapai target tersebut BRIN akan mendukung secara total melalui beberapa kebijakan konkrit antara lain: pembebasan biaya masuk dan UKT bagi seluruh mahasiswa Poltek Nuklir mulai semester depan, penyediaan asrama bagi mahasiswa pada tahun pertama dan kedua, revitalisasi dan integrasi infrastruktur serta program pendidikan dan riset dengan BRIN Babarsari, peningkatan kuantitas, dan kualitas dosen dengan percepatan peningkatan kualifikasi melalui S2/S3 by-research, peningkatan mobilitas SDM antara Poltek dan BRIN dalam bentuk sebagai reserch assistantship di BRIN Babarsari dan fasilitas nuklir lain; mobilisasi periset BRIN menjadi dosen di Poltek; mobilisasi pensiunan menjadi Dosen, dan seluruh dosen maupun mahasiswa wajib menguasai bahasa Inggris secara aktif.

“Itu sebabnya dari awal, dengan uang masuk dan kuliah yang digratiskan, dan harus bekerja bersama dengan periset, harapannya mahasiswa mempunyai feeling bagaimana menghandel nuklir dengan baik, sehingga menghasilkan lulusan Poltek Nuklir yang solid dan menjadi lulusan terbaik dalam bidang tertentu,” ungkap Handoko lebih lanjut. (tek/rtm)