Slide item 1

Faktor keselamatan terhadap para pekerjanya selalu menjadi prioritas utama sehingga setiap pekerja wajib menggunakan dosimeter film atau dosimeter termoluminisensi (TLD) saat bertugas

Slide item 2

Faktor manusia serta budaya keamanan adalah faktor yang sangat penting dalam menjamin keamanan di fasilitas, infrastruktur, transportasi bahan nuklir dan keselamatan personil itu sendiri.

(Bandung, 22/07/2016). Salah satu fokus kegiatan BATAN dalam bidang kesehatan adalah mengembangkan produksi radiofarmaka diagnostik dan terapi tersertifikasi, yang akan mendukung perkembangan kedokteran nuklir diagnostik dan terapi di Indonesia. Kegiatan ini membutuhkan pengkajian internal dosimetri radiofarmaka sejak tahap studi praklinis sampai dengan uji klinis sebagai salah satu faktor keselamatan yang mendukung produksi radiofarmaka sampai dengan tahap sertifikasi, sehingga hasil –hasil kegiatan BATAN dalam bidang kesehatan ini merupakan hasil penelitian yang aman, teruji  dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, sebagai wujud pelaksanaan kegiatan pemanfaatan iptek nuklir dalam bidang kesehatan dan menerapkan aspek keselamatan dalam pemanfaatannya, PTKMR BATAN bekerja sama dengan PSTNT BATAN pada hari Jum’at 22 Juli 2016 bertempat di Aula Emas PSTNT BATAN Bandung menyelenggarakan FGD Dosimetri Radiofarmaka Medik untuk mendukung perkembangan litbang dan aplikasi radiofarmaka dan kedokteran nuklir di Indonesia.

(Jakarta, 26/01/2016) Sebagai salah satu unit kerja yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan penelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi keselamatan maka seluruh karyawan PTKMR harus menerapkan sistem dan budaya keselamatan dalam setiap aktivitasnya.

Jakarta (16/12/2015) Untuk menguji sejauh mana kesiapan dan kemampuan dalam menanggulangi kedaruratan radiologik di PTKMR, maka sesuai dengan Peraturan Kepala BAPETEN nomor 01 Tahun 2010 pasal 26 ayat 1 , pemegang izin ( dalam hal ini Kepala PTKMR-BATAN ) harus melaksanakan pelatihan dan/atau gladi kedaruratan nuklir di fasilitas atau instalasi paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun.

Yogyakarta (4/11/2015)- Peduli dengan potensi efek radiasi yang berbahaya bagi generasi sekarang dan masa depan , Sidang Majelis Umum PBB melalui resolusi 913 (X) yang ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1955 membentuk Komite Ilmiah PBB tentang Efek Radiasi Atom (UNSCEAR, United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation). Mandat Komite adalah untuk melakukan evaluasi secara berkala terhadap tingkat pajanan dari semua sumber radiasi pengion, baik yang alami maupun buatan manusia, dan efeknya pada kesehatan dan lingkungan. Pada laporan yang disampaikan ke Sidang Majelis Umum PBB tahun 2010, UNSCEAR menyatakan bahwa lebih dari 80% penerimaan dosis populasi dunia dari paparan radiasi buatan berasal dari aplikasi radiasi di bidang medik, terutama diagnostik fluoroskopi dan intervensional. Penyebab utama dari besarnya kontribusi ini adalah meningkatnya pemeriksaan yang melibatkan penyinaran radiasi yang dilakukan di bidang medik. UNSCEAR memperkirakan jumlah total pemeriksaan radiologik medik selama 1991-1996 sekitar 1.900 juta, atau sekitar 330 pemeriksaan untuk setiap 1000 penduduk di seluruh dunia, sementara pada kurun waktu 1985-1990, jumlah total hanya sekitar 1.600 juta atau 300 per 1.000 penduduk.

Pada hari Senin, 5 Oktober 2015 PTKMR mengadakan in house training Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan bertempat di Gedung B lantai 3 yang diikuti perwakilan bidang-bidang di PTKMR. Acara dibuka oleh Kabag TU Drs. Nazar W. Iskandarmouda, mewakili Kepala PTKMR yang berhalangan hadir. Materi yang diberikan dalam acara tersebut adalah Penanganan Serangan Jantung Koroner dan Stroke; Bantuan Hidup Dasar; Pertolongan Pertama pada Luka Bakar dan Perdarahan; dan Pertolongan Pertama pada Cedera Tulang dan Otot beserta praktikumnya yang dibawakan oleh para dokter dan difasilitasi tenaga kesehatan dari PTKMR. Materi diberikan dalam bentuk presentasi yang disertai tanya-jawab.