Slide item 12
korupsi

Korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa yang menjadi penghambat utama tercapainya tujuan pembangunan Nasional. Upaya untuk mensinergikan kegiatan pencegahan korupsi, pelaksanaan reformasi birokrasi, dan peningkatan kualitas pelayanan publik, maka PSTNT menetapkan kebijakan pembangunan Zona Integritas (ZI) dengan mambangun Wilayah Bebas dari Korupsi

reaktor kartini menuju era kemandirian

REAKTOR NUKLIR BANDUNG
Menuju era kemandirian  teknologi nuklir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat"

Peresmian

Pada tanggal 24 Juni 2000 Megawati Soekarno Putri meresmikan pengoperasikan "Reaktor TRIGA 2000" di Kawasan nuklir Bandung

analisis

Peran Teknis Analisis Nuklir dalam pemantauan kualitas udara di Indonesia

Litbang

Litbang sediaan radioisotop pemancar sinar beta untuk diaplikasikan di bidang kesehatan sebagai prekursor dalam pembuatan radiofarmaka

srikandi

Setelah 52 tahun, ternyata ada wanita-wanita muda yang berprofesi sebagai operator Reaktor Nuklir di Reaktor TRIGA 2000. Mereka lah para penerus cita2 Kartini... Selamat Hari Kartini, 21 April 2017.

(Bandung, 14/12/2020) Komisi VII DPR RI tertarik membahas pemanfaatan teknologi nuklir untuk lingkungan pada kunjungan kerjanya di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Jl. Tamansari, Bandung, Senin (14/12). Dengan menggunakan analisis teknik nuklir, kandungan polutan udara dapat dideteksi secara detail hingga ukuran 2,5 mikro atau sering disebut dengan istilah PM 2,5.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antatiksawan dalam sambutan penerimaan kunjungan kerja 11 anggota Komisi VII DPR RI, mengatakan, PSTNT menjadi tempat dimulai sejarah nuklir di indonesia. Pada tahun 1961, Presiden RI pertama, Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan reaktor nuklir.

Mengutip Pidato Soekarno, Anhar menjelaskan bahwa masyatakat adil dan makmur dapat diselenggarakan dengan bantuan atomic energy. "Ini merupakan cita-cita besar bangsa Indonesia," kata Anhar.

Pemanfaatan reaktor nuklir ini menurut Anhar sangat banyak, baik di bidang pertanian, industri, kesehatan, dan lingkungan. Salah satu kegiatan penelitian yang sangat bermanfaat bagi lingkungan yang dilakukan PSTN adalah analisis teknik nuklir untuk mendeteksi polutan udara.

(Bandung, 24/09/2020) Sehubungan dengan meningkatnya kasus Covid-19 di wilayah domisili Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan Badan Tenaga Nuklir Nasional (PSTNT-BATAN) yaitu Kecamatan Coblong Kota Bandung, Per Senin (21/9/2020), jumlah akumulatif kasus positif virus corona atau Covid-19 di Kota Bandung mencapai 1.112 kasus, atau bertambah 14 kasus positif baru dibandingkan jumlah yang tercatat sehari sebelumnya. Lonjakan terjadi di jumlah kasus sembuh yang tercatat mencapai 878 kasus, atau bertambah 32 kasus dibandingkan data sehari sebelumnya.

Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 PSTNT mengajukan permohonan pemeriksaan screening PCR Covid-19 untuk seluruh pegawai kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Pihak Dinas Kesehatan menyetujui dan menurunkan tim dari Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Barat (Labkesda Jabar) ke PSTNT.

(Bandung, 19/08/2020) Berdasarkan hasil penilaian kinerja penyelenggaraan pelayanan publik BATAN oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN-RB), capaian Indeks Penyelenggaraan Pelayanan Publik BATAN melalui pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR)-BATAN pada tahun 2019 adalah 4,08 (A minus) dengan predikat sebagai “Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik Kategori SANGAT BAIK pada Tahun 2019”.

Indeks tersebut harus dapat dipertahankan dan/atau ditingkatkan selanjutnya oleh Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT)-BATAN yang ditunjuk sebagai fokus untuk penilaian kinerja pelayanan publik BATAN pada tahun 2020 berdasarkan surat penunjukkan melalui Nota Dinas Ketua Tim Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik – Reformasi Birokrasi BATAN No.86/DE.1/OT 02 01/07/2020, tanggal 15 Juli 2020, hal Evaluasi Kinerja Unit Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

(Bandung, 23/08/2020) Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) melakukan penyempurnaan kajian strategis tentang kesiapan TNI dalam menghadapi bahaya Nubika terkait studi kasus pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Direktur Pengkajian Doktrin, Operasi dan Latihan, Pusat Pengkajian Strategis (Pusjianstra) TNI,Kolonel Nav Dr. Triswan Larosa, pada kunjungannya ke PSTNT, Selasa (18/08).

Kepala Bidang Keselamatan Kerja dan Keteknikan PSTNT, Rudi Gunawan mengatakan, PSTNT menyambut baik upaya TNI dalam melibatkan BATAN sebagai mitranya untuk penyempurnaan kajian terkait pengembangan dan penyebaran senjata pemusnah massal dalam bentuk nuklir, biologi dan kimia (Nubika). “Pada dasarnya, kami sudah berkoordinasi dengan beberapa instansi, diantaranya Satuan Gegana Korps Brimob POLRI, TNI AU, dan TNI AD," kata Rudi Gunawan.

"Kami juga akan menyiapkan kader-kader terbaik kami di PSTNT. Ini akan menjadi moment yang baik untuk memformulasikan atas kejadian yang terjadi di luar, karena mungkin juga akan terjadi di Indonesia,” tambahnya.

(Bandung, 07/08/2020) Badan Tenaga Atom Internasional / International Atomic Energy Agency (IAEA) melakukan inspeksi rutin ke Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) di Bandung, Jumat (07/08). Kegiatan inspeksi atau Physical Inventory Verification (PIV) merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk mengetahui akutansi bahan nuklir yang ada di PSTNT.

Kepala Bidang Reaktor PSTNT, A. R. Iso Suwarso mengatakan, kegiatan PIV untuk mengetahui pengelolaan dan pemanfaatan bahan nuklir di Indonesia. “Kegiatan PIV ini sebagai bentuk komitmen BATAN dalam pengelolaan dan pemanfaatan bahan nuklir karena Indonesia telah menandatangi perjanjian NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty), dimana nuklir di Indonesia ini digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk pembuatan senjata nuklir atau hal yang merusak orang banyak,”, jelas Iso Suwarso.

Secara rutin, kegiatan PIV ini diadakan setiap 4 tahun sekali sedangkan inspeksi bahan nuklir yang dilakukan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dilakukan 2 kali dalam setahun untuk memastikan neraca bahan nuklir yang ada di fasilitas PSTNT. Setiap kegiatan yang terkait bahan nuklir harus tertelusur baik secara administrasi maupun secara fisiknya di lapangan.