Profil-PSTA

Profil-PSTA

Sesuai dengan Peraturan Kepala BATAN No.:14/th 2013 Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan (PTAPB) berganti nama menjadi Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA)

Selengkapnya...
Proses pemisahan Zr-Hf menjadi ZrO

Proses pemisahan Zr-Hf menjadi ZrO(SO4)2 menggunakan mesin Module Continoud Annular Chromatography

<
Fasilitas utama yang tersedia untuk melaksanakan litbang di PSTA

Fasilitas utama yang tersedia untuk melaksanakan litbang di PSTA

Fasilitas utama yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan litbang antara lain

Selengkapnya...
Sejarah Reaktor Kartini - Yogyakarta

Sejarah Reaktor Kartini - Yogyakarta

Reaktor Kartini dibangun mulai akhir 1974 dan beroperasi pada januari 1979, salah satu fasilitas yang dimilki pusat penelitian bahan murni dan instrumentasi (ppbmi) – batan yogyakarta

Selengkapnya...

Yogyakarta (19/03/2018) – Puradwi dan Susilo Widodo melangsungkan upacara serah terima jabatan Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator BATAN Yogyakarta. Acara berlangsung di auditorium kantor PSTA BATAN, Jumat (16/3/2018).

Ir. Puradwi Ismu Wahyono, DEA menggantikan Dr. Susilo Widodo yang selesai masa jabatannya dan kembali memasuki jalur fungsional peneliti. Puradwi semula menjabat sebagai Kepala Bidang Fisika Partikel. Sedangkan Susilo saat ini menjadi peneliti utama bidang fisika.

Dalam sambutannya Susilo mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua karyawan di lingkungan PSTA. “Selanjutnya saya akan tetap mengabdi di kantor PSTA dan siap menerima bimbingan dari Kapus (Kepala Pusat) yang baru,” kata Susilo. Kepada pejabat yang hadir, Susilo juga menyatakan permohonan maaf atas tindak tanduk, tutur kata, dan tutur tulis dalam melaksanakan tugas.

(Yogyakarta, 02/03/2018) – 39 tahun silam, tepatnya tanggal 25 Januari 1979 pukul 17.40 reaktor nuklir kedua Indonesia yaitu reaktor Kartini Yogyakarta berhasil mencapai kekritisan. Kekritisan bukan berarti gawat darurat, melainkan kondisi dimana reaksi inti berantai terjadi secara terus-menerus. Selanjutnya 1 Maret 1979 Presiden RI Suharto meresmikan pengoperasian reaktor ini dan memberikan nama Reaktor Kartini, untuk mengenang jasa pahlawan wanita R.A. Kartini.

Reaktor Kartini yang jaraknya sekitar 30 Km dari puncak gunung Merapi telah beroperasi mengemban tugas selama 39 tahun dalam keadaan baik dan aman. Peringatan hari ulang tahun reaktor Kartini dirayakan dengan mendengarkan paparan dari para pemegang ijin operasi reaktor nuklir seperti reaktor Bandung, Jogja, dan Serpong. Disela acara HUT juga dilakukan acara Pemusnahan Arsip.

Yogyakarta (26/01/2018) – Direktur Jenderal IAEA (International Atomic Energy Agency), Yukiya Amano dalam waktu dekat ini akan melakukan kunjungan kerja ke Indonesia. Menurut jadwal, kunjungan akan dilaksanakan pada tanggal 5 hingga 7 Februari 2018 mendatang. Dalam kunjungan nanti, petinggi Badan Tenaga Atom Internasional tersebut direncanakan akan bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo dan sejumlah pejabat negara dari Kemenlu, Kemenristek Dikti, Kementerian Kelautan dan Perikanan, BATAN, dan Bapeten.

Rapat koordinasi antara BATAN dan Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) hari ini di kantor Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA), jalan Babarsari, Yogyakarta, salah satunya membahas tentang kunjungan Amano. Hal lain yang juga dibahas pada rakor ini adalah tentang perbaikan UU No 10 tahun 1997 tentang ketenaganukliran dan pembahasan tentang regulasi seperti perijinan dan lain-lain.

(Yogyakarta, 17/01/2018) – Disela kesibukannya usai memimpin rapat koordinasi tingkat sekretariat utama, Sestama BATAN, Ir. Falconi Margono, MM menyempatkan untuk melantik 8 orang pejabat fungsional Pranata Nuklir di lingkungan Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN, Yogyakarta. (Rabu, 17/01/2018).

Menurut Falconi, sesuai dengan PP 11 tahun 2017 berkaitan dengan ASN (Aparat Sipil Negara), bahwa pejabat fungsional harus mengambil sumpah, tidak hanya struktural. “Berbeda dengan jabatan struktural yang punya kebijakan, pejabat fungsional punya kewenangan mengembangkan tenaga nuklir untuk memajukan bangsa dan negara”, tegas Falconi.

Yogyakarta (29/11/2017) – Di depan sekitar 200 peserta Seminar Nasional Iptek Nuklir Dasar dan Terapan, Kepala BATAN, Prof. Dr. Djarot S Wisnubroto mengatakan bahwa penyelenggaraan seminar nasional kedepannya harus berubah. Dalam arti makalah peserta seminar minimal 30 persen harus dari luar BATAN. “Kemitraan dengan luar BATAN harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas ilmiah kenukliran dan sekaligus sosialisasi, serta meyakinkan pemangku kepentingan,” kata Djarot. Hal itu disampaikan Djarot selaku keynote speaker pada pembukaan Seminar Nasional Iptek Nuklir Dasar dan Terapan 2017 di Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN Yogyakarta (28/11/2017). Makalah yang disampaikan berjudul Clearing House dan Masa Depan BATAN Yogyakarta.

Yudho Baskoro Muriadi, M.Si., MPP dari Kementerian Ristekdikti selaku keynote speaker menyampaikan makalah Menuju Lembaga Litbang Unggul, Inovatif, dan Berdaya Saing. “Untuk menjadi lembaga litbang unggul, harus menggunakan pendekatan kelembagaan, tidak boleh individu, tidak boleh berbasis pada project, demikian Yudho menegaskan. Lebih lanjut dikatakan bahwa semua komponen lembaga harus terlibat, harus saling bersinergi. Seluruh komponen itu harus menjaga konsistensi dan komitmen.