HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Bandung, 30 Juli 2015). Berlangsung di ruang Sidang Promosi Doktor Universitas Padjajaran Bandung pada hari Kamis 30 Juli 2015, Dr. Ania Citraresmini, MP berhasil mempertahankan disertasinya berjudul: “Pemulihan Kesehatan Tanah, Peningkatan Efisiensi Pemupukan (P, K) dan Hasil Padi Berbasis IPAT-BO Akibat Pemberian Pupuk Biofossi dan Kompos Jerami-Biochor” dengan predikat Cum Laude dan IPK 4,0. Dalam presentasinya, dikatakan bahwa kualitas tanah berkaitan erat dengan kesehatan tanah, bahkan seringkali dikatakan bahwa tanah yang sehat adalah tanah yang memiliki kualitas baik dengan kondisi sesuai dengan lingkungan alami, dicirikan oleh ekosistem tanah yang seimbang, aktivitas mikroorganisme yang tinggi, mikroorganisme patogen yang rendah dan berlangsungnya siklus unsur hara secara berkelanjutan. Kondisi-kondisi tersebut hanya dapat didukung oleh ketersediaan bahan organik tanah dalam jumlah yang memadai. Permasalahan pada tanah sawah di Indonesia selain kandungan bahan organik yang rendah, juga masalah ketidaktersediaan hara P dan K dan produktivitas tanaman yang semakin menurun akibat kondisi kesehatan tanah yang tidak mendukung.

Musi Rawas (Minggu, 2/8) Bupati Musi Rawas, diwakili Asisten II Sekda Musi Rawas, Syaiful Ibna, SE, M.Si didampingi oleh Deputi Kepala BATAN Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN), Dr. Ferhat Aziz, M.Sc melakukan panen pertama 10 varietas padi hasil penelitian dan pengembangan BATAN  tanggal 2 Agustus 2015. Kegiatan ini dipusatkan di Desa L, Sidoararjo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas. Pada bulan Mei  2015, 10 varietas padi BATAN yakni : Sidenuk, Merauke, Mugibat, Woyla, Diah Suci, Bestari, Unsrat I, Unsrat II, Mira dan Cilosari ditanam di Musi Rawas dan kegiatan ini menjadi perhatian petani dan Pemkab Musi Rawas. Kepala BAPPEDA Musi Rawas, Ir. Suharto Patih  dalam sambutan pembukaan mengatakan “Sebagai bentuk bersyukur kami menjadi salah satu dari tiga Kabupaten yang dipilih BATAN untuk mengembangkan 10 varietas padi unggul ini”. Alhamdulillah meski sempat diserang hama, namun masih bisa panen dengan hasil 8-9 ton/hektare tambahnya.

Yogyakarta (30 Juli 2015) Kegiatan Perencanaan Agro Techno Park (ATP) 2016 diselenggarakan di Auditorium STTN Yogyakarta tanggal 27-28 Juli 2015 dalam rangka kontinuitas kegiatan ATP tahun 2016. Acara dibuka oleh Kepala BATAN  dihadiri oleh 62 orang dari 3 Kabupaten mitra ATP (Kabupaten Klaten, Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Musi Rawas). Dalam sambutannya Ka BATAN Djarot menegaskan Program ATP ini tidak boleh gagal dan harus berhasil walaupun SDM peneliti di BATAN terbatas, namun jalinan kerjasama dengan penyuluh, penangkar & petani dioptimalkan guna hasil lebih baik sehingga tercapai target yang diharapkan.

(Jakarta, 09/07/15). Indonesia sering mengalami kesulitan mengekspor produk pangan seperti sayuran dan buah-buahan, dikarenakan produk tersebut begitu sampai di negara tujuan berkualitas rendah bahkan sudah membusuk.

Untuk menjaga kualitas produk, negara-negara di Eropa dan Timur Tengah misalnya mensyaratkan produk yang masuk ke negaranya harus diiradiasi terlebih dahulu agar memiliki kualitas yang dipersyaratkan.

“Problem eksportir adalah begitu sampai ke Timur Tengah sayuran kita sudah tidak bagus. Dari sayuran segar, biasanya 60%nya hilang (membusuk) pasca panen,” jelas Deputi BATAN bidang Pedayagunaan Teknologi Nuklir, Anhar Riza Antariksawan saat konferensi pers di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, Jakarta.

Sementara, Indonesia hanya mempunyai dua fasilitas irradiator gamma, satu milik BATAN untuk kegiatan riset, dan satu lagi milik PT. Relion Sterilization Services untuk kegiatan komersial yang berlokasi di Cibitung, Jawa Barat. Produk yang akan diiradasi sampai harus mengantri di PT. Relion, sedangkan di BATAN sendiri hanya bisa melayani terbatas karena irradiator sebagian juga digunakan untuk kegiatan riset.

(Jakarta, 02/07/15). BATAN meluncurkan 2 varietas varu kedelai hitam yang diberi nama Mutiara 2 dan Mutiara 3.  Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan kedua varietas ini memiliki potensi hasil 3 ton per hektare dengan rata-rata hasil 2,4 ton per hektar, tahan hama dan lezat untuk dijadikan kecap.

Secara nasional rata-rata kedelai (biasa) produkt‎ivitasnya hanya 1,4 ton per hektar.

Tujuan dihasilkannya varietas-varietas unggul menurut Djarot, guna membenahi persoalan kurangnya pasokan kacang kedelai di dalam negeri. Sebab, kebutuhan kedelai nasional hingga saat ini 70%-nya masih ditutupi lewat jalan impor.

Namun persoalannya bukan cuma sekedar benih. Meski kebutuhan sudah mendesak untuk meningkatkan produksi, di tingkat petani, menanam kedelai sama sekali tidak menggiurkan. Makanya, keuntungan di tingkat penanam perlu juga dinaikkan.

“Sekarang dicitrakan lebih baik tanam padi ketimbang kedelai. Kalau sudah begitu, lebih baik impor,” ucap Djarot saat konferensi pers di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Jakarta.