Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 13/04/2015); Bertempat di ruang Madya PAIR telah diselenggarakan RTC on Data Management, Analysis and Interpretation for Assessing Human Milk Intake. RTC ini merupakan bentuk kerjasama antara IAEA, BATAN dan PTTKEK. Berlangsung selama 5 hari, dari tanggal 13 sampai 17 april 2015 dan dihadiri oleh 19 peserta dari 10 negara yaitu Bangladesh, India, Lebanon, Malaysia, Mongolia, Pakistan, Thailand, Vietnam, Srilanka dan Indonesia.

Hari Jum’at 23 Januari 2015 bisa jadi merupakan hari bersejarah bagi BATAN, khususnya bagi PAIR. Pada hari itu Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA), HE. Dr. Yukiya AMANO berkunjung ke PAIR untuk memberikan pidato dalam rangka pengukuhan penunjukan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre untuk Research and Development and Capacity Building in Nondestructive Dianostics, Testing and Inspection Technologies. Dalam pidatonya, Dr. Amano menyatakan “Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang NDTIT dan (2) kerjasama yang saling menguntungkan antara BATAN dengan IAEA yang sudah berlangsung lama”. Dengan ditetapknya BATAN sebagai collaborating centrenya IAEA, BATAN yang saat ini didukung oleh SDM dengan keahlian yang memadai diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam memberi layanan kepada industri tidak di dalam negeri, tetapi juga untuk kawasan regional bahkan lebih dari itu, demikian lanjutnya.

BATAN telah mengembangkan pemuliaan tanaman gandum sebagai salah satu bahan pangan utama di dunia. Jika biasanya gandum tumbuh di kawasan beriklim dingin, maka BATAN berinovasi dengan gandum tropis dataran rendah. Benih gandum varietas lokal itu dinamai Ganesha-1 dengan potensi produksi mencapai 5,4-6,4 ton/ha. Ganesha-1 berasal dari induk WL-2265 yang diiradiasi sinar gamma dan memiliki ciri tinggi tanaman 72,9 cm dengan umur panen 132 hari. Tanaman ini memiliki kadar protein 15,6%, gluten 35,5% dan resisten penyakit karat. Selain itu adaptif ditanam di dataran tinggi, sekitar 1.000 meter dari muka laut.

Aplikasi teknik nuklir oleh BATAN di bidang pangan mencakup berbagai hal. Mulai dari pemuliaan tanaman, pengendalian hama, pengawetan bahan pangan, efisiensi pemupukan hingga produktivitas peternakan. Tujuannya untuk menjawab tantangan masalah pangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Tidak hanya padi, BATAN juga menelurkan varietas unggul dari tanaman kedelai melalui proses penelitian sejak tahun 1977. Lalu pada tahun 1980, tim pemulia kedelai telah berupaya melakukan perbaikan beberapa sifat kedelai varietas Orba dan Guntur yang populer ketika itu.