HUTRI76
Slide_wbk
Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

Jakarta, (14/10/2021). Bertempat di Aula Pertemuan Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, Jawa Barat, tim peneliti Entomologi dari Pusat Riset dan Teknologi Aplikasi Isotop dan Radiasi (PRTAIR), BRIN melakukan sosialisasi pemanfaatan teknologi radiasi nuklir dalam mengendalikan populasi nyamuk Ae aegypti. Data Kementerian Kesehatan melalui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik menyebutkan bahwa sampai Juli 2021, Kota Bandung masuk sebagai satu dari tiga Kota/Kabupaten di Indonesia dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi, yaitu sebanyak 1.191 kasus, di bawah Depok 1924 kasus dan di atas Karawang 627 kasus.

Sampai saat ini, DBD masih menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat, hal tersebut disebabkan eksistensi terjadinya penyebaran kasus, tingkat keparahan dan kerugian material yang besar. DBD sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Ae aegypti. Pengendalian penyakit DBD hanya dilakukan melalui pengendalian vektor Aedes aegypti. Cara yang paling populer adalah Gerakan 3 M (menguras, menutup dan mengubur), dan terakhir berubah menjadi 3M-Plus (gunakan larvasida, kelambu, kawat kasa, dan obat anti nyamuk). Akan tetapi semua cara ini sudah dianggap tidak efektif dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Teknik Serangga Mandul (TSM) adalah teknik yang digunakan untuk memandulkan nyamuk jantan dengan menggunakan radiasi sinar gamma. Tujuan dari teknik tersebut adalah menurunkan jumlah populasi nyamuk dengan cara menyebarkan nyamuk jantan pada habitatnya. Meskipun terjadi perkawinan antara nyamuk jantan dengan nyamuk betina, namun dari perkawinan tersebut tidak akan terjadi pembuahan. Dengan demikian, jumlah populasi nyamuk semakin lama akan semakin menurun.

Acara sosialisasi TSM Ae. aegypti  ini dihadiri oleh Lurah Sekejati, perwakilan Puskesmas Sekejati, tokoh masyarakat, para jumantik dan warga masyarakat sekitar. Para peserta sangat antusias mengikuti sosialisasi yang disampaikan oleh peneliti Entomologi dari PRTAIR, yaitu Hadian Iman Sasmita dan Beni Ernawan. Keduanya membawakan materi tentang teknik dan prinsip dasar TSM nyamuk jantan mandul sebagai pengendalian populasi Ae. aegypti, tantangan dan peluang serta evaluasi program yang sudah mulai dijalankan oleh para jumantik di Kelurahan Sekejati sebelumnya.

Dr. Roziq Himawan, M.Eng selaku Plt. Kepala PRTAIR turut hadir dalam sosialisasi tersebut. “TSM nyamuk Ae aegypti  ini diharapkan dapat menjadi berkontribusi BRIN dalam mengatasai masalah kesehatan di masyarakat sekaligus sebagai bukti bahwa nuklir hadir di tengah masyarakat untuk tujuan damai”tuturnya. Acara ditutup dengan demo pelepasan nyamuk Ae aegypti jantan mandul yang telah diradiasi sebelumnya. Perwakilan peserta antusias saat membuktikan bahwa hanya nyamuk betina saja yang menggigit dan nyamuk jantan tidak. Memasukkan kedua tangan ke dalam dua kurungan berbeda yang berisi nyamuk betina dan jantan mandul, pembuktian tersebut benar, bahwa nyamuk jantan mandul yang dilepaskan di lingkungan tidak menggigit, tidak berbahaya dan zero residue.

Sosialisasi ini menghasilkan kesepakatan kerjasama antara PRTAIR dan Kelurahan Sekejati untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hilirisasi iptek nuklir dengan melakukan pelepasan nyamuk jantan mandul secara berkala untuk menurunkan populasi nyamuk Ae aegypti. Melalui pemanfaatan TSM, diharapkan jumlah populasi nyamuk Ae aegypti dapat diturunkan, serta dapat menekan biaya dan terhindar dari bahan kimia berbaya. (fitrianto, bamsu).