HUTRI76
Slide_wbk
Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Wina, 20 September 2021). Kiprah para peneliti nuklir Indonesia mendapatkan penghargaan tertinggi dari Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Atom Internasional (IAEA). Outstanding Achievement Award disampaikan oleh Dirjen IAEA kepada Duta Besar/Watap RI untuk PBB, Dr. Darmansjah Djumala, yang mewakili para peneliti Kelompok Pemuliaan Tanaman Bidang Pertanian, BATAN yang kini telah bergabung ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penghargaan diberikan atas capaian riset dan pemanfaatan teknologi nuklir Indonesia untuk bidang pemuliaan tanaman pangan dan dilaksanakan pada rangkaian persidangan IAEA General Conference ke-65 bertempat di Markas PBB Wina, Austria hari ini (20/09).

“Dunia saat ini dihadapkan pada tantangan serius, yaitu perubahan iklim dan ancaman terhadap ketahanan pangan. Upaya mencari solusi bersama perlu terus dilakukan masyarakat global, diantaranya melalui pemanfaatan teknologi nuklir oleh para pakar nuklir di banyak negara yang mengembangkan varietas tanaman unggul baru.” Kata Dirjen IAEA, Rafael Mariano Grossi, dalam pembukaannya.

Penganugerahan penghargaan merupakan kontribusi IAEA, bersama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir dalam bidang pangan. Dirjen FAO, Qu Dongyu, juga mengakui kontribusi nyata teknologi nuklir terhadap ketahanan pangan global dan akan terus mendukung peningkatan kapasitas para peneliti bidang pangan dalam rangka mendukung keberlanjutan riset mutasi radiasi yang sangat bermanfaat.

Dubes Djumala dalam kesempatan tersebut menggarisbawahi bahwa Indonesia, melalui kiprah para peneliti nuklir bidang pertaniannya, telah menunjukkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi nuklir untuk pengembangan varietas unggul tanaman pangan, yang berkontribusi signifikan pada penguatan ketahanan pangan nasional. Penghargaan ini menunjukkan bahwa  program penguatan kapasitas SDM teknologi nuklir yang dirintis IAEA bersama FAO telah memberikan manfaat nyata pada penguatan kapasitas SDM peneliti Indonesia, termasuk aplikasi nuklir dalam bidang pangan, imbuh Djumala,

Penghargaan tertinggi FAO dan IAEA ini menunjukkan bahwa Indonesia diakui dalam penguasaan teknologi nuklir untuk tujuan damai, serta menerapkannya untuk mendukung program pembangunan nasional. Kerja sama internasional dalam kerangka IAEA dan hasil yang telah dicapai saat ini mencerminkan diplomasi membumi Pemerintah Indonesia dalam bidang teknologi nuklir, yang mampu berikan manfaat sosial ekonomi langsung kepada masyarakat melalui aplikasi dalam bidang pangan.

Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN, sebelumnya BATAN) ini menerima penghargaan atas prestasinya dalam menghasilkan beragam varietas tanaman pangan seperti padi, kedelai, sorghum, pisang dan kacang-kacangan yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim seperti ketahanan terhadap kekeringan, produktivitas tinggi, ketahanan hama hingga usia panen yang pendek. Indonesia juga pernah menerima penghargaan serupa tahun 2014. Penghargaan Outstanding Achievement Award juga diberikan FAO dan IAEA kepada 10 negara lain yaitu Cina, Kuba, India, Bangladesh, Iran, Malaysia, Mali, Pakistan dan Afrika Selatan. (bamsu)