Slide_wbk
HUTRI75
Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 29/11/2018) Pemanfaatan teknologi nuklir untuk kesejahteraan mampu memberikan nilai tambah sosial ekonomi bagi masyarakat. Hal ini disampaikan Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir (PTN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Hendig Winarno pada Konferensi Tingkat Menteri yang digelar Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA), Vienna, Austria, (28/11).

Baca juga : Menteri Puan Maharani Bahas Aplikasi Teknologi Nuklir di Wina

Melalui pesan elektroniknya, Hendig mengatakan, BATAN dengan penguasaan teknologi nuklirnya berperan aktif dalam mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Salah satu tujuan dari pemanfaatan teknologi radiasi adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesa, dan hal ini sejalan agenda prioritas pemerintah saat ini,” ujar Hendig.

Hendig menambahkan, selama dekade terakhir ini beberapa capaian telah diperoleh Indonesia terkait dengan pemanfaatan tekologi nuklir yang memberi dampak secara langsung terhadap peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Salah satu contoh capaian tersebut yakni, telah dirampungkannya pembangunan fasilitas iradiator Gamma Merah Putih (IGMP) pada tahun 2017 yang lalu dan kini telah beroperasi.

Selain IGMP yang berkapasitas 300 kCi, BATAN juga memiliki fasilitas sejenis dengan kapasitas lebih kecil, antara lain electron beam accelerator dengan kapasitas 2 MeV, Gamma Cell iradiator dengan kapasitas 10 kCi, Latex Iradiator dengan kapasitas 60 kCi, Gamma Chamber Iradiator dengan kapsitas 500 Ci, dan Panoramic bath iradiator dengan kapasitas 20 kCi. Semua fasilitas iradiator tersebut selain difungsikan sebagai sarana penelitian juga dapat dimafaatkan masyarakat khususnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk pengawetan bahan pangan, produk herbal, bahan kosmetik dan sterilisasi peralatan medis.

“Ini membuktikan bahwa pemanfaatan taknik radiasi mampu memberikan kontribusi yang signifikkan kepada masyarakat UKM yang bergerak di sektor jamu/obat herbal, makanan siap saji, bumbu dan rempah. Dapat pula berfugsi untuk medapatkan varietas unggul tanaman pangan yang pada gilirannya dapat menguntugkan pihak petani,” tambahnya.

Menurutnya, pengawetan dengan menggunakan teknik radiasi jauh memberi dampak positif ketimbang menggunakan zat kimia yang membahayakan tubuh manusia. Dengan masa simpan yang lebih lama maka makanan siap saji yang diawetkan dengan teknik radiasi akan sangat bermanfaat untuk mengatasi masalah kekurangan bahan makan di daerah yang terdampak bencana.

Baca juga : BATAN Peduli Korban Gempa Bumi di Lombok

Pada presentasinya, ia mengutip testimoni pelaku usaha UD. Gerak Tani, N.J. Sembiring yang memanfaatkan fasilitas iradiator untuk pegawetan produknya. “Proses iradiasi pada produk makanan dan rempah-rempah telah membantu dalam meningkatkan daya saing di pasar, memungkinkan tanggal kadaluwarsa lebih lama tanpa menggunakan pengawet bahan kimia apa pun,” ujarnya.

Kutipan senada juga disampaikan Manajer Operasional, Lisa Herbal Internasional, Rudi. “Aplikasi proses iradiasi pada teh, produk jamu & jamu minuman telah berhasil memperpanjang umur simpan produknya, membuatnya lebih kompetitif di pasar & mendukung pengembangan bisnisnya,” pungkasnya. (Pur)