HUTRI75
Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...


(Jakarta, 09/07/2018). Tak perlu jauh-jauh jika ingin belajar tentang pemuliaan mutasi tanaman dengan teknologi nuklir. Indonesia ternyata leading dalam hal ini. Dalam dua minggu kedepan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) kedatangan 20 peneliti muda dari negara-negara Asia Pasifik dan Afrika untuk saling berbagi ilmu terkait pemuliaan mutasi tanaman, khususnya dalam skrining tekanan abiotic (abiotic stresses).

BATAN menjadi tempat pelatihan bukan tanpa alasan. Sejak tahun lalu hingga 2021, Indonesia melalui BATAN ditetapkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) sebagai pusat kolaborasi pemuliaan mutasi tanaman.

“Indonesia oleh IAEA dianggap cukup maju dalam pemanfaatan teknologi nuklir untuk pemuliaan mutasi tanaman. Jadi kalau seseorang mau belajar ini tidak harus pergi ke Eropa, di Indonesia sudah ada ahlinya,” ungkap Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto, Senin (09/07), di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta.

Pelatihan ini bertajuk IAEA/BATAN Regional Training Course on Methodologies and Mechanisms for Screening against Abiotic Stresses (RAS5077). 20 peneliti muda yang mengikuti pelatihan ini antara lain berasal dari negara Bangladesh, China, India, Indonesia, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Thailand, Vietnam dan Tanzania.

Pemuliaan mutasi tanaman adalah salah satu metode pemuliaan tanaman yang biasa digunakan untuk memodifikasi genetika tanaman mengunakan iradiasi sinar gamma. Perubahan iklim yang tidak menentu berdampak pada timbulnya berbagai penyakit tanaman.

“Perubahan genetika diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kemampuan tanaman untuk beradaptasi terhadap tekanan abiotic (abiotic stresses), seperti kekeringan, salinitas, keasaman tanah, dan sebagainya,” ujar peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Soeranto Human.

Pelatihan ini diharapkan memberikan kontribusi positif bagi penerapan teknologi nuklir secara damai dalam membantu negara-negara regional meningkatkan produksi pangan dan ketahanan pangan di tengah-tengah perubahan iklim yang tidak menentu.

Hampir sebagian pengajar pelatihan ini merupakan ahli  - ahli bidang pemuliaan tanaman dari Indonesia. Selain itu juga menghadirkan ahli dari Jepang, Mr.Hiroshi Kato dan Brazil, Mr. Antonio Costa de Oliveira.

Kepala PAIR BATAN, Totti Tjiptosumirat menambahkan, melalui aplikasi teknologi nuklir, Indonesia telah menghasilkan banyak varietas unggul mutan tanaman penting seperti padi, kedelai, sorgum, kacang hijau, kacang tanah, kapas, dan gandum tropis. Varietas unggul tanaman tersebut telah disebarluaskan dan ditanam oleh masyarakat petani dan telah memberikan kontribusi dalam peningkatan produksi dan ketahanan pangan Indonesia. Varietas kedelai Mutiara 1 misalnya, pada tahun 2017 telah dilepas benih sumber sebanyak 40 ton untuk lahan seluas 1000 hektar.

BATAN saat ini bersama-sama IAEA, Food Agriculture Organization (FAO), United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Kementerian Pertanian, Kementerian Ristek Dikti, Kementerian Kesehatan, dan koperasi pertanian - Rumah Tempe, menggagas Proyek Tempe untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai.

Diharapkan pada 2022, Indonesia dapat menghasilkan produk tempe berkualitas bagus mengunakan produk kedelai dalam negeri, khususnya kedelai hasil litbang BATAN (tnt).