Menuju Wilayah Bebas Korupsi
Slide item 1

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 2

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 3

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 4
Slide item 5

(Jakarta, 22/01/2020). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menjadi koordinator Prioritas Riset Nasional (PRN) 2020 – 2024 di bidang kesehatan, yakni pengembangan radioisotop dan radiofarmaka untuk diagnosis dan terapi berbagai penyakit.

Output-nya akan menghasilkan produk radioisotop dan radiofarmaka yang diharapkan dalam 5 tahun kedepan mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” jelas Anhar saat bertemu dengan beberapa wartawan media nasional, di Jl. Barito, Jakarta, Kamis (22/01).

Dalam proses memperoleh izin edar, lanjut Anhar, selama ini BATAN telah bekerja sama dengan pihak lain seperti PT. Kimia Farma. Sebagai informasi, saat ini sudah ada 5 produk litbang radioisotop dan radiofarmaka yang telah memperoleh izin edar dari BPOM.

Baca juga: Produk Litbang Radioisotop dan Radiofarmaka

“Jadi yang akan mendaftarkan izin edar bukan BATAN,  BATAN hanya membuat prototipe, kemudian PT. Kimia Farma yang mendaftarkan izin edar ke BPOM,” lanjutnya.

Dalam konteks PRN 5 tahun kedepan, BATAN menargetkan 4 produk prototipe radioisotop dan radiofarmaka. Salah satunya yang saat ini sedang dalam proses pengajuan adalah Technetium-99m (99mTc), radioisotop yang sangat dibutuhkan di dunia kedokteran nuklir sebagai penanda obat tertentu yang memancarkan radiasi untuk diagnosis penyakit, seperti tumor atau kanker.

Anhar menuturkan, sebelumnya, BATAN telah bekerja sama dengan PT. Industri Nuklir Indonesia (INUKI) dalam memproduksi 99mTc. Namun proses pembuatannya berasal dari reaksi fisi, yakni uranium yang diiradiasi di dalam reaktor nuklir, sehingga menyisakan produk fisi lain yang tidak diperlukan, yang menjadi limbah radioaktif.

“Penelitian sebelumnya, 99mTc dihasilkan dari proses iradiasi uranium, uranium berinteraksi dengan neutron sehingga menghasilkan berbagai produk fisi, salah satunya adalah Mo-99, yang kemudian akan meluruh menghasilkan 99mTc. Jadi 99mTc  berbasis reaksi fisi,” jelas Anhar.

Lain halnya dengan penelitian kedepan, 99mTc tidak dihasilkan dari proses uranium, melainkan berasal dari mineral Molibdenum (Mo) alam yang tidak radioaktif, selanjutnya akan diaktivasi lebih lanjut menjadi bahan radioaktif di reaktor nuklir. Kelebihannya, proses ini menghasilkan limbah radioaktif yang sangat kecil.

“Untuk kedepan, pengembangan 99mTc tidak lagi dari uranium, tetapi dari mineral Mo alam atau Mo-98 yang kita aktivasi di reaktor, diiradiasi dengan neutron,  kemudian menjadi Mo-99 radioaktif, kemudian meluruh menjadi 99mTc. Jd hampir tidak ada produk fisi yang tidak diperlukan, sehingga limbah radioaktif yang dihasilkan sangat kecil atau hampir tidak ada” tambahnya.

Radioisotop 99mTc ini ditargetkan  dalam 3 tahun kedepan akan dicoba diproduksi bekerja sama dengan PT INUKI. BATAN juga menggandeng Kaken, salah satu lembaga riset Jepang dalam pengembangan tekonologi produksi radioisotop 99mTc.

Baca juga: BATAN Tingkatkan Penguasaan Teknologi Produksi Radiosiotop dan Radiofarmaka Melalui Kerja Sama dengan Pihak Jepang

“Skala prototipe menjadi tugas BATAN. Sedangkan untuk skala produksi besar, kami bekerja sama dengan PT. INUKI,” katanya.

Selain dengan menggunakan reaktor, tambah Anhar, beberapa negara juga menggunakan akselerator dalam penelitian 99mTc.

“Negara lain tidak selalu menggunakan reaktor nuklir riset, ada yang menggunakan akselerator yang menghasilkan neutron, neutron itu kemudian mengaktivasi Mo alam. Tren dunia saat ini sedang mengarah ke dalam penelitian 99mTc dengan Mo alam. Kalau ini berhasil, Indonesia bisa termasuk pionir,” pungkasnya (tnt).



Visitor Counter

 

Kontak PTRR

Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Gedung 11, Setu, Tangerang Selatan 15314

Telp: (021) 756-3141, 758-72031
Fax: (021) 756-3141

http//: www.batan.go.id
http//:www.batan.go.id/ptrr

Email : prr[at]batan.go.id