PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

(Cilacap, 20/10/2020) Pusat Diseminasi Dan Kemitraan (PDK) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menggelar business matching media kompos organik di Cilacap, Selasa (20/10). Kegiatan business matching yang melibatkan beberapa stakeholder yakni dinas pertanian dan peternakan, pemasok bahan kompos, investor dan para penggiat hayati merupakan rangkaian proses inkubasi bisnis teknologi pemanfaatan hasil litbang BATAN inoculant microba rizhosfer (IMR).

Kepala Bidang Manajemen Inovasi dan Kemitraan, Ir Rismiyanto mengatakan, kegiatan inkubasi bisnis teknologi (IBT) yang dilakukan oleh PDK merupakan suatu rangkaian pembinaan dan pendampingan dari beberapa tahapan yang dimulai dari pelatiihan, uji produksi, promosi/bisnis matching kepada tenant. “Berbagai tahapan ini dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan perusahaan agar dapat menjadi perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) dan alhamdullah  telah ada Usaha Kecil Menengah (UKM)  yang memanfaatkan produk IMR untuk  untuk memperkaya mikroba rizhosfer pada produk pupuk kompos,” ujar Rismiyanto

Hal senada disampaikan Kepala Balai Inkubator Teknologi, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dr. Anugerah, bahwa inkubator bisnis  bertujuan untuk mendorong UKM untuk dapat berkembang serta mandiri dengan pola pembinaan  mengupgrade wirausaha yang sudah ada atau membentuk startup. Harapannya agar para wirausaha UKM dapat bersaing dengan produk yang sudah mapan.

Beberapa peserta yang mengikuti kegiatan business matching meminta kepada BATAN agar ketersediaan produk selalu terjaga karena menyangkut keberlangsungan usaha mereka. Mereka mengaku telah merasakan manfaat dari menggunakan IMR yakni mempercepat pertumbuhan sayuran seperti pare, timun dan sayuran lainnya, sehingga cepat panen produktivitasnya meningkat.

Kisah sukses lainnya dialami oleh Imam Fajri dari desa Karang Tengah Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap. Pada awalnya Fajri melihat banyak limbah kotoran ternak sapi tidak termanfaatkan di lingkungannya, bahkan sebagaian masyarakat menggangap pencemar lingkungan. Kondisi itu menjadi peluang bagi Fajri sebagai ladang bisnisnya.

Fajri mengolah dari limbah kotoran ternak menjadi pupuk kompos yang mempunyai nilai ekonomis. Dengan dukungan dan pendampingan dari Dinas Pertanian Pemda setempat, Fajri berhasil mendirikan UKM Rumah Kompos Fajri Berkah Tani.

Diceritakan Fajri, kisah sukses ini berawal dari presentasi yang disampaikan peneliti BATAN, Nana Mulyana yang menjelaskan manfaat inoculant mikroba rizhosfer yang mampu memperbaiki unsur hara tanah. Berdasarkan informasi itulah, Fajri mengaplikasikan IMR untuk membuat pupuk kompos organik.

Kini hasil produk pupuk kompos Fajri telah di uji oleh labotorium tanah, tanaman, pupuk air di Badan Penelitian Pengembangan Pertanian. “Dengan IMR, sekarang penghasilan pupuk kompos dengan merk Berkah Tani mengalami kenaikan yang semula hanya 300 kantong per bulan menjadi 900 kantong,” ujar Fajri. (asrori)