PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

(Jakarta, 30/07/20) Pusat Diseminasi dan Kemitraan (PDK) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memberikan edukasi tentang radiofobia kepada masyarakat khususnya yang berada di Pontianak melalui kegiatan talkshow di RRI Pro 1 FM 104,2, Selasa (28/07). Kegiatan talkshow ini merupakan bagian dari kegiatan diseminasi yang rutin dilakukan oleh PDK.

Peneliti BATAN, Mukhlis sebagai narasumber pada talkshow mengatakan, disadari atau tidak, penyebutan kata radiasi masih membangkitkan rasa takut dan kecemasan di benak banyak orang, walaupun aplikasi radiasi pengion dan substansi radioaktif lainnya telah banyak memberikan manfaat. Radiofobia disinyalir menjadi salah satu alasan mengapa nuklir sulit untuk diterima oleh masyarakat.

Mukhlis menjelaskan, radiasi merupakan fenomena pancaran energi dari sumber radiasi ke lingkungan. Matahari, kata Mukhlis, juga memancarkan radiasi. Namun, agar tidak ada kesalahpahaman, radiasi yang dimaksud dalam acara ini adalah radiasi pengion, seperti radiasi kosmik yang berasal dari luar angkasa.

Selain radiasi kosmik, Mukhlis juga mencontohkan radiasi lain yang ada di lingkungan, yakni gas Radon, yang banyak terdapat dalam bangunan, tembok, dan bebatuan. Radiasi pengion ini akan berbahaya bila terdapat dalam dosis yang tinggi. Beliau juga menekankan orang yang bekerja dengan radiasi, harus memiliki pemahaman mengenai nilai batas dosis.

“Pengaturan dosis ini dapat diumpamakan dengan aturan bila kita meminum obat, jadi ada batas maksimal dalam penggunaan radiasi pengion. Nilai batas dosis bagi pekerja radiasi adalah 20 milisievert/tahun. Batas dosis tersebut tergolong masih aman bagi kesehatan," tambahnya.

Menurutnya, dosis sebesar 2 sievert atau setara dengan 2000 milisievert atau 100 kali lebih tinggi dari batas dosis, dapat mempengaruhi kesehatan tubuh, terutama pada organ pencernaan. “Sel-sel pada organ lambung aktif dalam melakukan regenerasi sel, sehingga lebih peka terhadap radiasi. Anak-anak lebih rentan terhadap radiasi bila dibandingkan dengan orang dewasa, karena organ tubuh pada anak masih dalam tahap perkembangan,” jelasnya.

Beberapa aplikasi teknologi nuklir seperti penggunaan berkas proton dalam terapi kanker memungkinkan penyinaran pada sel target menjadi lebih spesifik, terfokus, dengan dosis yang dapat diatur. Hal ini dapat meminimalkan efek samping dari radioterapi, dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pada bidang forensik, sinar-x dapat dimanfaatkan untuk pendeteksian keaslian suatu karya lukis dengan skrining kandungan unsur-unsur mineral dalam cat lukisan.

Masih banyak lagi contoh teknologi nuklir terang Mukhlis yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat, Mukhlis menyatakan bahwa fobia terhadap radiasi merupakan hal yang tidak perlu ada, karena ada waktunya kita akan membutuhkan radiasi, misalnya untuk menangani masalah kesehatan.

“Radiophobia bukan masalah psikologis, tetapi kurangnya pemahaman masyarakat tentang manfaat radiasi nuklir. Adanya perbedaan informasi yang diperoleh, membuat perbedaan persepsi radiasi dalam masyarakat, dan hal ini merupakan tanggung jawab BATAN untuk mendiseminasikan informasi yang faktual”, tegasnya. (ast)