PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

(Jakarta, 22/07/20). Meskipun aplikasi radiasi pengion maupun substansi radioaktif lainnya sudah banyak memberikan manfaat bagi jutaan orang, namun ternyata masih banyak masyarakat yang takut jika mendengar kata radiasi. Fenomena yang disebut radiofobia ini menjadi salah satu alasan mengapa nuklir sulit untuk diterima oleh masyarakat. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi mengenai radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Diseminasi dan Kemitraan (PDK) bekerjasama dengan Volare FM, Pontianak, menyelenggarakan acara talkshow secara live pada Rabu(22/07).

Mukhlis Akhadi, sebagai narasumber menyatakan bahwa radiasi sebenarnya adalah fenomena pancaran energi dari sumber ke lingkungan. Matahari, menurut Mukhlis, dapat dikatakan sebagai salah satu sumber radiasi karena memancarkan energi berupa cahaya tampak hingga ke bumi. Beliau kemudian menjelaskan perbedaan antara radiasi pengion dan non-pengion yang selama ini selalu dianggap sama oleh masyarakat. “BATAN hanya menangani radiasi yang khusus, yakni radiasi pengion yang dapat mengionisasi materi yang dilaluinya. Contoh radiasi ini adalah sinar-X yang digunakan di rumah sakit,” ujar Mukhlis.

Mukhlis menjelaskan, radiasi dapat berbahaya jika tidak ditangani dengan hati-hati. “Radiasi itu ibaratnya seperti pisau, harus dipegang oleh orang yang telah mengerti ilmu proteksi radiasi, radiasi bermanfaat bila dosisnya tepat, dan berbahaya bila dosisnya berlebihan, seperti kita mengkonsumsi obat saja”, kata Mukhlis.

Ia mencontohkan, ruang angkasa dan gas radon disekitar rumah merupakan salah satu sumber radiasi pengion yang terdapat di alam, namun kadarnya rendah sekali, dalam orde mikro Sievert, sehingga masih aman. Radiasi dianggap berbahaya bila dosisnya dalam orde Sievert. Selain itu, ia menekankan bahwa kita tidak perlu takut, karena pemanfaatan radiasi dilakukan secara aman dengan mempertimbangkan risiko yang lebih kecil dibandingkan manfaatnya, jumlah orang dan peluang terpaparnya radiasi, serta limitasi dosis radiasi yang digunakan.

Menjawab beberapa pertanyaan dari pendengar mengenai efek radiasi dan cara memproteksi diri dari radiasi, Mukhlis memaparkan, jika memang ada kebutuhan untuk memanfaatkan radiasi, misalnya ketika memeriksakan diri di rumah sakit. Warga di sekitar fasilitas nuklir juga tidak perlu merasa khawatir kesehatannya terganggu, karena fasilitas nuklir menerapkan sistem keselamatan yang ketat dan aktivitasnya diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

Mukhlis menjelaskan mengenai radiasi yang secara alamiah diterima oleh manusia dan beberapa daerah memiliki tingkat radiasi alami yang tinggi seperti di Pantai Kerala, India, dan Guangdong, Cina. Data statistik mengatakan masyarakat Kerala memiliki rata-rata usia harapan hidup sekitar sepuluh hingga lima belas tahun lebih lama, sedangkan penduduk Guangdong presentase penderita penyakit kankernya lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah normal lainnya. Ilmuwan berpendapat bahwa sel-sel tubuh manusia bisa beradaptasi dengan radiasi yang ada di lingkungan, sehingga menimbulkan efek menguntungkan yang disebut dengan respon adaptif. Kegiatan talkshow yang dilakukan secara daring ini merupakan salah satu wujud komitmen BATAN dalam mengedukasi masyarakat di era tatanan baru yang serba digital. (astu)