PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

BLITAR (15/08/2019). Blitar merupakan Kota Patria yang warganya menjunjung tinggi sifat patriotisme cinta tanah air. Kabupaten Blitar selama ini berkeinginan untuk mewujudkan pola bercocok tanam yang kembali ke alam atau disebut dengan pola penanaman organik. Desa Tangkil di Kabupaten Blitar, merupakan salah satu daerah yang mengadakan kerjasama dengan Pusat Diseminasi dan Kemitraan BATAN untuk menyelenggarakan kegiatan FGD Inkubasi Bisnis Teknologi Produk Inoculant Microba Rhizosfer (IMR) BATAN pada tanggal 15 Agustus 2019, dalam rangka mengurangi polutan lahan dari proses pemupukan kimiawi.

Kegiatan FGD Inkubasi Bisnis Teknologi Produk IMR BATAN dihadiri oleh 40 peserta undangan, antara lain Pemda Blitar yang diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Kepala Diseminasi dan Kemitraan (PDK) BATAN, Lurah Tangkil, Ketua Koperasi Satria Jaya, Penyuluh Lapangan dan perwakilan para Ketua Gapoktan Kab Blitar yang merupakan calon potensial pengguna IMR hasil litbang BATAN, hasil dari inkubasi yang diproses dan diperbanyak oleh koperasi Satria Jaya sebagai calon pengusaha pemula berbasis teknologi (CPPBT). Sebagai pembuka, lantunan Bowo Gendhing Nuklir dibawakan oleh MC acara, yang menggambarkan bahwa teknik nuklir untuk membangun negeri dan bertujuan mensejahterakan rakyat serta pengembangan ilmu dibidang ketenaganukliran. "NUKLIR merupakan momok bagi masyarakat karena peristiwa Hiroshima-Nagasaki, Chernobyl dan juga peristiwa tragedi Fukushima yang berkaitan dengan proses pembunuhan massal serta pengaruh material nuklir dan radiasi yang terlepas ke lingkungan, semua hal itu terjadi karena nuklir tidak terkendali, sedangkan nuklir yang di kelola oleh BATAN merupakan teknologi yang terkendali sehingga BATAN mendayagunakan radiasi nuklir untuk menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di bidang pertanian, peternakan, industri serta di bidang kesehatan seperti penggunaan sinar-X. Dibidang pertanian, telah dihasilkan varietas unggul kedelai, kacang hijau, shorgum, kacang tanah dan 23 padi varietas unggul BATAN. Produk lain hasil litbang lainnya adalah chitosan yang dihasilkan dari pengolahan limbah udang untuk mempercepat daya tumbuh tanaman, serta IMR untuk meremajakan lahan kritis, " ujar Ruslan, Kepala Pusat Diseminasi dan Kemitraan BATAN.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, Wawan Widianto, dalam sambutannya mengatakan, "Nuklir selalu dipersepsikan dengan bom atom, maka timbul pertanyaan, apabila dimanfaatkan untuk bidang pertanian apakah hasilnya tidak berbahaya?, namun dengan perkembangan teknologi nuklir, dapat dibedakan dalam pengelolaannya, ada yang dibuat untuk merusak seperti untuk senjata nuklir atau nuklir dimanfaatkan sebagai sahabat masyarakat". Sejak tahun 2003, Kabupaten Blitar telah bekerjasama dengan BATAN dalam pemanfaatan nuklir di bidang pertanian. Pemda Blitar sangat mendukung kegiatan ini dan berharap bahwa masyarakat Blitar khususnya para petani, dapat menyesuaikan diri dalam memanfaatkan teknologi tersebut demi kemajuan Blitar. Blitar kini sedang menuju pertanian organik, dengan adanya produk IMR BATAN diharapkan mampu mengembalikan kesehatan lahan agar mempercepat terwujudnya pertanian organik di Blitar. "Penting untuk dapat memanfaatkan varietas-varietas unggul yang telah dihasilkan, sehingga BATAN perlu mensosialisasikan hasil litbangnya secara masif kepada masyarakat khususnya Blitar," tambah Wawan

Pada kesempatan tersebut, Nana Mulyana selaku Peneliti IMR BATAN, memaparkan manfaat IMR dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta FGD. Nana menyatakan bahwa lahan yang tidak produktif merupakan lahan sakit karena terputusnya siklus mutualisme antara mikroorganisme-mikroorganisme dalam tanah, contohnya pada lahan yang terkena tumpahan minyak. Mengetahui permasalahan tersebut, BATAN lalu mengembangkan bioremediasi sebagai upaya untuk peremajaan lahan dengan memperbaiki kembali rantai siklus yang putus. Dalam produksi agen hayati, BATAN melakukan sterilisasi formula bahan pembawa dalam hal ini kompos yang di iradiasi dengan dosis 20 – 25 kGy, kemudian dilakukan Inokulasi kultur cair isolat mikroba fungsional sehingga dihasilkan semacam compostar sebagai dekomposer bahan organik, IMR untuk peningkat kesehatan tanah dan tanaman, pertumbuhan serta hasil tanaman (bio-fertilizer), trichomix pengendali hayati, IPLB sebagai pengikat logam berat. Ia juga menambahkan lebih lanjut bahwa dengan menggunakan PBO (Cocopeat diperkaya mikroba rizosfer) pada tanaman, dapat meningkatkan provitas tanaman sebesar 50 - 20 % dari lahan yang sangat sakit.

"IMR dapat diterapkan pada pengolahan limbah ternak untuk mempercepat proses fermentasi, serta mempersilahkan petani menggunakan biofertilizer hasil litbang BATAN untuk saling melengkapi serta mengayakan pengetahuan dan wawasan dalam rangka peningkatan produktivitas demi terwujudnya pertanian organik di Blitar", jelas Nana.

Sebagai penutup dari kegiatan FGD ini, para peserta bersama-sama meninjau lahan sawah milik Hartoyo, salah satu pengguna IMR. Hartoyo mengatakan bahwa terjadi perbedaan antara lahan yang menggunakan IMR dan tanpa IMR, dan dapat dideteksi dengan cara meremas tanah. Tanah yang menggunakan IMR, terasa lebih lumer sedangkan tanah yang tidak menggunakan IMR masih menggumpal. (ATP)