Raker

Rapat Kerja BATAN merupakan agenda tahunan yang sangat penting.

Raker 2017

Rapat Kerja Merupakan Agenda Tahunan yang Sangat Penting

Slide item 3

Biro Perencanaan melakukan kegiatan Sosialisasi Laporan Kinerja Sestama/Deputi guna menghasilkan Lakin yang Berkualitas

(Bogor, 19/02/2019) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), selama periode 2015 -2018, BATAN telah banyak menghasilkan produk Litbangyasa yang mampu menjawab berbagai permasalahan di masyarakat. Namun demikian tantangan yang dihadapi BATAN masih banyak terutama membuat inovasi pemanfaatan teknologi nuklir untuk mencari solusi permasalahan di masyarakat.

Hal tersebut dikatakan Plt. Kepala BATAN, Falconi Margono pada saat membuka Rapat Kerja 2019, di Bogor, Senin (18/02). Raker yang digelar mulai tanggal 18 s.d. 19 Februari 2019 dijadikan sarana untuk mengevaluasi kegiatan 2018 dan menyiapkan strategis  untuk menyusun Rencana Strategis periode 2020 -2024. 

Falconi mengapresiasi capaian hasil Litbangyasa BATAN periode 2015-2019 baik secara keseluruhan maupun dalam bentuk BATAN incorporated sesuai bidang prioritas Pangan & Peternakan, Kesehatan, Material Maju, Industri & SDAL dan Energi.

Dipaparkan oleh Falconi, sebagai bentuk BATAN incorporated telah dibangun fasilitas Pilot plant Pemisahan Logam Tanah Jarang, Uranium dan Thorium (PLUTHO) dan Iradiator Gamma Merah Putih, hasil kerjasama antar unit kerja di BATAN.

Lainnya juga telah dilakukan pelepasan varietas unggul tanaman pangan yaitu benih unggul padi Tropiko, Mustaban, Mustajab dan benih unggul kacang tanah Katantan yang mewakili bidang pangan.

Pada bidang kesehatan dihasilkan produk Radiofarmaka Sm-153-GDTMP yang berguna untuk terapi paliatif penderita kanker dan I-131-MIBG yang berguna untuk diagnosa kanker Neuroblastoma, dan juga peralatan Renograf untuk menguji fungsi ginjal dan thyroid pasien, untuk bidang material maju, BATAN telah menghasilkan prototipe bahan smart magnet yang dapat diaplikasikan sebagai cat anti radar, jelas Falconi.

Namun capaian tersebut masih menyimpan tantangan yang harus diselesaikan pada tahun 2019 ini, secara gamblang dijelaskan oleh Falconi salah satu tantangannya ada pada penyelesaian kegiatan prioritas BATAN, “Sebentar lagi kita akan memasuki bulan ketiga, masih ada program prioritas BATAN yang perlu diakselerasi, Biro Perencanaan bersama sama dengan unit kerja perlu meningkatkan kordinasi untuk mengawal pencapaian kegiatan tersebut”.

Beberapa tantangan lain adalah, penyelesaian kegiatan litbangyasa yang bersifat multiyear, kebijakan restrukturisasi organisasi, konversi bahan bakar reaktor TRIGA 2000 ke tipe pelat, penerapan nuclear knowledge management untuk mengatasi permasalahan SDM yang menua dan strategi hilirisasi hasil Litbangyasa yang mumpuni.

Falconi menggarisbawahi terkait pentingnya strategi hilirisasi hasil Litbangyasa yang menyesuaikan kepada kondisi terkini, “Hilirisasi produk produk hasil penelitian BATAN perlu ditingkatkan lagi, tren kemajuan zaman mensyaratkan produk penelitian yang teruji dan tersertifikasi, unit kerja terkait harus mampu mengidentifikasi produk yang telah siap untuk dihilirisasi dan terjamin dalam bentuk sertifikasi”.

Pada akhir presentasinya, Falconi memaparkan terkait dengan arah kebijakan BATAN untuk Renstra periode 2020 -2024, bahwa BATAN harus siap dan mampu menjadi lembaga Technology Provider, Technical Support Organization dan Clearing House Nuclear Technology. Hal lainnya adalah, BATAN juga harus bisa hadir ditengah tengah masyarakat dengan melakukan hilirisasi hasil hasil penelitian yang dapat memenuhi kebutuhan ataupun solusi masalah yang ada dimasyarakat.

Dimasa depan kita juga mentargetkan agar SDM di BATAN bisa tersertifikasi untuk bidang bidang kompetensi kenukliran melalui program Talent Management System, tambahnya.

Hadir sebagai narasumber pada Rapat Kerja BATAN 2019, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Ristekdikti, Dr. Muhammad Dimyati, menjelaskan, kondisi secara nasional penelitian dan pengembangan teknologi di indonesia masih menghadapi kendala yang cukup signifikan.

Saat ini kondisi riset dan pengembangan teknologi di indonesia menghadapi masalah ketersediaan sumber daya peneliti yang kurang ideal, hal ini diperburuk lagi dengan sarana dan prasarana yang sudah menua. “Bila kita berbicara jumlah peneliti di Indonesia, kita masih tertinggal dari negara negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, ditambah lagi dengan kondisi sarana dan prasarana yang sudah uzur,” jelas Dimyati,

Selain itu juga ada masalah pada manajemen riset, dimana produk produk penelitian yang dihasilkan oleh lembaga penelitian ataupun perguruan tinggi belum mampu memenuhi kebutuhan dunia industri, ini menjadi catatan bagi kita bersama.

Pada sisi kelembagaan masih ditemukan masalah dimana banyak lembaga penelitian yang tumpang tindih dalam penelitiannya disebabkan oleh kordinasi yang lemah, selain masalah klasik terkait dengan anggaran penelitian di Indonesia, juga masalah relevansi dan produktivitas.

Hal menarik dikemukakan oleh Dimyati, dimana beliau mencermati bahwa secara nasional, Indonesia tidak memiliki suatu nation brand, yang dapat menjadi identitas nasional kita kepada dunia, “sebagai contoh, bila kita mendengar nama produk Samsung, maka kita bisa langsung mengasosiasikan produk tersebut dengan negara Korea Selatan,” tambahnya. (An)