Raker

Rapat Kerja BATAN merupakan agenda tahunan yang sangat penting.

Raker 2017

Rapat Kerja Merupakan Agenda Tahunan yang Sangat Penting

Slide item 3

Biro Perencanaan melakukan kegiatan Sosialisasi Laporan Kinerja Sestama/Deputi guna menghasilkan Lakin yang Berkualitas

(Jakarta, 30/11/2018) Fasilitas nuklir Iradiator Gama Merah Putih (IGMP) yang belokasi di Kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang Selatan memiliki kandungan lokal di atas 80%. Kemampuan anak bangsa dalam membangun fasilitas nuklir ini disampaikan Kepala Biro Perencanaan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Ferly Hermana pada side event konferensi tingkat menteri yang diselenggarakan Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) di Vienna, Austria (28/11).

IGMP mulai dibangun pada tahun 2016 dengan menelan biaya sebesar 96 Miliar, selesai dan diresmikan penggunaannya pada tahun 2017 oleh Wapres Jusuf Kalla. Fasilitas ini difungsikan sebagai sarana pengawetan bahan pangan, obat herbal, bahan kosmetik dan sterilisasi alat medis.

Pada konferensi tingkat menteri tersebut, Ferly berbagi pengalaman Indonesia ketika membangun IGMP. “Saya menyampaikan pengalaman Indonesia dalam membangun iradiator gama dengan metode reverse engineering untuk menjawab permasalahan tentang pengolahan pasca panen dan pengawetan makanan,” ujar Ferly.

Menurutnya, beberapa hal yang melatarbelakangi dibangunnya IGMP ialah kondisi alam Indonesia yang tropis dapat mengakibatkan hasil panen seperti buah-buahan lebih cepat membusuk. Ditambah lagi dengan kondisi infrastruktur dan sarana tranportasi yang belum memadai, menyebabkan produk pertanian sering kali mengalami pembusukan sebelum sampai ke tempat tujuan.

Karena itulah, lanjut Ferly, diperlukan fasilitas yang mampu membuat waktu simpan produk pasca panen menjadi lebih lama. “Penekanan pada sharing pengalaman ini adalah bagaimana teknik radiasi yang digunakan pada iradiator gama dapat memberikan nilai manfaat dan memberikan keuntungan secara ekonomi dan sosial,” tambahnya.

Selain itu, teknologi radiasi pada proses pengawetan jauh lebih baik karena tidak meninggalkan zat yang membahayakan bagi tubuh manusia ketimbang menggunakan zat kimia. Bahan makanan yang diawetkan dengan menggunakan teknologi radiasi tidak berkurang protein dan rasanya.

Teknologi radiasi untuk pengawetan bukanlah barang baru, namun sudah banyak dikembangkan di beberapa negara, namun yang ingin ditekankan Ferly pada event tersebut adalah pengembangan teknologi radiasi gama yang mempunyai daya tahan handal dan memberi keuntungan. “Negara yang mengikuti side event ini banyak, terdiri dari berbagai delegasi negara berkembang di Asia dan Afrika dan beberapa negara maju. Mereka ingin mengetahui sejauh mana Indonesia memanfaatkan teknologi radiasi mampu memberikan keuntungan secara ekonomi dan sosial,” lanjutnya.

Baca juga : Dua Fasilitas Nuklir Diresmikan Wapres JK

Para peserta side event merespon baik terhadap usaha Indonesia dalam mengatasi permasalahan pengelolaan produk pasca panen dan pengawetan makanan dengan teknologi radiasi sehingga mampu meingkatkan sosial ekonomi masyarakat. “Responnya sangat baik, bahkan setelah acara side event masih ada pembahasan dengan beberapa peserta yang ingin mengetahui lebih banyak kemampuan Indonesia mengembangkan teknik radiasi nuklir,” pungkasnya.  (Pur)