Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Jakarta, 02/12/2020) Kegiatan penelitian, pengembangan dan pengaplikasian Iptek nuklir di Indonesia dimulai sejak tahun 1954, dimana pemerintah Indonesia membentuk Komite Penilaian Radioaktivitas yang bertujuan untuk melakukan penyelidikan adanya radioaktivitas di wilayah Indonesia dan apa dampaknya kepada masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada gelaran simposium bersama antara Pemerintah Indonesia dengan Jepang secara daring, Rabu (2/12).

Selang 4 tahun kemudian dibentuklah Lembaga Tenaga Atom yang kemudian berubah nama menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada tahun 1964, kegiatan penelitian dan pengembangan Iptek nuklir terus berlanjut dengan dibangunnya 3 reaktor nuklir riset dalam kurun waktu 25 tahun.

“Upaya pengembangan teknologi nuklir ditandai dengan pembangunan reaktor nuklir pertama pada tahun 1961 dan diresmikan pada tahun 1965, reaktor tipe TRIGA dengan daya 250 Kw, yang bertujuan untuk mendukung perkembangan produksi radioisotop, menyusul pembangunan reaktor riset tersebut, Indonesia memutuskan untuk membangun lagi 2 reaktor lainnya, yaitu reaktor riset Kartini dengan daya 100 Kw di Jogjakarta serta reaktor riset multiguna GA Siwabessy dengan daya 30 Mw di Serpong pada tahun 1987,” ujar Anhar.

Pusat penelitian dan pengembangan nuklir ini dipersiapkan untuk pemanfaatan industri nuklir berbasis dua pilar, yaitu industri isotop dan industri energi, dan untuk mendukung pengembangan dan penerapan Iptek nuklir,

Lebih rinci dijelaskan oleh Anhar dalam paparannya, pada RPJMN 2020-2024 Iptek nuklir diharapkan dapat berkontribusi dalam berbagai bidang, yaitu energi, industri, material maju, kesehatan, lingkungan, pangan dan pertanian, dan BATAN ditunjuk sebagai koordinator dalam Prioritas Riset Nasional pada bidang energi, industri dan Kesehatan.   

“Tiga program tersebut juga telah ditetapkan sebagai Prioritas Riset Nasional (PRN), dimana BATAN ditugaskan sebagai koordinator nasional di bidang energi dengan fokus pada penyiapan infrastruktur pembangkit listrik tenaga nuklir, serta di bidang industri, dimana kegiatannya adalah pengembangan sistem terpadu pemantauan radiasi dan di bidang kesehatan, dengan topik pengembangan radioisotop dan radiofarmaka,” ucap Anhar.

Dalam Prioritas Riset Nasional bidang energi, BATAN ditugaskan untuk mengkoordinasikan pelaksanaan studi kelayakan (site dan non site) untuk pengenalan PLTN di Kalimantan Barat, dibidang industri terkait dengan pengembangan peralatan pemantauan radiasi, dan sistem informasi terintegrasi untuk dimanfaatkan  oleh badan regulator, dan pada bidang kesehatan BATAN menargetkan lima produk baru yaitu generator Mc-99 / Tc-99m (non fisi), Lu-177 PSMA, nano colloid HSA, Gd nano particle dan EDTMP.

Terkait dengan kebijakan riset nasional, Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro yang tampil sebagai pembicara kunci pada acara simposium tersebut menjelaskan, arah kebijakan dan strategi nasional di bidang Iptek telah menetapkan tahun 2020 - 2024 sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah yang diarahkan pada pengembangan kemampuan Iptek dan inovasi. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat empat program prioritas. Pertama, pemanfaatan Iptek dan kreasi inovasi dalam area fokus periode 2017 - 2045 Rencana Induk Riset Nasional Pembangunan Berkelanjutan, Kedua, percepatan ekosistem riset dan inovasi, ketiga, pengembangan puslitbang riset, dan keempat, peningkatan anggaran dan kualitas penelitian.

“Isu strategis yang menjadi landasan pengembangan dan inovasi iptek adalah peningkatan percepatan ekosistem riset dan inovasi, penguatan kolaborasi quadruple-helix, peningkatan efektivitas pemanfaatan dana penelitian, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan, dan peningkatan kemampuan adopsi dan inovasi teknologi,” ucap Bambang

Bambang menegaskan, untuk menjawab permasalahan strategis tersebut di atas, pengembangan iptek harus mampu menghasilkan teknologi tepat guna, meningkatkan komersialisasi dan nilai tambah dari hasil penelitian dan pengembangan iptek dan inovasi, mengurangi impor dan meningkatkan produk dalam negeri, serta menciptakan technology frontier yang akan memperkuat perkembangan dan inovasi iptek.

“BATAN sebagai salah satu lembaga penelitian yang melaksanakan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia, telah menghasilkan banyak inovasi di bidang Industri, sumber daya air, kesehatan, pangan, misalnya pertanian dan peternakan, energi, bahan maju, dan lingkungan.”, ujar Menristek BRIN

Terdapat tiga prioritas riset nasional di bidang nuklir yang telah disahkan dalam RPJM 2020-2024, bidang kesehatan didorong untuk mengembangkan produk radioisotop dan radiofarmasi baru, dalam rangka substitusi impor untuk memenuhi kebutuhan obat nasional, untuk pengobatan kanker, radioterapi, radiodiagnosis dan kedokteran nuklir, dibidang energi, kesiapan infrastruktur PLTN Indonesia perlu ditinjau kembali berdasarkan hasil studi kelayakan, di bidang kelistrikan, ekonomi dan keuangan, data partisipasi nasional, dan alih teknologi sebagai studi kelayakan pembangunan PLTN di provinsi kalimantan barat.

"Selain itu, dengan meningkatnya kegiatan Litbang pemanfaatan teknologi nuklir, radiasi dan zat radioaktif di Indonesia diperlukan sistem pemantauan tingkat radiasi nasional yang terintegrasi untuk keselamatan dan keamanan nuklir, oleh karena itu pada akhir tahun 2024 prototipe sistem pemantauan radiasi cerdas siap untuk diuji dan dioperasikan," pungkas Menristek BRIN. (an)