Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Jakarta, 15/10/2020) Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan menerima kunjungan Duta Besar Polandia melalui daring, Kamis (15/10). Duta Besar Polandia, Beata Stoczyńska dalam kunjungan via daring bermaksud ingin mengetahui perkembangan teknologi nuklir di Indonesia khususnya di bidang energi dan menjajaki peluang kerja sama antara Polandia dan BATAN di bidang pengembangan teknologi nuklir.

Mengawali diskusinya, Anhar menjelaskan kepada Beata tentang kegiatan raung lingkup kegiatan BATAN. “Sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai tugas melakukan penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan iptek nuklir, BATAN mempunyai kegiatan di bidang pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan,” ujar Anhar.

Dijelaskan Anhar, terdapat 5 kawasan nuklir di Indonesia yakni di Kantor Pusat, Pasar Jumat, Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Selain itu, BATAN mengelola 3 reaktor riset yakni di Reaktor Kartini, Yogyakarta yang difungsikan sebagai sarana pelatihan, Triga 2000 di Bandung yang berfungsi memproduksi radioisotop dan memberikan layanan dengan metode analisis aktivasi neutron, serta Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy di Serpong yang berkapasitas 30MW.

“Selain reaktor dan beberapa laboratorium, BATAN juga memiliki fasilitas iradiator yang diberi nama Iradiator Gama Merah Putih (IGMP) yang diresmikan pada akhri 2017 oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla. IGMP ini dapat difungsikan sebagai fasilitas pengawetan bahan makan, obat herbal, dan sterilisasi alat kedokteran,” jelas Anhar.

Terkait bidang energi, kepada Anhar, Beata menanyakan status terkini rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Menjawab pertanyaan tersebut, Anhar menjelaskan bahwa BATAN telah melakukan kegiatan studi tapak dan studi kelayakan di daerah Semenanjung Muria (Jepara) dan Kepulauan Bangka Belitung.

“Saat ini sedang dilakukan sedang dilakukan penyiapan studi tapak dan studi kelayakan di wilayah Kalimantan Barat. Kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan prioritas riset nasional (PRN),” tambahnya.

Dipastikan Anhar bahwa BATAN adalah lembaga penelitian bukan sebagai lembaga yang nantinya akan melakukan pembangungan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Batan yang melakukan penyiapan berupa studi tapak dan studi kelayakan sebeum dilakukan pembangunan PLTN.

Di dalam kebijakan pemerintah, kata Anhar, PLTN dimasukkan menjadi bagian dari energi baru dan terbarukan. Dalam kebijakan tersebut, PLTN menjadi pilihan terakhir dan pembangunannya harus mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan.

Terkait kemungkinan dirintisnya kerja sama antara BATAN dan Polandia, Anhar menuturkan, BATAN merupakan lembaga yang terbuka untuk melakukan kerja sama baik antarlembaga maupun dengan beberapa negara lain. Kedepan sangat dimungkinkan adanya kerja sama antara BATAN dengan beberapa institusi atau perguruan tinggi di Polandia yang bergerak di bidang pengembangan teknologi nuklir.

Berbicara soal pembangunan PLTN, Beata menyadari bahwa persoalan nuklir menjadi isu yang sensitif mungkin tidak hanya di Indonesia tapi juga sebagian besar di negara-negara lain di dunia ini. Untuk itulah Polandia dan Indonesia perlu menjalin kerja sama khususnya dalam hal berbagi pengalaman dalam penyiapan program PLTN. (Pur)