Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Jakarta, 24/09/2020) Indonesia dan Badan Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) menandatangani dokumen Kerangka Program Negara/Country Program Framework (CPF)  periode tahun 2021-2025 di Markas Besar IAEA, Wina, Austria, Rabu (23/09). Penandatanganan ini dilakukan di sela-sela Sidang Umum/General Conference IAEA ke-64, dimana Wakil Tetap RI (Watapri) di Wina, Dubes Dr. Darmansjah Djumala bertindak sebagai Vice President Konferensi.

Penandatanganan ini dilakukan oleh Watapri, Dubes Dr. Darmansjah Djumalah dengan Deputi Direktur Jenderal IAEA Bidang Kerjasama Teknis, Dazhu Yang. Penandatanganan ini juga disaksikan secara virtual oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan dan tim teknis BATAN.

Dr. Darmansjah Djumala dalam keterangan tertulisnya mengatakan, dokumen CPF merupakan dokumen rencana strategis jangka menengah yang akan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kerjasama teknis (Technical Cooperation) pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Dokumen CPF tahun 2021-205 ini mencakup 6 bidang kerjasama yakni keselamatan dan keamanan radiasi, pangan dan pertanian, kesehatan dan nutrisi, sumber daya air dan lingkungan, energi dan industri, serta pengembangan kapasitas.

“Penyusunan CPF ini mengacu pada program dan prioritas pembangunan nasional, serta mengakomodasi elemen-elemen dalam Sustainable Development Goals. Implementasi dokumen CPF ini akan sangat penting bagi pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai yang bersifat membumi (down-to-earth) serta memberikan dampak positif nyata bagi masyarakat.,” ujar Dr. Darmansjah.

Hal senada dikatakan, Dazhu Yang, bahwa dokumen CPF ini menjadi milestone penting bagi keberlanjutan pelaksanaan program kerjasama teknis bersama Indonesia. Indonesia menjadi anggota IAEA sejak tahun 1957 dan berperan aktif dalam upaya global pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Di tempat terpisah, Anhar mengatakan, CPF merupakan rencana strategis kerja sama teknis antara Indonesia dengan IAEA yang telah disinkronkan dengan kerja sama antarlembaga di bawah PBB yang meliputi 6 bidang kerja sama. “Pada setiap area bidang kerja sama di CPF terdapat beberapa kegiatan, diantaranya studi kelayakan untuk introduksi PLTN jenis Small Modular Reactor (SMR), penanganan limbah unsur radioaktif alam, termasuk didalamnya pengolahan logam tanah jarang (LTJ) dari pasir monasit, pemanfaatan iradiator, pengelolaan sampah plastik dan pngembangan radioisotop dan radiofarmaka untuk diagnosis dan terapi,“ kata Anhar.

Anhar menambahkan, mengingat pentingnya implementasi CPF untuk kontribusi iptek nuklir dalam pembangunan nasional, diharapkan kerja sama teknis dengan IAEA dan lembaga PBB terkait lainnya dapat berjalan dengan baik. Selain itu, dukungan dari kementerian/lembaga lain sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan CPF.

Kerjasama pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai antara Indonesia dan IAEA telah memberikan manfaat nyata bagi Indonesia, diantaranya pemanfaatan teknologi mutasi radiasi untuk pemuliaan varietas tanaman pangan (padi, kedelai, kacang hijau, sorgum, kacang tanah dan pisang) yang memberikan dampak positif bagi peningkatan pendapatan petani pengguna, diagnosa dan terapi penyakit menggunakan teknologi radiasi, hingga pemanfaatan teknologi iradiasi oleh sektor industri nasional.

Melalui kerjasama teknis dengan IAEA, Indonesia juga telah berhasil meningkatkan kapasitas SDM dan fasilitas penelitiannya sehingga menjadi pusat acuan (collaborating centre) IAEA untuk bidang pangan serta uji tak merusak, serta berperan aktif memberikan asistensi kepada negara anggota lain untuk meningkatkan kapasitas dan penguasaan teknologi. (Humas)