Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Jakarta, 01/06/2020) Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan menyampaikan ide atau gagasan munculnya dua inovasi layanan publik di hadapan para tim penilai Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) secara daring, Rabu (01/07). Kedua inovasi layanan publik BATAN yang lolos pada top 99 KIPP yakni Samarium untuk terapi paliatif kanker (SUNTIK) dan aplikasi internet reactor laboratory sebagai media pembelajaran fisika reaktor (API RELA MEMBARA).

API RELA MEMBARA merupakan inovasi layanan publik dari Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA), sedangkan SUNTIK merupakan inovasi layanan publik dari Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR). Dalam presentasinya, Anhar mengatakan, selama ini banyak masyarakat yang masih ketakutan terhadap pemanfaatan teknologi nuklir, meskipun perkembangan teknologi nuklir saat ini sudah sangat pesat dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, banyak juga masyarakat Indonesia yang ingin mengetahui tentang nuklir tetapi tidak dapat berkunjung langsung ke fasilitas karena jarak tempuh yang terlalu jauh. “Kami sering menemui masyarakat khususnya dari perguruan tinggi yang ingin mempelajari tentang nuklir, tetapi terkendala keterbatasan fasilitas. Oleh karena itulah BATAN menawarkan layanan API RELA MEMBARA,” kata Anhar.

Dengan inovasi layanan API RELA MEMBARA jelas Anhar, memungkinkan masyarakat mempelajari reaktor nuklir dari jarak jauh. Ketidaktersediaan fasilitas dan jarak, tidak lagi menjadi hambatan bagi masyarakat untuk mempelajari reaktor nuklir.

Pengguna layanan ini tidak hanya berasal dalam negeri, melainkan juga berasal dari luar negeri. Melalui aplikasi ini, BATAN berkomitmen menjaga semangat belajar anak bangsa tetap membara.

Hal yang sama disampaikan Kepala Bidang Reaktor – PSTA, Umar Syaiful Hidayat, hampir semua perguruan tinggi yang mempunyai jurusan Fisika pasti mempelajari tentang fisika inti. Sementara itu, para mahasiswa mengalami kesulitan untuk melakukan praktikum mata kuliah fisika inti, karena tidak mempunyai fasilitas laboratorium praktikum berupa reaktor.

“Laboratorium untuk praktikum fisika ini hanya ada di Yogyakarta yakni Reaktor Kartini, sehingga banyak perguruan tinggi yang merasa kesulitan untuk mewujudkan praktikum mata kuliah fisika inti,” kata Umar.

Aplikasi API RELA MEMBARA ini, menurut Umar, merupakan aplikasi yang dapat mewujudkan praktikum mata kuliah fisika inti dari jarak jauh dengan menggunakan jaringan internet yang dapat menjangkau seluruh pelosok nusantara. Dengan fasilitas video conference, pembelajaran tetap dapat dilakukan secara interaktif meskipun dilakukan dari jarak yang jauh.

“Dengan menggunakan website, data praktikum dapat dilihat, dikirim, dan dianalisa dengan mudah bahkan dapat dilakukan di masa pandemi COVID-19 ini,” tambah Umar.

Inovasi ini menurut Umar, dikembangkan dengan mengadopsi dari layanan sejenis yang diberlakukan di Amerika dengan berbagai modifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia. Layanan ini telah diujicobakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia bahkan dengan perguruan tinggi di Uni Emirat Arab. Selain itu, layanan ini telah dipromosikan di tingkat internasional dalam forum konferensi nuklir di Vienna, Austria tahun 2019.

“Yang terpenting adalah layanan ini memberikan dampak yang sangat signifikan, mulai dari metode yang mengubah praktikum konvensional menjadi yang lebih milenial dengan jangkauan yang lebih luas. Selain itu, anggaran pendidikan bagi perguruan tinggi menjadi lebih efisien karena tidak harus memiliki lab tersendiri,” lanjutnya.

Baca juga: 19 Dosen Fisika Ikuti Workshop Internet Reactor Laboratory

Inovasi layanan publik BATAN yang lain yang juga dipresentasikan di KIPP adalah layanan SUNTIK. Menurut Anhar, inovasi layanan ini merupakan bagian upaya BATAN dalam menghilirkan produk obat berupa radioisotop yakni Samarium yang bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit berlebihan pada penderita kanker stadium lanjut.

“Samarium dapat menggantikan morfin yang selama ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada penderita kanker. Dengan Samarium, memungkinkan para penderita kanker dengan stadium lanjut dapat terus melakukan aktivitas sehari-hari tanpa terhalang oleh rasa sakit yang berlebihan,” kata Anhar.

Kepala PTRR, Rohadi Awaludin mengatakan, berawal dari kenyataan bahwa angka kejadian kanker di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat dari 1,4/1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,8/1000 penduduk pada tahun 2018. Mayoritas penderita kanker di Indonesia terdeteksi sudah pada stadium lanjut.

“Berdasarkan data WHO bahwa penderita kanker pada stadium lanjut sebanyak 66% atau 2/3 mengalami nyeri akibat kanker yang telah metastasis ke tulang, sehingga mereka memerlukan pereda nyeri untuk meningkatkan kualitas hidup mereka,” ujar Rohadi.

Selama ini, tutur Rohadi, pereda nyeri yang digunakan adalah morfin, namun akan berdampak mengganggu kesadaran dan memberikan efek ketagihan. Kerena morfin ini tidak mampu bertahan lama, maka harus diberikan setiap hari.

Karena alasan itulah, BATAN memproduksi samarium untuk pengganti morfin sebagai pereda nyeri pada penderita kanker yang sudah bermestatasis ke tulang. “Dengan samarium bisa meredakan nyeri dalam waktu yang lama dan efek sampingnya sangat ringan,” tambah Rohadi.

Baca juga: BATAN Produksi Obat Pereda Sakit pada Penderita Kanker

Inovasi SUNTIK sudah dimulai sejak tahun 2017 dan terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun baik dari segi penggunaan maupun jumlah rumah sakitnya. Rumah sakit yang menggunakan Samarium pada tahun 2017 sebanyak 2 rumah sakit meningkat menjadi 4 rumah sakit pada 2018 dan 5 rumah sakit pada tahun 2019.

Keberhasilan inovasi ini menurut Rohadi, tidak terlepas dari dukungan beberapa pihak diantaranya PT. Kimia Farma, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia sebagai pengguna inovasi ini, dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir.

Penggunaan samarium diharapkan mampu memberi harapan baru kepada para penderita kanker khususnya stadium lanjut. “Samarium yang diinjeksikan kepada penderita kanker dapat meredakan rasa sakit dalam waktu yang lama sehingga dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya,” pungkas Rohadi (Pur).