Slide item 2

Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum
BATAN

Slide item 3

Wakil Presiden Boediono menganugerahkan penghargaan kepada BATAN sebagai salah satu badan publik yang memberikan layanan informasi terbaik

Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 3

Wakil Presiden Boediono menganugerahkan penghargaan kepada BATAN sebagai salah satu badan publik yang memberikan layanan informasi terbaik

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Jakarta, 28/12/2015) Sudah enam kali sejak tahun 2010 BadanTenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama dengan lembaga independen menyelenggarakan survei jajak pendapat penerimaan masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi nuklir di bidang energi dan non energi. Pada tahun 2015 ini, Sigma Research salah satu lembaga independen melalui lelang terbuka berkesempatan melaksanakan survey jajak pendapat tersebut.

Dengan responden sebanyak 4000 orang secara nasional, survei ini lebih ditekankan pada penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia. “Empat ribu responden ini diambil dari 34 provinsi merupakan keterwakilan dari seluruh wilayah Indonesia,” ucap Ketua Lembaga Sigma Research, Prima Ariestonandri di depan awak media pada jumpa pers yang digelar di Kantor Pusat BATAN, Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan (28/12).

Prima menambahkan bahwa tujuan survei ini adalah mengukur tingkat penerimaan masyarakat terhadap iptek nuklir khususnya PLTN. “Di samping itu survei ini juga bertujuan mengukur pengetahuan responden mengenai dampak posisif dan negatif dari penggunaan teknologi nuklir,” tambahnya.

Berdasarkan hasil survei tahun ini, didapatkan 75,3% masyarakat menerima pembangunan PLTN sebagai salah satu alternatif penyedia kebutuhan listrik di Indonesia.

Menanggapi tingginya perolehan penerimaan masyarakat terhadap pembangunan PLTN tersebut, Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengaku mendapat kejutan, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah sangat membutuhkan penenuhan energi khususnya listrik di wilayahnya. “Angka 75,3% merupakan angka yang besar dalam penerimaan masyarkat terhadap pembangunan PLTN. Menurut anaslisa saya, hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia sudah sangat memerlukan pasokan energi listrik yang stabil,” kata Djarot.

Penyumbang angka terbesar penerimaan masyarakat terhadap pembangunan PLTN berasal dari luar pulau jawa. Kenyataan ini sangat didukung oleh kondisi pasokan energi listrik di luar pulau jawa yang sering mengalami pemadaman karena kekurangan pasokan. 

“Semoga angka ini menjadi pesan tersendiri bagi pemerintah bahwa khususnya di luar pulau jawa pasokan energi listrik sangat kurang. Saat ini masyarakat mengharapkan pasokan listrik yang stabil, dan PLTN dapat dijadikan sebagai salah satu solusi dalam menyelesaikan masalah tersebut,” tambah Djarot.

Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti, Jumain Appe yang hadir dalam jumpa pers tersebut mengatakan bahwa kebutuhan listrik nasional mendatang sangat tinggi, sesuai dengan kebijakan energi nasional 23% pasokan energi medatang harus berasal dari energi baru dan terbarukan. "Untuk dapat memenuhi kebutuhan pasokan energi listrik mendatang, mau tidak mau PLTN harus memberikan sumbangannya sebagai penghasil energi listrik yang stabil," ucap Jumain.

Hasil survei juga menjelaskan bahwa masyarakat saat ini sudah banyak mengetahui informasi tentang nuklir dari berbagai media baik cetak maupun elektronik, hal ini menjadikan masyarakat mengetahui dampak positif dan negatif dari penggunaan teknologi nuklir. Sebanyak 45,3% masyarakat yang menyatakan bahwa penggunaan teknologi nuklir mempunyai dampak positif sama besar dengan dampak negatif. Sisanya sebanyak 32.1% menyatakan dampak positif lebih besar dibanding dengan dampak negatif dan 22,2% menyatakan dampak negatif lebih besar daripada dampak positifnya, dan hanya 0,5% yang tidak tahu terhadap dampak negatif atau positif dari penggunaan teknologi nuklir. (pur)