Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Tangsel, 27/09/2021) Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko berniat akan manata ulang pengelolaan seluruh sumber daya di lingkungan BRIN, salah satunya yakni infrastruktur di Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Hal ini disampaikan Kepala BRIN pada kunjungan kerjanya di KNS, Kawasan Puspiptek, Serpong, Minggu (26/09).

Upaya penetaan ulang pengelolaan sumber daya di KNS bertujuan untuk menjadikan riset teknologi nuklir Indonesia bertaraf global. Kepala BRIN mengungkapkan riset dan pengembangan teknologi nuklir merupakan hal yang advance, berbiaya tinggi, dan membutuhkan waktu yang panjang, untuk itulah perencanaan baik program maupun anggaran harus dilakukan dengan matang.

“Jadi kita tidak bisa bicara bahwa kita mau program setahun, dua tahun, tidak bisa begitu. Tujuan utamanya adalah kita ingin memperbaiki cost benefit secara keseluruhan yang memadai dari program riset teknologi nuklir ini,” ujar Kepala BRIN.

Kepala BRIN menegaskan, terdapat dua hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pengembangan riset di bidang nuklir. Kedua hal tersebut adalah peningkatan kapasitas SDM yang ada dan revitalisasi infrastruktur secara keseluruhan, tidak bisa dilakukan setengah-setengah atau tambal sulam.

(Jakarta, 21/09/2021) Indonesia melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (sebelumnya bernama BATAN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendapat penghargaan (outstanding achievement award) dari Badan Pangan Dunia – Food and Agriculture Organization (FAO) dan Badan Atom Dunia – International Atomic Energi Agency (IAEA). Penghargaan disampaikan Dirjen IAEA, Rafael Mariano Grossi kepada Duta Besar RI untuk PBB, Darmansjah Djumala pada rangkaian persidangan IAEA General Conference ke-65 di Markas PBB Wina, Austria, Senin (20/09).

Penghargaan ini diberikan atas capaian riset dan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) di bidang pemuliaan tanaman pangan. Hingga saat ini, ORTN melalui teknologi nuklir telah menghasilkan 32 varietas padi, 12 varietas kedelai, 3 varietas sorgum, 1 varietas gandum, 1 varietas kacang tanah, dan 1 varietas pisang.

Dirjen IAEA mengatakan, perubahan iklim yang melanda dunia saat ini menjadi tantangan bagi para peneliti untuk mengembangkan varietas tanaman unggul. “Dunia saat ini dihadapkan pada tantangan serius, yaitu perubahan iklim dan ancaman terhadap ketahanan pangan,” kata Rafael.

“Upaya mencari solusi bersama perlu terus dilakukan masyarakat global, diantaranya melalui pemanfaatan teknologi nuklir oleh para pakar nuklir di banyak negara yang mengembangkan varietas tanaman unggul baru,” imbuh Rafael.

(Serpong, 10/02/2021), “Masyarakat seringkali dibuat bingung oleh banyaknya hoax yang beredar mengenai vaksin, dengarkanlah informasi yang dikeluarkan hanya oleh narasumber yang kompeten,” ujar Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, KAI, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi dan Juru Bicara Ikatan Dokter Indonesia pada Webinar : Yuk Kenalan dengan Vaksin Covid – 19 yang diselenggarakan BATAN dalam rangka bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) (10/02).

(Jakarta, 08/12/2020) Sejak tahun 2015 Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mendapat kepercayaan dari Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai Collaborating Center (CC) on Nondestructive Diagnostic, Testing and Inspection Technologies dengan menggunakan teknologi nuklir. BATAN melalui Biro Hukum, Humas dan Kerja Sama (BHHK) menyelenggarakan seminar daring  dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Uji Tak Rusak Berbasis Nuklir” yang disiarkan live melalui konferensi video Zoom dan Youtube Humas BATAN, Selasa (08/12).

Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN, Efrizon Umar dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan ditunjuknya BATAN sebagai CC oleh IAEA berarti menunjukkan bahwa kemampuan BATAN di bidang nondestructive test tentu tidak diragukan lagi.

“Yang perlu kita sadari bersama, sebagai CC yang berarti sebagai pusat kolaborasi adalah bagaimana kita berkolaborasi dengan pihak-pihak lain dalam memanfaatkan dan mengimplementasikan aplikasi teknologi nuklir, khususnya terkait dengan nondestructive test atau uji tak rusak untuk kesejahteraan masyarakat. Jadi kita tidak hanya menyatakan bahwa “kita bisa”, tapi seberapa jauh kita dapat memberikan manfaat untuk masyarakat, itu yang penting,” ungkap Efrizon.

Disampaikan pula oleh Efrizon agar kegiatan CC nondestructive test ini ke depan sudah lebih terukur, seberapa jauh stakeholders di luar BATAN memanfaatkan kemampuan BATAN dalam bidang nondestructive test ini. “Yang perlu saya garis bawahi adalah bagaimana kita memanfaatkan kemampuan kita dalam bidang ini untuk berkolaborasi dengan pihak-pihak luar, karena dalam masa sekarang ini  kolaborasi sangat penting,” katanya.

(Jakarta, 02/12/2020) Kegiatan penelitian, pengembangan dan pengaplikasian Iptek nuklir di Indonesia dimulai sejak tahun 1954, dimana pemerintah Indonesia membentuk Komite Penilaian Radioaktivitas yang bertujuan untuk melakukan penyelidikan adanya radioaktivitas di wilayah Indonesia dan apa dampaknya kepada masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada gelaran simposium bersama antara Pemerintah Indonesia dengan Jepang secara daring, Rabu (2/12).

Selang 4 tahun kemudian dibentuklah Lembaga Tenaga Atom yang kemudian berubah nama menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada tahun 1964, kegiatan penelitian dan pengembangan Iptek nuklir terus berlanjut dengan dibangunnya 3 reaktor nuklir riset dalam kurun waktu 25 tahun.

“Upaya pengembangan teknologi nuklir ditandai dengan pembangunan reaktor nuklir pertama pada tahun 1961 dan diresmikan pada tahun 1965, reaktor tipe TRIGA dengan daya 250 Kw, yang bertujuan untuk mendukung perkembangan produksi radioisotop, menyusul pembangunan reaktor riset tersebut, Indonesia memutuskan untuk membangun lagi 2 reaktor lainnya, yaitu reaktor riset Kartini dengan daya 100 Kw di Jogjakarta serta reaktor riset multiguna GA Siwabessy dengan daya 30 Mw di Serpong pada tahun 1987,” ujar Anhar.