HUT RI tahun 2020
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

(Jakarta, 04/01/2021) Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan berpesan kepada para Pimpinan Tinggi Madya (PTM) untuk terus berupaya mewujudkan empat pilar strategis BATAN. Hal ini disampaikan Anhar pada pelantikan dua PTM di lingkungan BATAN di Kantor Pusat, Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Senin (04/01).

Kedua PTM yang dilantik adalah Agus Sumaryanto sebagai Sekretaris Utama menggantikan Falconi Margono yang saat ini menjabat sebagai Pejabat Fungsional Analis Kebijakan Utama, dan Totti Tjiptosumirat sebagai Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir menggantikan Hendig Winarno yang saat ini menjabat sebagai Peneliti Utama.

BATAN di masa yang akan datang, menurut Anhar, akan menghadapi tantangan yang semakin berat dan tidak mudah. Namun dengan semangat dan motivasi yang tinggi semua tantangan itu akan dapat teratasi dengan baik.

Untuk itulah, sebagai PTM yang baru dilantik, Anhar mengajak untuk selalu memperhatikan empat pilar strategi BATAN. Pertama, menjadikan BATAN sebagai organisasi yang modern, yaitu organisasi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan yang cepat.

(Jakarta, 04/01/2021) Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan menyampaikan pesan kepada para calon pengawai negeri sipil (CPNS) yang akan memulai bekerja, untuk menjadi generasi yang akan membawa lembaga ini menjadi BATAN emas di tahun 2045. Menurutnya, hal ini sejalan dengan visi Indonesia yang diusung pemerintah yakni menjadikan Indonesia emas pada usia 100 tepatnya tahun 2045.

“Dari 146 CPNS yang diterima BATAN, maryoritas usianya berada pada 24 tahun, ini merupakan usia generasi yang nantinya dapat membawa BATAN menjadi BATAN Emas pada tahun 2045,” kata Anhar pada pertemuan secara daring dengan para CPNS, Senin (04/01).

Untuk mewujudkan hal itu, lanjut Anhar, setiap CPNS yang nantinya akan diangkat menjadi PNS, dalam bekerja selalu mempunyai motivasi yang tinggi dan fokus dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing dalam memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara. Selain itu, kolaborasi antara unit kerja menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai hasil yang maksimal.

“Meskipun nantinya para CPNS akan ditempatkan di masing-masing unit kerja yang ada di BATAN, bukan berarti kalian harus mengisolasi diri, namun harus tetap menjalin kerja sama dengan unit kerja lainnya untuk menjalankan tugas dan kewajiban,” lanjutnya.

(Jakarta, 17/12/2020) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk ke – 9 kalinya menyerahkan arsip statis ke Arsip Nasional (ANRI) Republik Indonesia. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Penyerahan Arsip Statis BATAN oleh Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan dan Plt. Kepala ANRI, M. Taufik, yang disampaikan pada Webinar Kearsipan melalui konferensi video Zoom, Kamis (17/12).

Pada penyerahan arsip kali ini, sebanyak 3 boks yang terdiri dari 22 nomor, 16 jilid, dan 8 berkas diserahkan ke ANRI. Arsip statis tersebut berasal dari Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) dan Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) BATAN, yang merupakan arsip sejak tahun 1966 hingga 2012.

Tercatat, salah satu arsip yang diserahkan adalah Pengukuran Reaktivitas Batang Pengontrol Reaktor Triga Mark II dengan Cara “Rod Drop”, yang merupakan arsip pada tahun 1966. Penyerahan arsip statis ini merupakan komitmen BATAN untuk melestarikan arsip sebagai warisan intelektual untuk generasi mendatang.

(Jakarta, 08/12/2020) Sejak tahun 2015 Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mendapat kepercayaan dari Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai Collaborating Center (CC) on Nondestructive Diagnostic, Testing and Inspection Technologies dengan menggunakan teknologi nuklir. BATAN melalui Biro Hukum, Humas dan Kerja Sama (BHHK) menyelenggarakan seminar daring  dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Uji Tak Rusak Berbasis Nuklir” yang disiarkan live melalui konferensi video Zoom dan Youtube Humas BATAN, Selasa (08/12).

Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN, Efrizon Umar dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan ditunjuknya BATAN sebagai CC oleh IAEA berarti menunjukkan bahwa kemampuan BATAN di bidang nondestructive test tentu tidak diragukan lagi.

“Yang perlu kita sadari bersama, sebagai CC yang berarti sebagai pusat kolaborasi adalah bagaimana kita berkolaborasi dengan pihak-pihak lain dalam memanfaatkan dan mengimplementasikan aplikasi teknologi nuklir, khususnya terkait dengan nondestructive test atau uji tak rusak untuk kesejahteraan masyarakat. Jadi kita tidak hanya menyatakan bahwa “kita bisa”, tapi seberapa jauh kita dapat memberikan manfaat untuk masyarakat, itu yang penting,” ungkap Efrizon.

Disampaikan pula oleh Efrizon agar kegiatan CC nondestructive test ini ke depan sudah lebih terukur, seberapa jauh stakeholders di luar BATAN memanfaatkan kemampuan BATAN dalam bidang nondestructive test ini. “Yang perlu saya garis bawahi adalah bagaimana kita memanfaatkan kemampuan kita dalam bidang ini untuk berkolaborasi dengan pihak-pihak luar, karena dalam masa sekarang ini  kolaborasi sangat penting,” katanya.

(Jakarta, 02/12/2020) Kegiatan penelitian, pengembangan dan pengaplikasian Iptek nuklir di Indonesia dimulai sejak tahun 1954, dimana pemerintah Indonesia membentuk Komite Penilaian Radioaktivitas yang bertujuan untuk melakukan penyelidikan adanya radioaktivitas di wilayah Indonesia dan apa dampaknya kepada masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada gelaran simposium bersama antara Pemerintah Indonesia dengan Jepang secara daring, Rabu (2/12).

Selang 4 tahun kemudian dibentuklah Lembaga Tenaga Atom yang kemudian berubah nama menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada tahun 1964, kegiatan penelitian dan pengembangan Iptek nuklir terus berlanjut dengan dibangunnya 3 reaktor nuklir riset dalam kurun waktu 25 tahun.

“Upaya pengembangan teknologi nuklir ditandai dengan pembangunan reaktor nuklir pertama pada tahun 1961 dan diresmikan pada tahun 1965, reaktor tipe TRIGA dengan daya 250 Kw, yang bertujuan untuk mendukung perkembangan produksi radioisotop, menyusul pembangunan reaktor riset tersebut, Indonesia memutuskan untuk membangun lagi 2 reaktor lainnya, yaitu reaktor riset Kartini dengan daya 100 Kw di Jogjakarta serta reaktor riset multiguna GA Siwabessy dengan daya 30 Mw di Serpong pada tahun 1987,” ujar Anhar.