Buku Proteksi Radiasi

Buku Proteksi Radiasi

Buku untuk Negeri

Buku untuk Negeri

Buku Energi

Buku Energi

Serpong (13/10/16); Sebagai penerbit, BATAN Press telah resmi menjadi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada Oktober 2015 lalu sehingga BATAN Press sudah merupakan sebuah publishing house,  namun demikian tidak cukup sampai disitu karena BATAN Press berada dalam lingkup iptek nuklir, kedepan BATAN Press perlu mempersiapkan diri untuk bisa masuk dalam kategori scientific publishing house atau penerbit ilmiah.

Saat ini telah dibentuk Komite Nasional Akreditasi Penerbit Ilmiah (KNAPI) yang disiapkan sebagai lembaga yang berhak mengakreditasi penerbit ilmiah di Indonesia dan rencananya akreditasi akan dimulai sejak tahun 2017. Terkait hal itu BATAN Press perlu menyiapkan segala sesuatu menghadapi akreditasi, termasuk buku yang akan diterbitkan karena salah satu syarat utama akreditasi penerbit ilmiah adalah menerbitkan 5 buku dalam setahun.

Untuk mencapai hal ini Kamis (13/10/2016) BATAN Press mengadakan sosialisasi bagi para peneliti dan pejabat fungsional BATAN lainnya dari berbagai pusat teknis di Kawasan Nuklir Serpong. Dihadiri 80 peserta, diharapkan sosialisasi ini dapat memicu para penulis iptek nuklis untuk menulis buku dan menyerahkan naskahnya untuk diterbitkan BATAN Press.

Deputi Bidang PTN Hendig Winarno mengajak para peneliti untuk menulis minimal satu buku dalam masa bakti nya, karena menurutnya buku lah yang akan ditinggalkan kepada generasi yang akan datang. Hal ini diamini oleh Ketua Dewan Editor BATAN Press Anhar Antariksawan, menurutnya selain berfungsi sebagai wadah para peneliti dalam menerbitkan buku yang dapat dinilaikan, BATAN Press juga memiliki fungsi preservasi pengetahuan, dimana saat ini ada gap generasi yang cukup jauh di BATAN.

Sementara itu salah seorang anggota Dewan Editor BATAN Press lainnya Evvy Kartini mensupport para peneliti untuk menulis, menurutnya lebih baik jika dilakukan bersama-sama “satu orang sepuluh halaman saja, lima atau enam orang sudah memenuhi syarat jadi satu buku, coba bapak ibu kalo print ketikan yang ada di whatsapp itu, hasilnya sudah jadi berlembar-lembar halaman buku” demikian tuturnya sambil berkelakar.

Respon dari para peserta beragam, seperti Marthalena yang menanyakan batasan-batasan kebaruan isi buku serta Setio Purwanto yang menanyakan tentang hak cipta.

Sampai saat ini sudah tujuh naskah buku yang masuk ke Dewan Editor BATAN Press dan sedang dalam proses review, hasilnya akan ditentukan apakah buku tersebut layak untuk diterbitkan oleh BATAN Press, perlu revisi lebih lanjut atau dianggap belum memenuhi syarat untuk diterbitkan (eph)