Ruang reaktor nuklir milik Badan Tenaga Nuklir Nasional di Kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (23/4/2013).

KOMPAS.com - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) berencana untuk membangun reaktor nuklir di Serpong. Reaktor yang dibangun adalah reaktor daya eksperimen, bukan reaktor nuklir komersial.
"Kapasitasnya 30 Megawatt," kata Kepala Batan, Djarot Wisnubroto, dalam pertemuan dengan wartawan, Kamis (21/8/2014) di Jakarta.
Karena sifatnya eksperimental, maka reaktor yang dibangun tidak ditargetkan untuk menghasilkan listrik untuk konsumsi publik.
"Tujuannya adalah untuk demonstrasi kepada masyarakat tentang cara menghasilkan listrik nenggunakan nuklir," kata Djarot.
Selain itu, reaktor yang dibangun diharapkan bisa menunjukkan kepada publik bahwa reaktor nuklir juga bisa menghasilkan bahan lain, misalnya hidrogen.
Reaktor akan dibangun di wilayah Serpong, di kawasan Puspiptek. "Biayanya Rp 1,6 triliun," ujar Djarot.
Sejauh ini, telah disepakati bahwa dana pembangunan reaktor daya itu diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Djarot mengatakan, dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 bidang iptek, dana pembangunan reaktor daya eksperimen juga sudah dimasukkan.
Meski demikian, realisasi pembangunan reaktor daya eksperimen itu akan tergantung pada keputusan pemerintah yang baru nanti.
Dalam pertemuan hari ini, hadir pula Deputi Dirjen Badan Atom Internasional (IAEA), Alexander Bychkov dan pihak Bapeten.
Dalam pembangunan reaktor daya eksperimen nanti, IAEA bersedia memberikan bantuan teknis dan ahli. Jenis bantuan secara spesifik akan dibahas dalam pertemuan Batan dan IAEA besok.

Sebenarnya teknologi nuklir dibidang non-energi telah banyak dimanfaatkan, seperti dalam bidang industri, kesehatan, pertanian, peternakan, sterilisasi produk farmasi dan alat kedokteran, pengawetan bahan makanan hingga hidrologi. Namun, pemanfaatan nuklir untuk energi belum bisa digunakan secara maksimal, salah satu alasannya adalah ketakutan dari masyarakat soal bahaya radiasi dari nuklir. Padahal memanfaatkan tenaga nuklir sebagai sumber energi relatif lebih murah, aman dan tidak mencemari lingkungan serta aman.

Perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) setiap tahun semakin bertambah, tercatat hingga akhir 2011 sudah ada 435 unit PLTN yang beroperasi di seluruh dunia yang tersebar di 30 negara dengan kontribusi sekitar 17% dan berkapasitas mencapai 368,3 GWe dari pasokan tenaga listrik dunia. Sedanagkan 63 unit PLTN dengan total kapasitas daya 61 GWe sedang dalam tahap konstruksi di 14 negara dan rencananya akan dibangun 156 unit PLTN di 28 negara.

Secara operasional Pembangkit Listrik Konvensional (PLK) dengan PLTN tidak jauh berbeda, air diuapkan di dalam satu ketel melalui pembakaran bahan fosil (minyak, batubara dan gas). Uap yang dihasilkan dialirkan ke turbin uap yang akan digunakan untuk menggerakkan turbin. Turbin tersebut akan menggerakkan generator sehingga dapat menghasilkan listrik.

Kebutuhan energi semakin besar, termasuk untuk memenuhi pasokan listrik. Dengan nuklir bisa didapatkan solusi energi yang mampu menghasilkan listrik masif dan konstan. Aplikasi teknologi Nuklir untuk kehidupan manusia banyak macamnya, antara  lain untuk keperluan di bidang energi. terutama di saat kebutuhan akan energi sedang melonjak seperti sekarang.

Eksplorasi energi 
Isotop alam maupun isotop buatan misalnya dapat digunakan sebagai  alat eksplorasi dan  eksploitasi geothermal.  posisi geografi indonesia memang menguntungkan dari sisi potensi energi.  terletak  pada  daerah  interaksi antara  lempengan Euroasia, india-Australia dan pasifik menjadikannya sebagai daerah vulkanik dengan potensi panas bumi cukup besar.

Penerapan solusi energi bersih yang terlalu lambat akan meningkatkan biaya reduksi perubahan iklim, peringatan tersebut disampaikan IEA (International Energy Agency) yang menyebutkan perkiraan harga untuk memenuhi ambisi perubahan iklim dunia pada 1 bilyun dolar.

IEA mengatakan, bahwa sangat penting bagi setiap negara untuk meningkatkan segala daya dan upaya dalam memenuhi tujuan yang ditargetkan pada pertemuan Copenhagen tahun 2009 lalu, walaupun gagal untuk mencapai konsensus. Hasil dari Coppenhagen Accord adalah menetapkan tujuan bersama agar peningkatan suhu global kurang dari 2oC, wlaupun tidak menetapkan pengurangan emisi bagi masing-masing negara agar target ini dapat tercapai atau apakah semua negara mendukung atau tidak.

Berbicara pada Konferensi Perubahan Iklim (UN Climate Change Conference) di Cancun, Mexico, direktur eksekutif IEA, Nobuo Tanaka, menyampaikan bahwa walaupun langkah-langkah positif telah diambil di Copenhagen tahun lalu, namun kita tetap berkewajiban untuk mengambil langkah tepat dalam usaha menurunkan emisi.