Slide Persepsi Korupsi
Slide WBK WBBM
Slide item 2
Slide item 1
Slide item 6

PTKMR menyatakan "STOP" dan "TIDAK" untuk GRATIFIKASI, SUAP, dan KORUPSI.


(Jakarta, 11/11/2020). Menurut data United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) tentang paparan radiasi global, 80% paparan radiasi di seluruh dunia berasal dari radiasi alam. Sedangkan sisanya, 20% didominasi oleh paparan buatan. Namun, paparan buatan ini didominasi oleh paparan radiasi dalam dunia kedokteran.

Begitu pula di Indonesia, berdasarkan data perizinan pemanfaatan radiasi milik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), 50% dari pemanfaatan izin yang ada dimiliki oleh pengguna izin di bidang medis. Hal ini memperlihatkan bahwa paparan medis merupakan paparan yang signifikan menyumbang peran dalam paparan radiasi global. Hal ini disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan pada International Conference and School on Physics in Medicine and Biosystems (ICSPMB) 2020, melalui Konferensi Video Zoom, Jumat (06/11).

Anhar menjelaskan, jika paparan radiasi medis dibandingkan dengan paparan radiasi dari operasional suatu reaktor nuklir, contohnya Light Water Reactor (LWR), maka paparan radiasi lingkungan yang dihasilkan oleh LWR setara dengan pemeriksaan rontgen thorax (dada), atau seperenam dari paparan radiasi yang dihasilkan pada pemeriksaan abdomen.

“Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk takut pada radiasi di sekitar daerah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN),” tambahnya.

Peran BATAN dalam keselamatan radiasi di bidang kesehatan diawali dengan sejarah BATAN yang dimulai dengan dibentuknya Komisi Tenaga Atom untuk menginvestigasi efek senjata atom pada tahun 1954, yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan BATAN pada tahun 1965. Misi utama BATAN adalah mengembangkan ilmu nuklir yang handal, berkelanjutan dan bermanfaat untuk  masyarakat.

Peran BATAN dalam penguatan keselamatan radiasi di bidang kesehatan ditunjukkan dalam tugas BATAN di bidang hukum, humas dan kerjasama, bidang pengembangan teknologi keselamatan dan metrologi radiasi, dan bidang sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Ketiga peran tersebut berkontribusi untuk memperkuat keselamatan radiasi di bidang medis.

BATAN memiliki fasilitas untuk memastikan alat pengukur paparan radiasi yang digunakan di rumah sakit memiliki kinerja yang baik dan dapat dilacak ke sumber standar kalibrasi yang sangat baik, yaitu Secondary Standard Dosimetry Laboratory (SSDL). Selain itu, BATAN berperan dalam peningkatan sumber daya manusia melalui pelatihan dalam dan luar negeri melalui kerjasama internasional.

ICSPMB ini bertema “Kontribusi Fisika dalam Aplikasi Kedokteran dan Biomedis”, dengan menampilkan program ilmiah yang komprehensif  dan diskusi panel yang mencakup sebagian besar disiplin ilmu dalam fisika medis dan ilmu biofisika, yaitu: fisika dalam radiologi diagnostik dan intervensi, kedokteran nuklir, radioterapi, proteksi radiasi, radiobiologi, dan biosystem.

ICSPMB terselenggara atas Kerjasama BATAN dan Universitas Indonesia. Dalam penyelenggaraannya, UI juga bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Afiliasi Fisika Medis Indonesia (AFISMI).

Selain Kepala BATAN, hadir sebagai pembicara panel lainnya adalah Prof.Dr. Eng. Jun Ohta dari  Nara Institute of Science and Technology (NAIST) - Jepang, Prof. Dr. Gerhard Glatting dari Ulm University - Jerman, Prof. Hilde Bosmans dari Catholic University of Leuven - Belgium, dan Prof. Dr. Philipp J. Thurner dari Vienna University of Technology - Austria (tnt).