Slide Persepsi Korupsi
Slide WBK WBBM
Slide item 2
Slide item 1
Slide item 6

PTKMR menyatakan "STOP" dan "TIDAK" untuk GRATIFIKASI, SUAP, dan KORUPSI.

(Jakarta, 05/11/2020). Delegasi Indonesia menghadiri pelaksanaan Sidang ke-67 United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) yang dilaksanakan pada tanggal 2 hingga 6 November 2020. Sidang tahunan ke-67 UNSCEAR ini diselenggarakan secara virtual dengan dikoordinasikan oleh Sekretariat UNSCEAR di Wina, Austria, setelah sebelumnya mengalami penundaan dari agenda semula pada tanggal 13-17 Juli 2020 dengan pertimbangan keselamatan para delegasi negara anggota UNSCEAR selama pandemi COVID-19. Sidang tahunan ke-67 UNSCEAR dihadiri oleh lebih dari 132 peserta yang berasal dari 21 negara anggota dan organisasi internasional.

Dalam sesi Sidang Tahunan ke-67 UNSCEAR ini, delegasi Indonesia terdiri dari anggota Komite Pengarah UNSCEAR Indonesia, yaitu Heru Prasetio, Eri Hiswara, Nur Rahmah Hidayati, dan Nastiti Rahajeng dari Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) BATAN, Dadong Iskandar dari Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN, Dimas Irawan dari Kedutaan besar Republik Indonesia/ Perutusan Tetap Republik Indonesia PTRI di Wina, Djoko Hari Nugroho dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), dan Tiara Bunga Mayang dari Perhimpunan Onkologi Radiasi Indonesia (PORI).

Dalam sesi pembukaan, delegasi Indonesia diberikan kesempatan oleh Ketua sidang, Gillian Hirth dari Australia untuk menyampaikan pernyataan. Representatif Indonesia untuk UNSCEAR, Nur Rahmah Hidayati, atas nama delegasi Indonesia menyatakan dukungan dan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam kegiatan UNSCEAR terutama meningkatkan kontribusi data ke UNSCEAR dalam lingkup paparan medis, paparan pekerja, dan paparan publik yang akan sangat bermanfaat bagi penyusunan rekomendasi UNSCEAR dalam bidang keselamatan radiasi pengion. Dalam pengumpulan data pasien di Indonesia, BAPETEN sebagai lembaga pemerintah yang berwenang telah memulai pengumpulan data pasien secara online, yang akan digunakan sebagai dasar pembentukan Diagnostic Reference Level (DRL) dan dapat membantu Indonesia dalam mengumpulkan data paparan medis untuk UNSCEAR.

“Indonesia saat ini tengah melaksanakan studi radiasi di daerah dengan radiasi latar tinggi di pulau Sulawesi dan mengkaji dampak radiasi lingkungan terhadap masyarakat, sehingga diharapkan studi tersebut nantinya dapat memberikan tambahan data ilmiah kepada UNSCEAR,” tambah Nu Rahmah.

Dalam hal diseminasi tentang UNSCEAR, lanjut Nur Rahmah, Indonesia telah melakukan sosialisasi laporan dan standar UNSCEAR kepada tenaga medis di beberapa daerah di Indonesia, dimana informasi tentang UNSCEAR masih terbatas.

“Melalui kegiatan tersebut, Indonesia menyebarluaskan laporan UNSCEAR tentang paparan medis dalam radiologi diagnostik, radioterapi, dan kedokteran nuklir, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan awareness pemangku kepentingan pemanfaatan radiasi pengion terhadap keselamatan radiasi,” tuturnya.

Agenda untuk Sidang Tahunan ke-67 diuraikan oleh pimpinan sidang adalah melakukan evaluasi saintifik untuk publikasi yang akan disetujui dalam sidang kali ini yaitu “Biological mechanisms relevant for the inference of cancer risks from low-dose radiation”, “Levels and effects of radiation exposure due to the accident at the Fukushima Daiichi nuclear power station: implications of information published since the UNSCEAR 2013 report” dan “Evaluation of medical exposure to ionizing radiation”.  Dalam sidang juga dibahas beberapa kajian ilmiah dan pengumpulan data, yaitu “Evaluation of occupational exposure to ionizing radiation”, “Public exposure due to ionizing radiation”, dan ”Second primary cancer after radiotherapy” serta “Epidemiological studies of radiation and cancer”.

UNSCEAR adalah salah satu komite dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang didirikan oleh Sidang Umum PBB pada tahun 1955. Mandat UNSCEAR dalam sistem PBB adalah menilai dan melaporkan tingkat dan efek paparan radiasi pengion.

Pemerintah dan organisasi di seluruh dunia mengandalkan penilaian dan pandangan UNSCEAR sebagai dasar ilmiah untuk mengevaluasi risiko radiasi dan menetapkan tindakan perlindungan. UNSCEAR bertugas untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi tentang tingkat dan efek radiasi pengion.

Pada awal pendiriannya, keanggotaan UNSCEAR terdiri dari ilmuwan senior dari 15 Negara anggota PBB yang ditunjuk, yaitu Argentina, Australia, Belgia, Brasil, Kanada, Cekoslowakia, Mesir, Prancis, India, Jepang, Meksiko, Swedia, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet. Setiap tahunnya, UNSCEAR bersidang di Wina, Austria dengan dihadiri oleh hampir semua negara anggota dan perwakilan organisasi-organisasi internasional lain seperti International Atomic Energy Agency (IAEA), World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), United Nations Environment Programme (UNEP), dan International Labour Organization (ILO).

Pada tahun 1973, Indonesia menjadi anggota UNSCEAR atas undangan Sidang Umum PBB, dengan ketua delegasi sebagai wakil Indonesia adalah Dirjen BATAN pada waktu itu, A. Baiquni. Sejak tahun 1973, Indonesia selalu berpartisipasi dalam Sidang Tahunan UNSCEAR serta program kerja UNSCEAR dalam rangka meningkatkan standar keselamatan penggunaan radiasi pengion (inung/tnt).