Slide Persepsi Korupsi
Slide WBK WBBM
Slide item 2
Slide item 1

Pelaksanaan pelayanan oleh PTKMR kepada pelanggan dilakukan berdasarkan Standar Pelayanan yang berlaku di PTKMR yang ditetapkan oleh Kepala PTKMR dengan memperhatikan Peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Slide item 6

PTKMR menyatakan "STOP" dan "TIDAK" untuk GRATIFIKASI, SUAP, dan KORUPSI.

(Jakarta, 08/10/2020). Di Indonesia, pemanfaatan radiasi pengion di rumah sakit terus meningkat. Selain sinar-X untuk radiologi diagnostik yang bahkan telah digunakan sampai ke puskesmas dan klinik, akselerator linier (LINAC) untuk terapi juga telah makin banyak digunakan di berbagai rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Peningkatan pemanfaatan radiasi pengion ini juga dapat memperbesar risiko peningkatan penerimaan dosis radiasi baik oleh pasien maupun pekerja radiasinya, termasuk dokter, perawat dan radiografer, sehingga upaya proteksi harus terus - menerus ditingkatkan. Tindakan untuk melindungi pasien dan pekerja tersebut dilaksanakan melalui suatu kegiatan yang disebut sebagai proteksi radiasi.

Untuk meningkatkan upaya proteksi radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) saat ini menerima bantuan kerja sama teknik dari Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA) dalam bentuk proyek nasional dengan nomor kode INS9029 (Inducing National Capabilities for Radiation Protection in Radiodagnostic Radiotherapy and Nuclear Medicine based on Molecular Evidence).

Tujuan dari proyek ini adalah untuk memperkuat jaminan proteksi radiasi dan keselamatan pasien dalam prosedur diagnostik dan intervensi terapeutik dan aplikasi kedokteran nuklir. Selain itu, proyek ini bertujuan meningkatkan kemampuan mendeteksi dan menganalisis kerusakan genom pada tingkat molekuler yang disebabkan oleh paparan pekerjaan dan aplikasi medis radiasi pengion.

Salah satu kegiatan terkait proyek INS9029 adalah penyelenggaraan pertemuan virtual dengan tema “Radiation Protection in Medicine”, yang dilaksanakan selama dua hari (07 - 08/10). Pada hari pertama (07/10), dihadirkan narasumber Prof. Eri Hiswara yang merupakan peneliti PTKMR BATAN, dan Prof. Madan M. Rehani yang menjadi ahli IAEA, dan saat ini bekerja di Massachusettes General Hospital, Harvard Medical School, Boston, AS. Prof. Rehani saat ini juga menjabat sebagai Presiden Dewan International Organization for Medical Physics (IOMP).

Prof. Eri Hiswara mengatakan, sejumlah aturan terkait Tingkat Acuan Diagnostik (Diagnostic Reference Levels/ DRLs) telah diberikan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif, dan dalam beberapa Peraturan Kepala BAPETEN, antara lain Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 8 Tahun 2011 tentang  Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik dan Intervensional.

Terkait budaya proteksi radiasi, Eri menuturkan, di dalam PP Nomor 33 tahun 2007 telah ditetapkan bahwa Pemegang Izin pemanfaatan ketenaganukliran harus mewujudkan budaya keselamatan dengan beberapa cara, antara lain membuat kebijakan bahwa proteksi radiasi dan keselamatan sebagai prioritas utama, menetapkan SOP, mengidentifikasi penanggung jawab, mengidentifikasi otoritas, membangun jaringan komunikasi, serta menetapkan kualifikasi dan pelatihan yang memadai bagi setiap personel.

“Namun demikian, belum ada aturan atau pedoman yang spesifik dan rinci tentang bagaimana menerapkan budaya proteksi radiasi tersebut,” lanjut Eri.

Dalam kesempatan hari pertama ini, Prof. Rehani sebagai ahli IAEA menyatakan bahwa penentuan Tingkat Acuan Diagnostik sebaiknya difokuskan pada prosedur yang memberikan dosis tinggi, seperti CT, intervensi dan PET. Sedang untuk referral guidelines, Prof. Rehani menyatakan tidak perlu berpikir untuk memiliki nilai yang berlaku secara nasional, dan nilai yang telah ada seperti yang diberikan oleh American College of Radiology (ACS), misalnya, dapat saja diadopsi dan digunakan.

Baca juga: Proteksi Radiasi Penting untuk Keselamatan Pasien dan Pekerja di Kedokteran Nuklir Terapi

Pertemuan virtual hari kedua (08/10) menghadirkan narasumber Prof. Soehartati Gondhowiardjo, praktisi onkologi radiasi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua PORI (Perhimpunan Onkologi Radiasi Indonesia), dan Prof. Eva Bezak sebagai ahli IAEA dan saat ini  menjadi staf pada University of South Australia, dan juga menjadi Sekretaris Jenderal Dewan IOMP.

Kedua pembicara dalam pertemuan hari kedua ini membahas topik budaya proteksi dan keselamatan radiasi di sektor onkologi radiasi (OR), program pelatihan proteksi dan keselamatan di sektor OR, audit mutu dan keselamatan, keselamatan pasien dan pencegahan kecelakaan. Prof. Soehartati mengungkapkan berbagai kegiatan yang dilakukan di Indonesia terkait keempat topik tersebut, sementara Prof. Bezak menguraikan berbagai dimensi dari keempat topik dari perspektif IAEA maupun dari pengalaman penerapannya di Australia.

Diskusi yang terjadi selama pelaksanaan pertemuan selama dua hari tersebut diharapkan dapat memberikan masukan untuk peningkatan upaya proteksi radiasi di bidang medik, khususnya proteksi radiasi bagi pasien (tnt).