Slide Persepsi Korupsi
Slide WBK WBBM
Slide item 2
Slide item 6

PTKMR menyatakan "STOP" dan "TIDAK" untuk GRATIFIKASI, SUAP, dan KORUPSI.

(Jakarta, 15/07/2021) Dalam rangka memelihara hubungan yang baik serta menjaring masukan, kritik dan saran dari pelanggan-pelanggan, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengadakan acara Temu Pelanggan tahun 2021 dengan tema “Tetap Melayani Sepenuh Hati di Masa Pandemi”. Penerapan PPKM oleh pemerintah menjadi pertimbangan PTKMR dalam melaksanakan acara temu pelanggan secara daring. Hal tersebut dilaporkan oleh Amalina Fildzah Kusuma, selaku perwakilan ketua panitia acara temu pelanggan yang saat itu berhalangan hadir.

Plt. Kepala PTKMR, Dr. Heru Prasetio, M.Si, memberikan sambutan serta salam hormat yang sebesar-besarnya kepada pejabat-pejabat tinggi BATAN dan pelanggan PTKMR, baik dari rumah sakit, industri maupun lembaga lainnya. “PTKMR sebagai unit penyelenggara (pelayanan) publiksudah seyogyanya untuk meningkatkan dan memelihara hubungan yang baik dengan pelanggan, salah satunya dengan diadakannya temu pelanggan secara rutin,” kata Heru. Meski dimasa pandemi dengan varian virus COVID-19 yang semakin menyebar, PTKMR tetap berusaha secara maksimal untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada pelanggan.

(Jakarta, 26/04/2021) Kecelakaan yang terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl 35 tahun yang lalu, tepatnya 26 April 1986, masih menyisakan trauma bagi masyarakat dunia. Kecelakaan yang terjadi di Ukraina yang saat itu masih bergabung dengan Rusia dapat dikatakan sebagai kecelakaan nuklir terparah sepanjang sejarah dan memberikan konsekuensi kemanusiaan, lingkungan, sosial dan ekonomi yang serius.

Kecelakaan ini menyebabkan adanya penyebaran awan radioaktif ke seluruh wilayah timur laut Eropa. Untuk memastikan adanya dampak dari penyebaran awan radioaktif tersebut, dua tahun setelah kecelakaan tepatnya 11 Mei 1988, pemerintah Uni Soviet menyelenggarakan Konferensi Internasional yang membahas Aspek Medik dari Kecelakaan Chernobyl.

Selain itu, Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) turut membahas dampak kecelakaan nuklir ini melalui konferensi internasional. “Pada tahun 1996 diadakan konferensi yang membahas tingkat kontaminasi radioaktif di wilayah yang terkena dampak kecelakaan dan mengevaluasi tindakan yang telah diambil dalam memelihara kesehatan penduduk, sementara konferensi tahun 2003 membahas operasi pemulihan dan kelanjutan upaya pengkajian radiologik terhadap daerah yang terkena dampak,” kata Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Eri Hiswara, dalam pesan tertulisnya, Senin (26/04).

(Jakarta, 08/04/2021). Setelah melakukan vaksinasi COVID-19 dosis pertama pada hari Kamis (18/03) lalu, hari ini Kamis (08/04) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melaksanakan vaksinasi COVID-19 dosis kedua bagi para pegawainya yang bekerja di Kawasan Nuklir Kantor Pusat dan Kawasan Nuklir Pasar Jumat, yang dilaksanakan di area Gedung Utama, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta.

Ketua Panitia pelaksana vaksinasi COVID-19 BATAN, Heru Prasetio menyampaikan bahwa pada hari ini akan dilakukan vaksinasi terhadap 905 orang pegawai dengan rincian  sejumlah 858 orang akan menerima vaksin COVID-19 dosis kedua dan 47 orang menerima vaksin COVID_19 dosis pertama.

“Sebanyak 47 orang yang menerima vaksin dosis pertama pada hari ini adalah mereka yang karena satu dan lain hal tidak dapat mengikuti vaksin pertama sesuai jadwal pada 18 Maret lalu. Mereka nanti  akan mendapatkan vaksinasi dosis kedua di R.S. Prikasih, sehingga semuanya akan menerima vaksin secara lengkap, dosis pertama maupun dosis kedua,” ucap Heru.

Dalam kesempatan ini Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan menyampaikan rasa syukurnya bahwa sejauh ini seluruh pegawai BATAN yang telah mengikuti vaksinasi COVID-19 dosis pertama tidak ada yang mengalami gejala penyerta yang serius.

“Meskipun kemudian terdapat satu dua orang yang kemudian terinfeksi  positif COVID-19, tetapi tidak menimbulkan gejala yang serius,”ujar Anhar.

Anhar berpesan bahwa vaksinasi ini adalah salah satu upaya untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, tetapi bukan berarti segalanya, sehingga setelah divaksin kemudian melupakan protokol Kesehatan.