Slide item 2
Slide item 1
Slide item 3
Slide item 4
Slide item 5
Slide item 6

(Jakarta, 29/01/2020) Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi mengadakan kegiatan sosialisasi Penerapan Budaya Keselamatan di BATAN dan Evaluasi Hasil Penilaian Diri Budaya Keselamatan PTKMR 2019 yang bertempat di Lantai 3 Gedung 48B Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi.  Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pegawai PTKMR dan perwakilan dari Pusat lain yang berada di Kawasan Nuklir Pasar Jum’at (KNPJ). Kepala PTKMR berkesempatan untuk membuka acara ini, dalam sambutannya Kepala PTKMR menyampaikan salah satu tusi PTKMR yaitu, melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi keselamatan dan metrologi radiasi, dan radioekologi serta aplikasi teknologi nuklir bidang kesehatan dengan menerapkan sistem manajemen mutu dan sistem manajemen keselamatan kerja dan kesehatan (K3). Pada kesempatan ini juga disampaikan hasil Evaluasi Pemeriksaan tahunan pegawai PTKMR oleh dokter-dokter klinik KNPJ kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi budaya Keselamatan oleh para narasumber.  

(Jakarta, 14/11/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) membuat terobosan, dengan mempermudah administrasi layanan keselamatan dan metrologi radiasi melalui aplikasi website bernama e-Slamet. Aplikasi ini memudahkan pelanggan untuk mendapatkan proses layanan menjadi lebih cepat, mudah, praktis dan transparan.

Kepala Bagian Tata Usaha PTKMR BATAN, Ismanto Jumadi, mengatakan, e-SLAMET telah diuji coba pada akhir tahun 2018  dan diluncurkan secara resmi saat temu pelanggan PTKMR di Yogyakarta pada bulan April 2019.

“Layanan Pelanggan PTKMR awalnya offline, pelanggan harus datang ke PTKMR untuk mendapatkan layanan. Sekarang pelanggan bebas memilih cara layanan, yaitu bisa offline dan bisa online - tidak perlu datang ke PTKMR,” tutur Ismanto, saat ditemui di sela – sela Workshop Proteksi dan Keselamatan Radiasi Fasilitas Kedokteran Nuklir Terapi, di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, BATAN, Jakarta, Selasa (14/11)

(Jakarta, 12/11/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) menyelenggarakan Workshop Proteksi dan Keselamatan Radiasi Fasilitas Kedokteran Nuklir Terapi, di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, BATAN, Jakarta, Selasa, (12/11).

“Workshop ini sebagai media komunikasi dan saling berbagi pengetahuan dari berbagai profesi yang menangani kedokteran nuklir, mulai dari dokter spesialis kedokteran nuklir, fisika medis, radiofarmasis, radiografer, kepala departemen, sampai staf rumah sakit lainnya pun terlibat pada workshop ini,” jelas Ketua Penyelenggara, Nur Rahmah Hidayati.

Menurutnya, tanggung jawab keselamatan radiasi bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas proteksi radiasi atau fisika medis saja, melainkan menjadi tanggung jawab tugas semua profesi yang terlibat di dalam fasilitas kedokteran nuklir terapi.

(Yogyakarta, 06/09/2019) Pakar Kedokteran Nuklir, Johan S. Mansyur menyayangkan, dibalik manfaatnya, metode pengobatan dengan kedokteran nuklir belum banyak dipahami oleh masyarakat. Banyak pasien, bahkan dokter sekalipun, mengira bahwa kedokteran nuklir berbahaya.  Kekhawatiran ini terjadi karena masyarakat mengira bahwa jika diobati dengan nuklir maka bisa menimbulkan cacat atau mandul. “Padahal dosis radiasi yang diberikan pada metode pengobatan kedokteran nuklir tidak melebihi atau kurang dari dosis radiasi yang diterima pasien jika foto rontgen dengan x – ray. Anda sukarela kan kalo ke x – ray? Kalau ke kedokteran nuklir, nah mungkin anda pikir-pikir dulu,” katanya saat konferensi pers di sela-sela acara Indonesia Nuclear Expo 2019 di Yogyakarta, Jumat (06/09).

Padahal, lanjut Johan, metode pengobatan kedokteran nuklir telah lama dikembangkan, bahkan sejak tahun 40 – an di Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri, perkenalan dengan kedokteran nuklir dimulai sejak tahun 60 – an dengan dibangunnya reaktor nuklir pertama di Indonesia yang saat ini diberi nama Reaktor Triga 2000. “Dulu waktu dikembangkan reaktor itu (Triga 2000) di Bandung, produksi radioisotopnya lalu mau diapakan? Nah, salah satunya dimanfaatkan di bidang kesehatan, kedokteran nuklir,” katanya.