PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

(Jakarta, 11/09/2020), Bupati Batu Bara Provinsi Sumatera Utara, H. Zahir berharp teknologi nuklir mampu meningkatkan produksi padi di wilayahnya yang saat ini produksinya sedang pengalami penurunan. Hal ini dikatakan H. Zahir ketika melakukan kunjungan kerjanya ke Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Jumat (11/09).

Zahir mengatakan, Kabupaten Batu Bara merupakan salah satu wilayah sentra pangan di Sumatera Utara dalam mendukung program kedaulatan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Untuk mendukung hal ini, maka diperlukan dukungan teknologi, khususnya di bidang pertanian.

Dengan kunjungannya ini, Zahir berharap, BATAN dapat memberikan sebuah solusi bagi masyarakat Kabupaten Batu Bara untuk dapat meningkatkan produksi padi dengan memanfaatkan teknologi nuklir. “Kita ada masalah di bidang pertanian di sana, terjadi penurunan produksi terhadap tanaman padi,” ujar Zahir.

“Kita melihat apa kira-kira yang menyebabkan produksi padinya penurun. Nah mungkin ada tentang tanah, ada mungkin masalah genetik padinya sendiri. Jadi kita memohon kepada BATAN untuk mencarikan solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada di Kabupaten Batu Bara,” tambah Zahir.

(Jakarta, 30/07/20) Pusat Diseminasi dan Kemitraan (PDK) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memberikan edukasi tentang radiofobia kepada masyarakat khususnya yang berada di Pontianak melalui kegiatan talkshow di RRI Pro 1 FM 104,2, Selasa (28/07). Kegiatan talkshow ini merupakan bagian dari kegiatan diseminasi yang rutin dilakukan oleh PDK.

Peneliti BATAN, Mukhlis sebagai narasumber pada talkshow mengatakan, disadari atau tidak, penyebutan kata radiasi masih membangkitkan rasa takut dan kecemasan di benak banyak orang, walaupun aplikasi radiasi pengion dan substansi radioaktif lainnya telah banyak memberikan manfaat. Radiofobia disinyalir menjadi salah satu alasan mengapa nuklir sulit untuk diterima oleh masyarakat.

Mukhlis menjelaskan, radiasi merupakan fenomena pancaran energi dari sumber radiasi ke lingkungan. Matahari, kata Mukhlis, juga memancarkan radiasi. Namun, agar tidak ada kesalahpahaman, radiasi yang dimaksud dalam acara ini adalah radiasi pengion, seperti radiasi kosmik yang berasal dari luar angkasa.

Selain radiasi kosmik, Mukhlis juga mencontohkan radiasi lain yang ada di lingkungan, yakni gas Radon, yang banyak terdapat dalam bangunan, tembok, dan bebatuan. Radiasi pengion ini akan berbahaya bila terdapat dalam dosis yang tinggi. Beliau juga menekankan orang yang bekerja dengan radiasi, harus memiliki pemahaman mengenai nilai batas dosis.

“Pengaturan dosis ini dapat diumpamakan dengan aturan bila kita meminum obat, jadi ada batas maksimal dalam penggunaan radiasi pengion. Nilai batas dosis bagi pekerja radiasi adalah 20 milisievert/tahun. Batas dosis tersebut tergolong masih aman bagi kesehatan," tambahnya.

(Jakarta, 26/07/2020) Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Keong Kencana mitra Pusat Diseminasi dan Kemitraan (PDK) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan panen benih varietas padi Mustaban di Desa Sidasari, Kec. Sampang, Kabupaten Cilacap, Rabu (22/07). Varietas padi Mustaban merupakan hasil pemuliaan tanaman dengan memanfaatkan teknologi nuklir yang dilakukan oleh BATAN.

Sukirno, Ketua Gapoktan Keong Kencana menceritakan awal dari ketertarikan menanam varietas padi hasil penelitian BATAN. “Ketertarikan menanam varietas unggul BATAN karena potensi hasilnya tinggi dan bisa ditangkarkan menjadi benih,” ujar Sukirno.

“Di Kabupaten Cilacap sebagian Gapoktan sudah mengenal varietas BATAN dari sejak tahun 2016 melalui kegiatan Promosi Hasil Litbang Iptek Nuklir yang diselenggarakan PDK di Kabupaten Banyumas,” tambahnya.

(Jakarta, 22/07/20). Meskipun aplikasi radiasi pengion maupun substansi radioaktif lainnya sudah banyak memberikan manfaat bagi jutaan orang, namun ternyata masih banyak masyarakat yang takut jika mendengar kata radiasi. Fenomena yang disebut radiofobia ini menjadi salah satu alasan mengapa nuklir sulit untuk diterima oleh masyarakat. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi mengenai radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Diseminasi dan Kemitraan (PDK) bekerjasama dengan Volare FM, Pontianak, menyelenggarakan acara talkshow secara live pada Rabu(22/07).

Mukhlis Akhadi, sebagai narasumber menyatakan bahwa radiasi sebenarnya adalah fenomena pancaran energi dari sumber ke lingkungan. Matahari, menurut Mukhlis, dapat dikatakan sebagai salah satu sumber radiasi karena memancarkan energi berupa cahaya tampak hingga ke bumi. Beliau kemudian menjelaskan perbedaan antara radiasi pengion dan non-pengion yang selama ini selalu dianggap sama oleh masyarakat. “BATAN hanya menangani radiasi yang khusus, yakni radiasi pengion yang dapat mengionisasi materi yang dilaluinya. Contoh radiasi ini adalah sinar-X yang digunakan di rumah sakit,” ujar Mukhlis.