pnbp alur
bimbingan1
pkl1
pnbp1

(Jakarta, 16/09/2019) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah mengembangkan penelitian terkait pemanfaatan logam tanah jarang (LTJ) sebagai bahan baku cat anti deteksi radar. Hal ini disampaikan peneliti BATAN, Wisnu Ari Adi di hadapan para mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah  Jakarta (UMJ) pada seminar nasional dengan tema “Peran Energi Alternatif Dalam Rangka Kesejahteraan Bangsa Dengan Uranium, Thorium, dan Logam Tanah Jarang Sebagai Revolusi Energi Alternatif Masa Depan" di Auditorium UMJ, Cempaka Putih, Jakarta, Sabtu (14/09).

Wisnu Ari Adi, sebagai narasumber dalam seminar tersebut mengatakan, sudah saatnya masyarakat tidak takut lagi dengan nuklir, karena teknologi nuklir telah dimanfaatkan di berbagai bidang baik energi maupun non energi, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Berbicara soal pemanfaatan teknologi nuklir, harusnya kita sudah tidak perlu takut lagi. Nuklir tidak melulu untuk bom atom, melainkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat," ujar Wisnu.

Wisnu mencontohkan, BATAN sebagai lembaga pemerintah BATAN telah melakukan  berbagai penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui para penelitinya, BATAN telah menunjukkan bahwa nuklir dapat dimanfaatkan di bidang pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan.

Khususnya di bidang industri, Wisnu menerangkan, keberadaan LTJ sebagai material maju, saat ini sangat dibutuhkan di dunia industri modern. Namun demikian untuk mendapatkan mineral LTJ tidaklah mudah, karena keberadaan LTJ di alam, pada awalnya bercampur dengan mineral lainnya, sehingga perlu dilakukan pemisahan terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan untuk industri.

“Keberadaan LTJ di industri menjadi hal yang sangat penting mengingat banyaknya produk industri modern yang berasal dari LTJ, misalnya teknologi touch screen, magnet, dan peralatan elektronik lainnya,” tuturnya.

Di Indonesia, lanjut Wisnu, banyak ditemukan LTJ, terutama pada pasir monasit yang merupakan hasil samping dari penambangan timah yang banyak ditemukan di kepulauan Bangka. Selama ini pasir monasit dianggap sebagai barang sisa dari penambangan timah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi. Namun setelah dilakukan penelitian, ternyata di dalam pasir monasit terkandung berbagai mineral diantaranya uranium, torium, dan mineral LTJ.

Karena di dalam pasir monasit mengandung mineral uranium dan  torium yang mengandung unsur radioaktif, maka menurut Wisnu, BATAN mempunyai peran di dalamnya. Untuk itulah BATAN melakukan penelitian dan pengembangan terkait pemisahan uranium, torium, dan LTJ dari pasir monasit.

Penguasaan teknologi pemisahan itu dilakukan oleh salah satu unit kerja di BATAN yakni Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir. “Saat ini BATAN telah menguasai teknologi pemisahan uranium, torium, dan LTJ, bahkan kami telah mempunyai prototipe laboratorium Pemisahan Logam Tanah Jarang, Uranium, dan Torium (PLUTHO) yang berada di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan," tambah Wisnu.

Di laboratorium inilah, tutur Wisnu, pasir monasit diolah untuk dipisahkan antara uranium, torium dengan LTJ. Uranium dan torium merupakan mineral radioaktif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar reaktor, sedangkan mineral LTJ akan dimanfaatkan di dunia industri.

LTJ hasil pemisahan di laboratorium PLUTHO ini masih berupa LTJ oksida atau Rare Earth (RE-OH). “LTJ oksida ini dipisahkan lagi menjadi unsur-unsur LTJ di laboratorium pemisahan yang ada di Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA), Yogyakarta. Dari sinilah dihasilkan berbagai unsur LTJ yang siap untuk dimanfaatkan oleh dunia industri,” jelas Wisnu.

Salah satu pemanfaatan LTJ di Indonesia menurut Wisnu, untuk sektor pertahanan negara, yakni sebagai salah satu komponen untuk pembuatan cat anti radar yang sangat bermanfaat bagi militer. Pada prinsipnya, mineral LTJ tertentu dijadikan sebagai bahan pembuat cat, kemudian diaplikasikan pada alat pertahanan militer seperti kapal laut. Kapal laut yang telah dicat dengan menggunakan bahan cat anti deteksi radar mampu menyerap signal yang dipancarkan oleh radar dan tidak memantulkan kembali signal tersebut, sehingga kapal tidak terdeteksi oleh radar.

Baca juga : BATAN Kembangkan Teknologi Anti Deteksi Radar Berbasis Smart Magnet dari Logam Tanah Jarang

“Di bidang pertahanan ini, BATAN baru-baru ini telah bekerja sama dengan TNI angkatan laut dan perusahaan cat dalam negeri untuk memproduksi cat anti deteksi radar, dan berhasil diujicobakan,” kata Wisnu.

Mendatang, menurut Wisnu, aplikasi cat anti deteksi radar tidak hanya pada kapal laut saja, melainkan juga dapat dikembangkan untuk alat pertahanan lainnya seperti pesawat, kapal selam, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk baju yang dikenakan oleh pasukan TNI. (Pur)