pnbp alur
bimbingan1
pkl1
pnbp1

(Jakarta, 26/08/2019)  Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Otong Momo Rusmana, Arsiparis Terampil dari Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bisa mengikuti Upacara Bendera HUT RI Ke-74 di Istana Negara pada 17 Agustus 2019 lalu. Otong hadir di upacara tersebut sebagai salah satu dari 4 orang yang terpilih oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) diantara 49 orang peserta Pemilihan Arsiparis Teladan Nasional 2019.

“Saya sempat merasa ngga percaya...  bisa ikut upacara di Istana Negara,” kata Otong terbata-bata menahan haru.

“Saya mulai bekerja di Kawasan Nuklir Serpong sebagai petugas kebersihan (Cleaning Service, red.), tidak pernah terbayang oleh saya bisa seperti  sekarang ini, bahkan bisa menjadi PNS pun tidak terbayang,” lanjut Otong saat ditemui di ruang kerjanya di PSTBM BATAN, Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan (22/8).

Otong menceritakan perjalanannya sejak mulai mengenal BATAN pada tahun 1991 sebagai Cleaning Service  hingga terpilih mewakili BATAN untuk mengikuti Pemilihan Arsiparis Teladan Nasional 2019. Ia diangkat sebagai CPNS di Bagian Tata Usaha PSTBM BATAN pada tahun 2007 setelah sebelumnya menjadi pegawai honorer sejak tahun 2002.

Tahun 2016 ia diangkat dalam jabatan fungsional Arsiparis Terampil melalui inpassing Jabatan Fungsional Arsiparis. Selanjutnya ketika BATAN mengadakan seleksi untuk mengikuti  Pemilihan Arsiparis Teladan Nasional 2019, ia dikirim oleh unit kerjanya untuk mengikuti seleksi.

“Saya merasa menjadi orang yang selalu beruntung, mulai dari diangkat jadi PNS, bisa ikut inpassing Arsiparis dan kemudian terpilih mewakili BATAN dalam Pemilihan Arsiparis Teladan Nasional,” ujar Otong.

Setelah apa yang diperoleh saat ini, Otong yang mempunyai prinsip bekerja dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya ingin tetap bekerja keras sebagai Arsiparis, meskipun mungkin akan terhalang  oleh syarat pendidikan. Dimana sesuai peraturan yang ada dalam jabatan fungsional Arsiparis ia harus melanjutkan pendidikan ke jenjang D3, sedangkan pendidikan terakhirnya saat ini adalah SLTA.

“Sedangkan untuk sekolah lagi, berat bagi saya, karena saya lebih mementingkan sekolah anak-anak saya,” terangnya.

Otong berharap, kedepan ada kebijakan atau perubahan aturan terkait pemenuhan syarat pendidikan D3 tersebut. “Saya berpengharapan ada kebijakan atau peraturan yang memungkinkan pengalaman kerja bisa dihargai sebagai pengganti syarat pendidikan,” ujarnya.

Menutup wawancara, Otong Momo Rusmana yang lahir di Sumedang 7 Juni 1971 dan memiliki satu istri serta 3 orang putra, mengucapkan terimakasih kepada keluarganya yang bisa memahami pekerjaannya selama ini. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada pimpinan  PSTBM BATAN yang telah banyak memberikan kesempatan, serta kepada ibu Hani Rochmiati seniornya dalam jabatan fungsional Arsiparis yang telah memberikan bimbingan dan dorongan. (mirah)