Join-operated by:
» BATAN
» BMG
» BPS
intr_mt.jpg (14832 bytes) indns.jpg (12016 bytes)
 

FISIKA-KIMIA

 

Perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di sekitar Kawasan Nuklir Serpong (KNS) memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan hidup. Perubahan tersebut ditandai dengan pembangunan infrastruktur transportasi yang memicu berkembangnya kawasan pemukiman baru. Terciptanya kawasan pemukiman baru ini memerlukan berbagai sarana pendukung seperti fasilitas pendidikan (sekolah), layanan kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit), keamanan dan ketertiban (Polsek), sarana transportasi dan perekonomian (terminal, pasar, pertokoan). Beragamnya aktivitas penduduk yang ditunjang ketersediaan sarana pendukung tersebut, memberikan banyak perubahan terhadap berbagai komponen lingkungan hidup. Perubahan yang terjadi pada komponen lingkungan hidup ini harus diketahui secara dini dan merupakan umpan balik dalam pengelolaan kegiatan di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) dan kegiatan nuklir pada fasilitas nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Dalam laporan ini disampaikan pengukuran parameter fisika-kimia dalam berbagai komponen lingkungan hidup yang terdapat pada radius 5 km dari tapak Reaktor G. A. Sewabessy (RSG-GAS). Komponen lingkungan hidup yang diselidiki terdiri dari udara, tanah permukaan dan sedimen sungai Cisadane, air permukaan dan air sumur penduduk.

 

DAERAH DAN WAKTU PENYELIDIKAN

 

 

Lokasi penyelidikan dalam kegiatan ini dibagi dalam 4 (empat) daerah, yakni Kawasan Nuklir Serpong (KNS), Kawasan PUSPIPTEK dan Lepas Kawasan serta Sungai Cisadane dalam radius 5 km, yang ditampilkan dalam Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3. Waktu pelaksanaan kegiatan (pengambilan sampel dan analisa) dilakukan pada bulan Juli 2007 sampai dengan bulan Oktober 2007.

 

PARAMETER YANG DISELIDIKI

Perubahan tataguna lahan di sekitar Kawasan Nuklir-BATAN Serpong dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lahan yang akan berpengaruh terhadap hasil budidaya masyarakat (seperti pertanian, peternakan dan perikanan) serta biodiversitas alam. Penurunan kualitas lahan disebabkan oleh adanya pencemaran terhadap sumber daya tanah, air dan udara. Sumber pencemaran dapat berupa limbah dari kegiatan industri, penggunaan pupuk berlebihan dan kegiatan lain yang menggunakan bahan kimia berbahaya. Untuk mengetahui kondisi lingkungan di sekitar Kawasan Nuklir Serpong (KNS), dilakukan pengukuran terhadap beberapa komponen lingkungan yang terdiri dari:

 

A. Sampel Udara

Parameter yang diselidiki dalam sampel udara meliputi kandungan karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO 2 ), nitrogen dioksida (NO 2 ), hidrogen sulfida (H2 S), debu (total suspended particulate/TSP) dan kebisingan.

 

B. Sampel Tanah

Parameter yang diselidiki dalam sampel tanah meliputi kandungan logam berat dan unsur hara mikro yang sangat diperlukan oleh tanaman, yakni besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), timbal (Pb), kadmium (Cd), krom (Cr), dan nikel (Ni).

 

C. Sampel Air

Parameter yang diselidiki dalam sampel air meliputi parameter fisika yakni temperatur, kekeruhan, daya hantar listrik (DHL) dan kandungan bahan an-organik, yakni pH, BOD, COD, DO, N-nitrit, sulfida, NO3, PO4 dan SO4 serta logam berat dan unsur mikro (Fe, Mn, Cu, Zn, Pb, Cd, Cr, dan Ni).

 

METODOLOGI DAN EVALUASI DATA

 

 

A. Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dalam daerah KNS, Kawasan PUSPIPTEK dan Lepas Kawasan serta daerah aliran sungai Cisadane. Metode pengambilan sampel untuk uji kualitas lingkungan hidup menga-cu pada Standar Nasional Indonesia (SNI-06-2421-1991). Jumlah sampel yang diambil secara rinci ditampilkan dalam Tabel 52.

 

B. Pengukuran dan Analisis

Metodologi yang digunakan untuk pengukuran dan analisis berbagai parameter dalam sampel lingkungan mengacu pada Standar Nasional Indonesia atau yang direkomendasikan sebagaimana ditunjuk-kan dalam Tabel 53.

 

 

 

 

C. Evaluasi Data

 

  1. Komponen Udara
    Titik pengambilan sampel udara ditunjukkan dalam Gambar 1, Gambar 2 dan Gambar 4. Evalusi data dilakukan dengan mem-bandingkan data hasil pengukuran terhadap baku mutu udara ambien nasio-nal yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 dan baku mutu tingkat kebisingan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48/MNLH/11/1996.

     
  2. Komponen Tanah dan Sedimen
    Titik pengambilan sampel tanah permukaan dan sedimen ditunjukkan dalam Gambar 1, Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4. Data hasil pengukuran dibandingkan dengan data hasil pengukuran pada lokasi lain atau lokasi yang sama dengan metode analisis berbeda sebagai data pembanding.
  3. Komponen Air
    Titik pengambilan sampel udara ditunjukkan dalam Gambar 1, Gambar 2 dan Gambar 3. Evaluasi kualitas air dilakukan dengan membandingkan data hasil pengukuran terhadap baku mutu air berdasarkan PP No. 82 tahun 2001. Evaluasi kualitas air buangan berdasarkan baku mutu air limbah yang tertuang dalam PP. No. 82 tahun 2001 kelas IV, Kep. MNLH No. 202 Tahun 2004, dan Kep. MNLH No. 112 Tahun 2003.

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Komponen Udara

Pencemaran udara dapat terjadi dari berbagai sumber baik sumber bergerak maupun tidak bergerak. Beroperasinya berbagai fasilitas laboratorium penelitian di Kawasan Nuklir BATAN dan Kawasan PUSPIPTEK perlu diketahui apakah kegiatan tersebut memberikan kontribusi terhadap gangguan kesehatan masyarakat disekitarnya. Hal ini perlu diketahui mengingat Kawasan tersebut dikelilingi oleh daerah pemukiman dan jalan raya yang juga memberikan kontribusi terhadap tingkat pencemaran udara.

Hasil pengukuran tingkat pencemaran udara pada berbagai parameter udara di sekitar Kawasan Nuklir BATAN dan Kawasan PUSPIPTEK ditunjukkan dalam Tabel 54. Parameter udara yang diukur adalah konsentrasi CO, SO2, NO2, H2S, debu (TSP) dan tingkat kebisingan. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi parameter yang diukur dalam kawasan ini masih dibawah batas baku mutu udara ambien nasional sesuai PP No. 41 Tahun 1999, dan tidak terjadi perbedaan yang nyata antara daerah Kawasan Nuklir, Kawasan PUSPIPTEK dan daerah Lepas Kawasan. Konsentrasi karbon monoksida, hidrogen sulfida, debu dan tingkat kebisingan di daerah Kawasan Nuklir Serpong (KNS) dan PUSPIPTEK lebih rendah dibandingkan dengan di daerah Lepas Kawasan. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan sarana transportasi (kendaraan bermotor) lebih dominan memberikan kontribusi terhadap tingkat pencemaran udara di kawasan ini. Tingkat kebisingan dalam penyelidikan ini dilakukan pada hari kerja jam 09.30 s/d 12.00.

 

 

Komponen Tanah

 

a. Tanah Permukaan

Tanah merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber kehidupan tanaman, yang mengandung semua unsur yang berbeda baik dalam bentuk maupun jumlahnya. Unsur hara mikro seperti besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn) dan tembaga (Cu) merupakan unsur hara penting bagi tanaman yang terdapat dalam tanah, disamping beberapa unsur logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan krom (Cr). Kandungan unsur-unsur tersebut dalam tanah sangat bervariasi tergantung sifat-sifat tanah seperti pH, tekstur tanah, komposisi mineral, aktivitas mikroorganisme di dalamnya dan kelembaban. Ketersediaan Fe dalam tanah berkisar antara (10.000 ~ 60.000) ppm atau (1 % ~ 6 %), Mn berkisar (100 ~ 5.000) ppm, Zn berkisar (20 ~ 150) ppm, sedangkan Cu berkisar (2 ~ 60) ppm (Lindsay, 1979).

Hasil penyelidikan kandungan unsur mikro dan logam berat dalam tanah di sekitar Kawasan Nuklir Serpong (KNS) ditunjukkan dalam Tabel 55. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan yang nyata untuk setiap unsur yang terkandung dalam tanah pada Kawasan Nuklir BATAN, Kawasan PUSPIPTEK dan Lepas Kawasan. Sehingga ketersediaan unsur mikro dan logam berat dalam tanah disekitar Kawasan Nuklir Serpong (KNS) tidak dipengaruhi oleh kegiatan pada fasilitas penelitian di kawasan BATAN dan PUSPIPTEK.

 

 

b. Komponen Tanah Sedimen.

Sampel tanah sedimen untuk daerah aliran sungai Cisadane diambil pada 6 titik pengam bilan sampel (sampling), 3 titik sampling pada daerah sebelum melewati Kawasan Nuklir Serpong (KNS) dan 3 titik lainya diambil pada daerah setelah Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Dengan cara pemilihan titik pengambilan sampel ini diharapkan dapat diketahui jika terjadi perubahan kandungan unsur-unsur dalam sedimen sungai Cisadane. Data hasil pengukuran kandungan unsur mikro dan logam berat dalam sedimen sungai Cisadane ditunjukkan dalam Tabel 56.

Berdasarkan hasil pengukuran sampel sedimen diperoleh bahwa kandungan Fe dalam sampel dari lokasi pengambilan C-01 (hulu sungai) lebih rendah dibanding dengan 5 (lima) lokasi lainnya, sedangkan kandungan Mn pada lokasi pengambilan C-02 lebih besar dibanding dengan 5 (lima) lokasi lainnya. Data hasil pengukuran parameter yang diamati dalam sedimen sungai Cisadane menujukkan bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata antara lokasi pengambilan sebelum dan setelah melewati Kawasan Nuklir BATAN.

 

 

Komponen Air

Evalusi data hasil pengukuran sampel air untuk Kawasam Nuklir BATAN, Kawasan PUSPIPTEK dan Lepas Kawasan serta sungai Cisadane tidak dapat dibanding-kan, karena jenis air yang diamati berbeda. Dalam kawasan nuklir BATAN jenis air yang diamatai merupakan air buangan (limbah) dari beberapa fasilitas laboratorium, jenis air yang diamati pada kawasan PUSPIPTEK adalah air per-mukaan, dan jenis air yang diamati pada daerah lepas kawasan merupakan air tanah (sumur), sedangkan jenis air pada sungai Cisadane merupakan air permukaan.

 

 

a. Air Buangan Kawasan Nuklir BATAN

Data hasil pengukuran parameter fisika kimia dalam sampel air buangan dikawasan nuklir BATAN ditampilkan dalam Tabel 57. Berdasarkan baku mutu untuk air limbah, data hasil pengukuran memberikan informasi bahwa kualitas air buangan dari berbagai laboratorium di kawasan nuklir BATAN masih di bawah baku mutu air limbah.

 

b. Air Tanah (Sumur)

Air tanah di daerah lepas kawasan diambil dari air sumur penduduk dalam radius 2 km, 3 km, 4 km dan 5km, yang dibagi dalam 16 sektor, dengan jumlah lokasi pengambilan 8 titik setiap radius. Data hasil pengukuran parameter fisika kimia dalam sampel air sumur di daerah lepas kawasan ditampilkan dalam Tabel 58.

Sesuai peruntukannya bahwa air sumur di daerah lepas kawasan dalam radius 5 km, dominan digunakan sebagai air minum oleh penduduk, maka evaluasi data dilakukan berdasarkan Kep. Menteri Kesehatan No. 907/Menkes/SK/VII/2002, tentang Persyaratan dan Pengawasan Kualitas Air Minum dan PP. RI. No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk kriteria mutu air kelas satu. Berdasarkan ragam data yang diperoleh untuk setiap lokasi pengambilan sampel menunjukkan bahwa kualitas air sumur tidak terjadi perubahan yang signifikan dan air tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku air minum. Data hasil pengukuran juga menunjukkan bahwa pada beberapa titik pengambilan sampel air sumur mempunyai nilai pH rendah (<5,00) sehingga perlu perlakuan khusus sebelum digunakan sebagai air minum.

 

c. Air Permukaan Sungai Cisadane

Sebagaimana sampel sedimen, pengambilan sampel air permukaan untuk daerah aliran sungai Cisadane juga dilakukan pada 6 titik pengambilan sampel (sampling), 3 titik sampling pada daerah sebelum melewati Kawasan Nuklir Serpong (KNS), daerah setelah Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Berdasarkan PP RI No. 82 Tahun 2001, klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas yakni :

 

 

Kelas I : air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut.

Kelas II : air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut.

Kelas III: air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut.

Kelas IV : air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut.

Hasil pengukuran parameter fisika kimia untuk air permukaan Sungai Cisadane ditampilkan dalam Tabel 59. Dalam laporan ini evaluasi data dilakukan berdasarkan data kualitas air sesuai PP. RI. No. 82 Tahun 2001 dan hasil pengukuran kualitas air sungai Cisadane tahun 2002 dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat sebagai data pembanding.

Dari Tabel 59 terlihat bahwa keragaman data dari masing-masing parameter yang diamati tidak menunjukkan peru-bahan yang nyata antara titik pengamatan satu dengan yang lainnya. Keadaan ini memberikan informasi bahwa kualitas air sungai Cisadane sebelum dan setelah melewati kawasan laboratorium di PUSPIPTEK dan BATAN tidak mengalami perubahan. Sedangkan Tabel 60 menunjukan bahwa kualitas air permukaan sungai Cisadane mengalami sedikit penurunan pada parameter oksigen terlarut (DO 5) dibandingkan kualitas pada tahun 2002 hasil pengukuran BPLHD Jawa Barat. Berdasarkan PP 82 tahun 2001 maka kualitas air permukaan sungai Cisadane pada daerah penyelidikan ini masih setara dengan kelas I, yang mengindikasikan bahwa air tersebut layak digunakan sebagai bahan baku air minum atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut.

 

 

KESIMPULAN

 

Data hasil pengukuran dari berbagai parameter terhadap komponen lingkungan udara tanah permukaan dan sedimen, serta air buangan, air sumur/tanah dan air permukaan disekitar Kawasan Nuklir Serpong (KNS) dapat disimpulkan bahwa :

  1. Konsentrasi parameter yang diamati pada komponen udara di daerah sekitar KawasanNuklir masih dibawah baku mutu udara ambien nasional sesuai PP No. 41 tahun 1999. Keragaman data dari parameter yang diamati menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan yang nyata antara kawasan nuklir BATAN, kawasan PUSPIPTEK, dan daerah lepas kawasan dalam radius 5 km.
  2. Keragaman data dari parameter yang diamati terhadap komponen tanah permukaan menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan yang nyata antara kawasan nuklir BATAN, kawasan PUSPIPTEK, dan daerah lepas kawasan dalam radius 5 km.
  3. Kualitas air buangan dari fasilitas laboratorium BATAN masih dibawah baku mutu untuk air limbah. Kualitas air sumur penduduk disekitar kawasan nuklir BATAN dalam kondisi baik, keragaman data dari parameter yang diamati menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedan yang nyata antara jarak 2 km, 3 km, 4 km dan 5 km dari reaktor GA. Siwabessy.
  4. Hasil pengukuran terhadap air permukaan sungai Cisadane menunjukkan bahwa konsentrasi parameter yang diamati masih dibawah baku mutu air sesuai PP No. 82 tahun 2001, sehingga air tersebut dapat digunakan sebagia bahan baku air minum. Keragaman data dari parameter yang diamati terhadap air permukaan dan sedimen sungai Cisadane menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata antara lokasi pengambilan sebelum dan sesudah melewati kawasan nuklir BATAN Serpong.

 

©2007 BATAN-PTLR