Join-operated by:
» BATAN
» BMG
» BPS
intr_mt.jpg (14832 bytes) indns.jpg (12016 bytes)
 

TATA GUNA LAHAN

 

Lokasi Industri, Perkantoran, Perumahan, Sekolah, Puskesmas, dan Tempat Ibadah

 

Dalam radius 1 km dari titik 106.39' BT dan 6.21' LS (Reaktor Nuklir Serpong) nyaris tidak ada bangunan lain selain Kawasan Nuklir Serpong (KNS), LIPI, BPPT, dan PUSPPITEK. Bangunan selain itu hanyalah kantor desa Muncul, SDN Muncul dan mesjid Nur Mutaqim. Meskipun demikian, kawasan radius 1 km ini dimiliki tidak kurang oleh dua Kabupaten Bogor dan Tangerang, 4 desa yaitu Muncul, Pabuaran, Keranggan dan sedikit Kademangan, serta dialiri sungai Cisadane dan dua sungai kecil lainnya.

 

 

Dalam kawasan radius 2 km mulai terdapat Industri diantranya PT Dupalindo, PT Paul & Co Indonesia, PT Abdi Bangsa, PT Gilette Indonesia. Selain industri juga sudah terdapat pasar, polsek Cisauk, Kantor Pos, Klinik 24 jam. Sekolah pun mulai beragam, dari mulai pesantren sampai dengan kampus ITI termasuk dalam kawasan ini. Empat kantor desa yaitu kantor desa Keranggan, Muncul, Setu, dan Pabuaran termasuk dalam radius 2 km ini.

 

 

Hal ini menunjukkan bahwa dalam radius 2 km aktifitas masyarakat sudah cukup tinggi. Namun demikian dari peta tampak bahwa ada ketimpangan antara kawasan sebelah utara Kawasan Nuklir Serpong (KNS) dan sebelah selatannya. Sebelah utara tampak lebih banyak gedung-gedung yang menjadi pusat kegiatan sedangkan sebelah selatan hanya terdapat satu yaitu kantor desa Pabuaran.

 

 

 

 

 

 

Lokasi industri terpusat di kelurahan Sukamulya, Pabuaran, Pengasinan dan Serpong. Dari 868 Industri yang beroperasi pada tahun 2005, 42 persen (369 perusahaan /usaha) berlokasi di kelurahan Sukamulya. Sebagian besar (94,31 %) adalah industri/usaha barang dari kayu. Kemudian 78 perusahaan (9,01 %) berada di Serpong 58 perusahaan (74,4 %) diantaranya perusahaan makanan minuman. Desa Pabuaran menempati urutan ketiga terbanyak dalam hal jumlah perusahaan industri pengolahan.

Di desa ini terdapat 67 perusahaan atau 7,74 persen, sebagian besar (95,5 %) adalah industri makanan minuman.Desa Cibogo merupakan desa yang paling beragam jenis industrinya. Dari 18 macam industri yang ada di kawasan ini, desa Cibogo memiliki 13 macam. Yang tidak terdapat di desa Cibogo hanya industri pakaian jadi, industri kulit dan alas kaki, industri kendaraan bermotor, industri logam dasar, dan industri daur ulang. Sebaliknya di desa Muncul hanya terdapat dua macam industri yaitu Industri makanan minuman dan industri barang dari logam.
Industri kendaraan bermotor hanya terdapat di kelurahan Ciater dan Sukamulya, sedangkan industri alat angkut hanya terdapat di desa Cibogo dan Setu, industri logam dasar hanya terdapat di desa Pengasinan. Di semua desa/kelurahan terdapat industri makanan dan minuman hingga industri ini menempati urutan kedua terbanyak di kawasan ini setelah industri kayu dan barang dari kayu. Industri makanan dan minuman sebagian besar berlokasi di desa Pabuaran (27,2 %) kemudian diikuti kelurahan Serpong (24,7 %) dan Pengasinan (13,6 %), sedangkan sisanya tersebar merata di lima belas desa/kelurahan lainnya. Industri kayu dan barang dari kayu tersebar di hampir semua desa/kelurahan, hanya kelurahan Muncul dan Kademangan yang tidak memiliki industri ini. Lokasi industri ini sebagian besar (79 %) berada di Sukamulya,kemudian 7 persen berada di dea Keranggan , sisanya tersebar di empat belas desa lainnya. Industri percetakan dan penerbitan juga tersebar merata di hampir semua desa kelurahan, yang tidak memiliki industri ini hanya Dangdang, Keranggan, Muncul, dan Babakan.

 

 

 

 

 

Kegiatan usaha lain yang sangat menonjol dilihat dari jumlah usaha diluar industri pengolahan adalah perdagangan eceran. Di Serpong jumlah pedagang eceran sangat banyak yaitu 1.232 usaha sedangkan urutan kedua terbanyak adalah desa Sukamulya dengan jumlah usaha sebanyak 818. Urutan ketiga adalah desa Gunung Sindur yang memiliki usaha perdagangan eceran sebanyak 507 perusahaan/usaha.
Tidak hanya pedagang eceran, Pedagang besar pun memilih Serpong sebagai lokasi tempat usaha mereka sehingga di Serpong ditemukan 22 usaha perdagangan besar dalam negeri sedangkan tempat kedua terbanyak yaitu desa Cibogo yang memiliki 12 pengusaha perdagangan besar dalam negeri.Urutan kedua terbanyak usaha non industri di kawasan ini adalah jasa akomodasi dan penyediaan makan minum. Seperti halnya dengan usaha perdagangan eceran dan perdagangan besar dalam negeri, jumlah usahapenyediaan makan minum paling banyak berlokasi di kelurahan Serpong yaitu mencapai 518 usaha kemudian diikuti oleh kelurahan Rawa Buntu yang menampung 465 usaha. Sedangkan urutan ketiga yaitu desa Buaran jumlah usahanya hampir separo dari Rawa Buntu yaitu sebanyak 212 usaha. Hal yang menarik adalah meskipun Serpong dan Rawa Buntu merupakan tempat yang paling banyak jumlah usaha perdagangannya namun usaha angkutan darat yang merupakan jenis usaha terbanyak ketiga di kawasan ini ternyata paling banyak terdapat di desa Babakan yaitu sebanyak 345 usaha. Urutan kedua desa yang mempunyai usaha angkutan terbanyak adalah desa Gunung Sindur yaitu 248 usaha angkutan. Sedangkan urutan ketiganya adalah desa Sukamulya yang mempunyai usaha angkutan sebanyak 224 unit usaha. Jumlah usaha angkutan di desa Muncul dan desa Dangdang sangat sedikit dibanding dengan desa/kelurahan lainya yaitu hanya 3 dan 14 unit usaha.
 
Dari 18 desa/kelurahan yang ada di kawasan ini, 14 desa/kelurahan memiliki usaha penjualan mobil dan sepeda motor hal ini menunjukkan bahwa penduduk kawasan ini mempunyai potensi ekonomi yang cukup besar. Serpong juga merupakan lokasi yang paling banyak dipilih oleh para pedagang mobil dan motor. Paling sedikit ditemukan 14 usaha perdagangan mobil dan motor di Serpong, 10 di Rawa Buntu, 9 di Buaran dan di Gunung Sindur.
Usaha real estate juga mayoritas berlokasi di kelurahan Serpong yaitu mencapai 136 usaha padahal urutan kedua terbanyak hanya berjumlah 45 usaha yang terdapat di kelurahan Rawa Buntu. Meskipun jumlah usaha jasa pendidikan seperti sekolah dan kursus-kursus paling banyak terdapat di kelurahan Serpong dan Sukamulya, namun jumlahnya (16 usaha) tidak jauh berbeda dengan urutan kedua dan ketiganya yaitu 14 usaha di Keranggan, 13 usaha di Rawa Buntu, Cibogo, dan juga di Suradita. Dalam radius 5 KM terdapat Puskesmas yaitu di Serpong, Cisauk, Gunung Sindur dan Rumpin maka kegiatan jasa usaha kesehatan lebih banyak terdapat diluar keempat desa tersebut. Di kelurahan Rawa Buntu terdapat 13 usaha jasa ini sedangkan di Suradita terdapat 11 usaha, di Gunung Sindur terdapat 9 usaha sedangkan di Serpong hanya terdapat 8 usahajasa kesehatan. Bila memperhatikan perkembangan jumlah usaha formal dari tahun 2001 sampai dengan tahun2006 maka terlihat pertumbuhan usaha di kelurahan Serpong sangat menonjol dibanding dengan 17 desa/kelurahan lainnya. Pada tahun 2000 jumlah usaha di kelurahan Serpong adalah sebanyak jumlah usaha di kelurahan Rawa Buntu pada tahun 2006. Meskipun pada tahun 2005 pertumbuhan jumlah usaha di desa Suradita lebih tinggi dibanding pertumbuhan jumlah usaha dikelurahan Serpong, namun pada tahun 2006 di kelurahan Suradita berhenti tumbuh sedangkan di kelurahan Serpong terus meningkat.

 

 

 

 

Luas Daerah Pertanian
 
Data mengenai luas lahan pertanian agak simpang siur. Dengan menggunakan konsep lahan yang dikuasai, pada tahun 2003 didapatkan angka luas lahan yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan konsep lahan yang diusahakan pada tahun 2005. Sebagai contoh di Desa Ciater pada tahun 2003 didapatkan angka luas lahan pertanian yang dikuasai seluas 16,3 hektar sedangkan pada tahun 2006 didapatkan angka luas lahan pertanian yang diusahakan seluas 20,5 hektar. Karena terjadi ketidakkonsistenan data yang ada maka dilakukan survey ulang dengan kepala desa lurah sebagai respondennya.Hasilnya adalah data luas lahan tahun 2007 sebagaimana bisa dilihat pada tabel 5.

 

 

Pada tahun 2007 didapatkan data luas lahan pertanian di kawasan radius 5 km dari Pusat Nuklir Serpong seluas 3.098,7 hektar.Berdasarkan kepada tabel luas lahan pertanian, terlihat bahwa desa Sukamulya memiliki luas lahan pertanian yang paling luas dibanding desa/ kelurahan lainnya yaitu mencapai 670 hektar. Sedangkan kelurahan Serpong adalah kawasan yang lahan pertaniannya paling sempit yaitu hanya seluas 1,5 hektar. Rawa Buntu memiliki luas lahan pertanian yang agak luas dibandingkan Serpong yaitu seluas 8,9 hektar namun itu pun sudah tidak diusahakan lagi atau lahan tidur. Kademangan juga merupakan kelurahan yang luas lahan pertaniannya tergolong sempit yaitu hanya 10 hektar. Dari gambaran luas lahan tersebut terlihat bahwa desa/kelurahan sebelah barat, sebelah selatan, dan sebelah timur Kawasan Nuklir Serpong lebih luas daerah pertaniannya dibandingkan daerah sebelah utara. Dari tabel terlihat bahwa sebagian besar desa/kelurahan yang berada di sekitar Kawasan Nuklir Sepong memiliki luas lahan pertanian kurang dari 100 hektar. Dari 18 desa/kelurahan hanya 7 yang masih memiliki lahan pertanian lebih dari 100 hektar. Namun ironisnya dari 7 desa tersebut ,5 diantaranya berpenduduk dengan tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini bisa dilihat dari tabel.2 ternyata di kelima desa tersebut penduduk yang tidak mempunyai ijazah SD ditambah penduduk yang hanya mempunyai ijazah SD jumlahnya mencapai lebih dari 50 persen jumlah penduduk usia 5 tahun ke atas.

 

 

Jenis dan Jumlah Hasil Pertanian Lokal
 
Jenis hasil pertanian bisa digolongkan kedalam 4 kelompok besar yaitu tanaman bahan pangan (padi dan palawija), buah-buahan, sayuran (hortikultur), tanaman perkebunan, dan tanaman kehutanan.Jenis palawija yang dihasilkan oleh petani dalam radius 5 km dari Kawasan Nuklir Serpong (KNS) diantaranya adalah jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau,ubi kayu, dan ubi jalar.
Pada tahun 2002 dengan hasil panen padi mencapai 838 ton, Desa Sukamulya merupakan penghasil padi terbesar di seluruh kawasan ini. Hal ini wajar mengingat desa Sukamulya yang letaknya sebelah barat laut desa Muncul memiliki luas lahan pertanian terluas di wilayah ini. Namun demikian di desa ini tidak tercatat hasil pertanian seperti kedelai,kacang tanah, dan kacang hijau. Hal ini mengidikasikan bahwa desa ini cukup memiliki sumber air sehingga petani lebih memilih menanam padi dibanding palawija.Pengasinan merupakan penghasil padi kedua terbesar dengan hasil panen 261 ton gabah pada tahun 2002. Meskipun demikian luas lahan pertanian di desa Pengasinan bukan kedua terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas tanaman padi di desa ini cukup tinggi. Selain padi, desa Pengasinan juga menghasilkan ubi kayu yang cukup banyak yaitu sekitar 280,4 ton pada tahun 2002. Pada tahun 2002 ada lima desa/kelurahan yang tidak menghasilkan padi yaitu Buaran, Rawa Buntu, Serpong, Kademangan,dan Cibogo, meskipun Cibogo punya potensi mengasilkan padi. Kelima desa tersebut letaknya sebelah utara desa Muncul tempat lokasi Pusat Nuklir Sepong berada. Suradita yang letaknya sebelah baratdesa Muncul pada tahun 2002 menghasilkan gabah sekitar 110 ton yang berasal dari sawah berpengairan irigasi, sekitar 69 ton gabah dari sawah tanpa irigasi dan sekitar 6,5 ton gabah dari ladang. Hasil seperti ini merupakan yang terbesar dibanding desa kelurahan lain yang berada di wilayah sekitar Kawasan Nuklir Serpong (KNS) yang termasuk dalam kabupaten Tangerang. Selain padi, desa Suradita juga penghasil kacang tanah cukup besar yaitu 27,3 ton pada tahun 2002.

 

 

Pada tahun 2002 juga tercatat jagung terbanyak dihasilkan oleh desa Sukamulya yang mencapai 56,5 ton kemudian disusul oleh desa Pabuaran dengan hasil sebanyak 45,6 ton. Sedangkan desa Gunung Sindur menempati urutan ketiga dengan menghasilkan jagung sekittar 39.7 ton. Produksi ubi kayu lebih banyak dibandingkan ubi jalar. Desa Gunung Sindur tercatat menghasilkan ubi kayu sekitar 285 ton pada tahun 2002. Sedangkan desa Pengasinan dan desa Pabuaran masing-masing mengha-silkan ubi kayu sekitar 280 ton dan 270 ton sehingga merupakan desa penghasil ubi kayu kedua dan ketiga terbesar di kawasn ini. Sayuran yang di tanam petani pada tahun 2002 diantaranya bawang merah, cabe merah, kentang, kubis. Selain itu didapatkan pula sayuran yang berasal dari pohon keras seperti petai, jengkol, mlinjo, dan sukun.

 

 

Di desa/kelurahan dalam radius 5 km dari Kawasan Nuklir Serpong (KNS) ditemukan paling tidak 23 macam pohon buah-buahan yang sudah berproduksi. Enam diantaranya yaitu apel, anggur, kedongdong, lengkeng, markisa, dan campedak tidak diketahui berapa jumlah produksinya. Sedangkan 17 jenis pohon buah-buahan pada tahun 2003 diperkirakan memproduksi buah sebanyak 1.000 ton yang dirinci seperti pada tabe 8 berikut ini.Dari tabel 8 di atas terlihat bahwa Ciater dan suradita merupakan desa yang lengkap kekayaan jenis buah-buahannya.
Sedangkan di kelurahan Serpong hanya terdapat dua jenis pohon buah-buahan yang sudah berproduksi yaitu pisang dan rambutan. Ciater merupakan daerah terbanyak produksi buah jeruk,rambutan, salak, sawo, dan sirsak. Sedangkan Suradita unggul dalam produksi buah mangga, belimbing, jambu air, jambu biji,dan sirsak. Pisang dan rambutan merupakan jenis buah-buahan yang ditemukan di semua desa/ kelurahan yang ada di sekitar Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Pisang terbanyak dihasilkan oleh desa Pengasinan. Produksi buah ini di desa Pengasinan mencapai 199 ton pada tahun 2003.

 

 

 

 

 

 

Jenis dan Jumlah Hasil Peternakan, Perikanan Lokal
 
Sedikitnya ada 16 macam ternak besar,kecil, dan unggas yang ditemukan di kawasan ini. Dari sisi jumlah, ayam buras menempati urutan terbanyak. Kelurahan Ciater memiliki ayam buras terbanyak yaitu sekitar 12 ribu ekor kemudian diikuti desa dangdang yang memiliki sekitar 11 ribu ekor ayam buras.Semua desa/kelurahan di kawasan ini memiliki ayam buras. Populasi ternak terbanyak kedua adalah ayam pedaging. Suradita merupan tempat terbanyak populasi jenis ternak unggas ini yaitu mencapai 10 ribu ekor lebih, ini kemudian diikuti desa Keranggan dengan 6 ribu ekor ayam pedaging. Desa Dangdang merupakan desa paling lengkap keragam jenis ternaknya. Hanya kelinci, angsa, burung puyuh dan sapi perah yang tidak terdapat di desa ini. Bahkan di desa ini juga terdapat ternak babi hingga desa ini merupakan satu-satunya desa yang memiliki ternak babi di seluruh kawasan ini pada tahun 2003.

 

 

 

 

Desa Babakan memiliki kolam ikan air tawar seluas 2 hektar sehingga desa ini merupakan desa yang memiliki kolam ikan air tawar terluas di seluruh kawasan ini. Produktivitas perikanan air tawar pada tahun 2003 mencapai 5,8 ton per hektar sehingga bisa diperkirakan produksi ikan air tawar dari desa Babakan mencapai sekitar 12,5 ton per sekali panen. Di Suradita selain kolam air tawar, sekitar 0,2 hektar sawah digunakan juga sebagai tempat peternakan ikan.

 

 

 

 

 

Sarana Transportasi
 

 

 

Semuadesa/kelurahanmemiliki jalan desa.Paling panjang terdapat di desa Buaran yang mencapai 13 km sedangkan yang terpendek adalah jalan desa di Keranggan yang hanya mencapai 3 km. Bila seluruh jenis panjang jalan dijumlahkan maka Desa Setu memilki jalan terpanjang yaitu mencapai 52,5 km yang terdiri dari 32 km jalan propinsi, 14 km jalan kabupaten, 1 km jalan kecamatan,dan 5,5 km jalan desa. Gunung Sindur memiliki jenis jalan terlengkap yang terdiri dari 40 km jalan negara,2 km jalan propinsi, 4 km jalan kabupaten 0,02 km jalan kecamatan, dan 5,5 km jalan desa sehingga total panjang jalan di desa ini 51,52 km.
Hampir mendekati panjang jalan di desa Setu. Namun demikian, dalam kenyataan jalan yang tidak tercatat juga cukup panjang terutama yang ada di perumahan. Sebagai bahan perbandingan, dengan mengguna-kan software computer diperki-rakan panjang jalan termasuk gang-gang di perumahan dan hasilnya ditampilkan dalam tabel berikut ini Dari tabel tersebut ada beberapa hasil hitungan yang mendekati catatan resmi pemerin-tah desa/ kelurahan ada pula yang jauh berbeda. Sebagai contoh panjang jalan di Rawa Buntu menurut catatan kelurahan mencapai 2,5 km ditambah sekitar 0,5 km gang sedangkan hasil perhitungan komputer mencapai 55,4 km.

 

 

Jumlah dan Sarana Angkutan Umum
 
Di kawasan ini terdapat kurang lebih 1.877 ojeg sepeda motor yang tersebar merata di hampir semua desa, paling banyak (10,8 %) terdapat di desa Sukamulya kemudian Rawa Buntu 10,8 persen, Gunung Sindur 9,9 persen, dan Babakan 9,8 persen.Di Muncul tidak terdapat usaha angkutan ojeg sedangkan di desa Dangdang hanya terdapat 2 usaha angkutan populer ini. Di Desa Babakan terdapat sekitar 141 usaha angkutan barang. Jumlah ini sangat menonjol bila dibandingkan dengan populasi di seluruh kawasan yang mencapai jumlah 218 usaha. dengan kata lain desa Babakan memiliki sekitar 65 persen usaha angkutan barang. Jenis usaha angkutan seperti ini hanya terdapat di 11 desa/kelurahan. Sedangkan usaha angkutan pariwisata hanya ditemukan di desa Dangdang sebanyak 12 usaha.
Seperti halnya Ojeg, jenis usaha angkot juga hampir terdapat di semua desa/kelurahan. hanya di desa Dangdang yang tidak terdapat usaha angkot. Usaha ini terbanyak berlokasi di desa Gunung Sindur yang mencapai 32,8 persen, diikuiti desa Babakan yang memiliki usaha angkot 19 usaha atau 10,9 persen dari seluruh usaha angkot yang ada di kawasan Kawasan Nuklir Serpong (KNS) ini. Menurut data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang setidaknya ada delapan trayek angkutan kota yang melewati kawasan radius 5 km dari Kawasan Nuklir Serpong (KNS).
 
Selain angkutan kendaraan roda dua dan empat, kawasan ini juga memiliki usaha angkutan tidak bermotor dan juga dilalui oleh jalur kereta api. Di kawasan ini terdapat 3 stasiun kereta api yaitu di Serpong, Cisauk, dan Rawa Buntu.
Ada dua macam kereta yang melalui jalur ini yaitu lintas Tanah Abang-Rangkas Bitung dan Kereta Listrik (KRL). KRL mempunya tiga kelas penumpang yaitu Sudirman dan Sepong Express, Ciujung (ekonomi AC), dan Ekonomi. KRL melayani jalur Tanah Abang-Serpong pulang pergi Sudirman dan Serpong setiap harinya mempunyai 6 jadwal pemberangkatan, KRL Ciujung 5 kali pemberangkatan sedangkan KRL ekonomi 7 kali pemberangkatan.Dari Grafik terlihat bahwa jumlah penumpang yang naik di stasion Rawa Buntu dan Serpong berfluktuasi dari bulan ke bulan.Pada tahun 2007 terjadi puncak lonjakan penumpang pada bulan September dan mengalami penurunan sampai jumlah terendah pada bulan Okotober. Seperti diketahui bahwa pada tahun 2007 Hari Raya Idul Fitri jatuh pada pertengahan bulan Oktober.Berbeda dengan stasion Rawa Buntu dan Serpong, jumlah penumpang yang naik di stasiun Cisauk cenderung stabil, tidak ada gejolak jumlah penumpang antar bulan.

 

 

 

 

©2007 BATAN-PTLR