Extended submitting Leaflet AIBPA 14 November 2014, klik di sini!   |   pemgumunan seleksi administratif cpns sudah dapat dilihat pada cpns.batan.go.id atau info lengkap klik di sini!   |   ATOM INDONESIA invites worldwide scientists to send their papers to the 6th annual competition, entitled ATOM INDONESIA BEST PAPER AWARD 2014 (AIBPA 2014), more click here!   |   Seminar Nasional Geologi Nuklir dan Sumber Daya Tambang Tahun 2014, Jakarta 12 November 2014, info lengkap klik di sini Template download!   |   Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Fungsional Pengembangan Teknologi Nuklir IX, Jakarta 5 November 2014, info lengkap klik di sini!
ARTIKEL IPTEK NUKLIR
BEBERAPA MODEL RISIKO TENTANG KEBENARAN BIOLOGIS
-

Risiko pada kesehatan karena dosis radiasi kecil adalah sangat kecil, sehingga tidak ada metode penelitian ilmiah yang dapat membedakannya dari nol

Sejarah mencatat adanya kelompok masyarakat yang pertama terkena radiasi secara intensif dan kemudian penyakit kanker meningkat. Kelompok masyarakat yang paling menonjol adalah masyarakat Jepang yang menjadi korban bom atom tahun 1945. Selama pemboman, lebih dari 200.000 orang meninggal atau cidera, 70.000 orang kehilangan nyawa seketika. Tidak semua korban meninggal karena radiasi; sebagian besar tewas akibat suhu panas yang amat tinggi dan gelombang tekanan udara akibat ledakan dan kebakaran serta bangunan-bangunan yang runtuh. Juga, selama bulan-bulan berikutnya ribuan orang meninggal akibat cedera.

Namun, akhir peristiwanya adalah bahwa kira-kira 100.000 orang yang telah menerima dosis radiasi sangat tinggi tersebut selamat. Selama puluhan tahun berikutnya mereka dimonitor apakah mempunyai gejala kanker. Penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi sedikit peningkatan pada jenis-jenis kanker tertentu. Jenis-jenis kanker yang paling banyak bertambah adalah leukimia, kanker kelenjar gondok, dan kanker payudara. Biasanya kita akan menemukan kira-kira 20.000 kasus kanker di dalam kelompok orang banyak itu. Jumlah kasus tambahan adalah kira-kira puluhan atau ratusan untuk setiap jenis kanker. Peningkatan ini terbukti dalam statistik kanker. Setengah abad telah berlaku sejak pemboman, yang berarti bahwa angka-angka ini tidak akan berubah lagi.

Selain para korban bom atom ada 4 kelompok lain yang menerima dosis radiasi sangat tinggi sehingga bertambahnya kasus kanker telah menarik untuk ditelaah. Kelompok-kelompok ini adalah :

  1. Para dokter spesialis rontgen yang bekerja pada permulaan abad ini sebelum batas dosis yang tepat ditetapkan.
  2. Beberapa kelompok pasien yang dirawat dengan radioterapi (kanker kulit)
  3. Beberapa kelompok penambangan, sebelum dipahami pentingnya ventilasi untuk membuang gas radon (kanker paru-paru)
  4. Sekelompok wanita yang pada permulaaan abad ini bekerja mengecat angka-angka pada jam tangan dengan cat yang mengandung radium. Karena kebiasaan mereka menggunakan bibirnya untuk menghaluskan kuas, akibatnya radium masuk lewat kulit (kanker tulang)

Setelah itu, upaya-upaya dilakukan untuk memperkirakan dosis radiasi yang diterima oleh orang-orang ini (tentu saja mereka tidak menggunakan dosimeter). Saat perkiraan paparan radiasi telah dibuat, dan jumlah kasus kanker tambahan telah diketahui, maka dapatlah kita menduga besarnya risiko yang meningkat terhadap satuan dosis. Ini dikenal sebagai faktor risiko.

Menurut rekomendasi terakhir oleh ICRP, faktor risiko yang dipakai untuk leukimia adalah 0,005 kasus untuk dosis sebesar 1.000 mSv. Faktor risiko untuk kanker payudara yang fatal adalah 0,002 kasus untuk dosis sebesar 1.000 mSv dan untuk kanker gondok adalah 0,0008 kasus untuk dosis sebesar 1.000 mSv.

Yang lebih penting daripada faktor risiko perseorangan tentunya adalah risiko total kanker akibat radiasi apabila kita memprtimbangkan semua jenis kanker yang fatal. Total risiko yang diperoleh dengan menjumlahkan faktor-faktor risiko dari jenis-jenis kanker secara individu. Bagi para pekerja dewasa ICRP merekomendasikan nilai dari 0,04 kasus untuk 1.000 mSv dan untuk seluruh populasi 0,05 kasus untuk 1.000 mSv.

Tepatnya, faktor-faktor risiko itu hanya mewakili kasus-kasus dimana efek-efek merusak dari radiasi telah benar-benar dideteksi. Tidak begitu jelas apakah faktor risiko ini dapat diterapkan pada dosis keci juga. Jika menelan 100 pil tidur dapat mengakibatkan kematian, apakah ini berarti bahwa risiko kematian adalah menjadi 10% jika kita minm 10 pil dan 1% jika kita minum 1 ?

Jika kemungkinan mati karena kanker adalah 0,05 bagi seseorang yang telah menerima dosis 1000 mSv, apakah 100 mSv akan menyebabkan risiko sebesar 0,005; apakah 10 mSv risikonya 0.0005 dan apakah risiko 1 mSv menjadi 0,00005? Atau apakah terdapat nilai ambang, dimana di bawahnya tidak ada peningkatan risiko sama sekali ? Apakah radiasi dengan jumlah sedikit dapat menyehatkan? Karena tidak ada pengamatan yang pasti, semua model ini mempunyai pendukungnya masing-masing.

Berikut kita akan membahas 5 model risiko yang berbeda. Nama model-model ini indah-indah dan juga tidak mudah untuk dimengerti/dipahami. Karena itu sebaiknya kita meluangkan beberapa menit untuk mempelajari sehingga kita dapat mengenalnya ketika kita membaca atau mendengar tentang pendugaan dari risiko radiasi.

Suatu model risiko terdiri atas sumbu datar dan tegak. Sumbu datar mewakili dosis radiasi dan sumbu tegak menggambarkan risikonya. Sebuah garis lurus atau kurva (ahli matematik menyebutkan grafik) menunjukkan bagaimana risiko tergantung pada dosis.

Dalam analisis keselamatan dan dalam proteksi radiasi, model yang digunakan adalah model risiko linier. Fungsi yang menjelaskan risiko melewati suatu titik yang telah diketahui, misalnya, dosis = 1000 mSv, risiko = 0,05. Dari titik ini kita menggambar garis lurus ke titik dosis = 0, risiko = 0 (perpotongan dua sumbu). Ini memberikan kita gambaran suatu model, dimana suatu dosis tertentu selalu meningkatkan risiko dalam jumlah yang sama, juga dalam area dosis kecil, diman kita tidak dapat mendeteksi pengaruh yang merusak.

Model resiko linier digunakan, misalnya, untuk menaksir keuntungan bersih dari pemeriksaan sinar-X kolektif. Prinsipnya adalah sbb : kita asumsikan bahwa 1.000.000 orang diundang untuk pemeriksaan tahunan, dan dalam pemeriksaan ini setiap orang diekspos dosis sebesar 1 mSv. Menurut model risiko linier , risiko kanker untuk 1 mSv adalah 0,00005. Berdasarkan model ini, pemeriksaan sinar-X kolektif akan menyebabkan 1.000.000 x 0,00005 kasus kanker yang fatal = 50 kasus setiap tahunnya. Karena model linier menaksirkan risiko terlalu tinggi, maka hasilnya kemungkinan adalah paling buruk. Sebaliknya, karen pemeriksaan tahunan ini mengungkap sekitar 2500 kasus kanker pada tahap awalnya, pemeriksaan sinar-X kolektif sudah pasti dapat dibenarkan.

Walaupun ICRP merekomendasikan bahwa model linier seharusnya digunakan dalam analisis keselamatan. ICRP menyatakan pula bahwa fungsi risiko yang menjelaskan kebenaran biologis tidak berbentuk garis lurus, tetapi lebih seperti kurva. Dengan dosis kecl bentuk kurva tidak terlalu curam. Semakin dosis bertambah, fungsi akan menjadi semakin curam. Model ini diketahui sebagai model risiko kuadratik linier. Uji radiasi yang dilakukan pada tanaman dan hewan mendukung model ini. Model ini juga yang paling sering didukung oleh penelitian-penelitian teori.

Beberapa penelitian bahkan melangkahkan lebih lanjut lagi. Mereka menganggap bahwa risiko karena dosis kecil adalah benar-benar nol, bukan hampir nol. Model risiko ini dikenal sebagai model nilai ambang : dosis kecil tidak merupakan risiko sama sekali; dosis melebihi batas toleransi tertentu adalah bebahaya. Para pendukung model ini memilik kenyakinan kuat atas kemampuan penyembuhan jaringan, sel dan molekul tubuh. Argumentasinya adalah bahwa penyakit kanker tidak umum di wilayah yang radiasi latar belakangnya beberapa kali lebih tinggi dari rata-rata. Lebih-lebih, mereka menyatakan bahwa, kecuali mekanisme pertahanan tubuh dapat menghancurkan sel-sel kanker, cepat atau lambat, pada setiap orang penyakit kanker atau timbul, karena kita memiliki ratusan sel kanker dalam tubuh. Namun demikian, kita tidak mungkin menetapkan suatau nilai ambang, karena begitu banyak kasus kanker alami, yang bercampur dalam penelitian ini.

Beberapa penelitian menolak sama sekali pandangaa ini. Mereka tetap berpendapat bahwa dosis radiasi kecil relatif lebih berbahaya daripada yang besar. Model ini dikenal sebagai model over-linear. Namun, sulit untuk menemukan dukungan untuk model ini.

Sebuah bukti menyakinkan untuk menentang model ini adalah bahwa perbedaan-perbedaan yang besar dalam radiasi latar belakang alami tidak mempunyai pengaruh-pengaruh penting pada kesehatan penduduk. Menurut model ini, dosis ekstra yang diberikan pada penduduk di wilayah yang menerima dosis rendah akan menyebabkan pengaruh-pengaruh yang sangat kuat daripada bila diberikan kepada penduduk di wilayah yang menerima dosis tinggi. Ini artinya bahwa variasi-variasi dalam radiasi latar belakang dapat membahayakan. Tetapi nyatanya tidak demikian.

Model kelima adalah model hormosis. Pengaruh hormosis ini mengacu pada suatu keadaan yang cocok untuk beberapa zat : jumlah besar dapat menjadi racun, jumlah kecil bermanfaat.

Litium, kadmium, selenium dalam dosis besar adalah racun yang mematikan. Tetapi tubuh membutuhkan sejumlah kecil zat tersebut agar tetap sehat. Dosis sinar ultraviolet yang sangat besar dari matahari akan membakar seseorang sampai mati, tetapi tubuh kita menderita bila tidak mendapatkan sinar matahari sama sekali. Kelebihan dosis obat-obatan adalah fatal.

Para pendukung model hormesis bersikeras bahwa mereka telah membuktikan pengaruh hormesis dapat juga diterapkan untuk radiasi. Selam uji yang dilakukan pda hewan, apabila radiasi latar belakang dihalangi secara total, hewan-hewan itu pada akhirnya akan jatuh sakit. Apabila tanaman dan hewan diradiasikan, mereka berkembang lebih cepat dan menjadi lebih sehat daripada yang tidak diberi radiasi. Para pendukung model ini menyatakan, orang-orang yang tinggal didaerah pegunungan dengan tingkat radiasi tinggi lebih sedikit yang berpenyakitan kanker daripada yang tidak tinggal didaerah pegunungan.

Para peneliti yang bekerja dibidang radiasi biologi belum mencapai kata sepakat tentang model risiko yang benar. Sedangkan para pakar saj abelum tahu, bagaimana orang-orang awam mengetahuinya?

Mereka tidak tahu, bahkan sebenarnya tidak perlu tahu. Cukuplah bila kita menyadari arti ketidaktahuan. Jika mungkin untuk mengatakan nilai faktor risiko yang sebenarnya untuk dosis kecil berdasarkan observasi, risikonya seharusnya lebih tinggi daripada yang sebenarnya. Dalam hal ini, ketidaktahuan, adalah hal yang positif.

Risiko pada kesehatan akibat dosis radiasi rendah adalah sangat kecil, sehingga tidak ada metode penelitian ilmiah yang dapat membedakannya dari nol

Last Modified : 27 June 2012 - 14:56:30 by PPIN BATAN